Diskursus Corner

Perempuan, Influencer dan Changemaking 2.0: Ngobrol Bersama Alumni Universitas Sussex

Perempuan, Influencer dan Changemaking 2.0: Ngobrol Bersama Alumni Universitas Sussex

Selasa, 17 Desember 2024, Forum Perempuan Filsafat berkolaborasi dengan Diskursus Institute menggelar diskusi yang membahas tentang Welcome to Changemaking 2.0 ‘Authencity Online: Becoming Influencers of Change’.

Agenda ini juga di-sengkuyung oleh Pusat Kajian Filsafat dan Teologi (PKFT) Tulungagung serta Gusdurian Bonorowo Tulungagung.

Pembicara kali ini bernama Avril E. Murillo G.—panggilan akrabnya Ename—yang merupakan alumni program magister University of Sussex, Brighton, United Kingdom di bidang Gender dan Media.  Ia berasal dari negara Bolivia, Amerika Selatan.

Diskusi menarik ini bertempat di Gulung Tukar Haus (Gutu Haus). Ruang kreatif komunitas Tulungagung yang berlokasi di wilayah Desa Serut, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung.

Dian Kurnia Sari, Direktur Forum Perempuan Filsafat, memberikan opening speech yang berkaitan dengan diskursus terkait perempuan dalam struktur sosial. Selepasnya, Ename menjelaskan pandangannya tentang tema yang diangkat dengan bantuan Yoga—sahabatnya yang berasal dari Tulungagung—sebagai penerjemahnya.

Di tengah berjalannya diskusi, tampil juga Zara yang merupakan anak difabel dan membawakan special perform dengan menyanyikan sebuah lagu menyentuh.

Tampil dengan pembawaan yang ceria, Ename mengungkap bahwa media sosial merupakan alat yang mampu mengubah dunia.

Ia juga memberikan pandangan bahwa, alih-alih media sosial menjadikan diri yang insecure, justru media sosial juga berpeluang besar untuk menegaskan diri sendiri yang autentik, yang salah satunya dengan menjadi influencer.

Selanjutnya, ia juga berpendapat bahwa influencer bukan hanya orang yang piawai dalam berswafoto, ahli dalam pemasaran suatu produk ataupun yang memiliki banyak jumlah like, comment, pun share.

Namun menurutnya, influencer itu sesungguhnya berkaitan dengan kemampuan untuk memberikan dampak secara interpersonal sekecil apa pun itu.

Ename menekankan, bahwa sejatinya setiap orang itu bisa menjadi influencer, bahkan tanpa melalui media sosial sekalipun.

Sebab titik tekannya bukan “media sosial” melainkan “pengaruh.” Manusia bisa menjadi sangat berpengaruh dilihat dari sepak terjang, kiprah maupun pemikirannya.

Berbekal pengalaman personal dan karier profesinya sebagai presenter, Ename merasakan bahwa pekerjaan yang sedang ia jalani justru mengikis jati dirinya.

Ia juga merasa bahwa dirinya menjadi semacam “obyektivikasi pasar.” Suatu kondisi yang mewajibkan perempuan untuk senantiasa berias diri sebaik mungkin dan memakai pakaian yang dianggap keren oleh kehendak pasar.

Alhasil dirinya terbelenggu oleh standarisasi kecantikan yang membuatnya tidak bebas.

Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan di Bolivia yang seringkali perempuan hanya dijadikan obyek pemuas semata; seperti banyak lagu-lagu dan video yang menggambarkan bentuk tubuh dan fisik perempuan yang hanya dinikmati keindahannya.

Lebih parahnya lagi, fenomena tersebut telah dinormalisasi dan mengakar ke ­common sense masyarakat Bolivia sejak lama.

Hal inilah yang menggugah mindset Ename untuk memberikan perlawanan terhadap kondisi demikian.

Sebab ia menilai bahwa padangan demikian bias gender. Bagaimana bisa perempuan dibelenggu oleh standar kecantikan dan kehendak pasar?

“Influencer itu sesungguhnya berkaitan dengan kemampuan untuk memberikan dampak secara interpersonal sekecil apa pun itu.”

Pemikiran dan pandangannya kemudian terbuka semenjak dirinya mengikuti kursus bahasa Inggris di Selandia Baru.

Di sana ia menemukan pola keberagaman dan karakteristik kebudayaan yang bermacam-macam.

Sejak di Selandia Baru itu, ia kemudian memiliki pandangan bahwa tidak ada yang salah dengan menjadi berbeda.

Meskipun itu berarti warna kulit yang lebih gelap ataupun bentuk tubuh yang lebih gemuk. Itu adalah hal yang sepantasnya tidak menjadi masalah.

Menurutnya, semenjak adanya media sosial kita tidak melulu menjadi konsumen, tetapi kita juga menjadi produsen; dengan kebebasan yang ditawarkan oleh media sosial, maka semua orang punya panggung.

Ename kemudian membuat semacam platform yang bernama ‘revolucionename’ yang dulunya hanya 15 orang kini telah mencapai 17.600 ribu orang yang turut berada di barisannya.

“Jangan takut gagal, gagal bukan berarti kalah; kalah adalah ketika kita tidak berani untuk mencoba,” ujarnya mengutarakan prinsip.

Dia juga menekankan bahwa hal-hal kecil namun ‘powerfully’ dan disertai konsistensi diri akan mampu menggerakkan hati dan pandangan masyarakat untuk menjadi pribadi yang berpengaruh baik bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Dirinya dulu juga pernah mendapatkan ujaran kebencian dan kritik pedas di akun media sosialnya, yang justru membuat dirinya bangkit; meskipun sebelumnya hal itu pernah menyakiti hatinya.

Dalam kondisi demikian, ia memutuskan untuk sejenak tidak membuka media sosial, setidaknya untuk memberikan jeda dan ketenangan jiwa yang sedang terluka akibat komentar pedas yang menghampirinya.

Di samping itu, ia juga menolak keras dengan konten-konten yang menunjukkan kehidupan yang sempurna dan serba ada; karena hal itu akan membuatnya bias terhadap totalitas realita yang sedang dijalani saat ini.

Menjadi influencer juga berarti menunjukkan jati diri kita senatural mungkin, dan itu bisa dimulai dengan mencari algoritma positif di media sosial kita.

Forum yang hangat, komunikatif dan terbuka ini berakhir pada pukul 22.30 WIB. Ada proses tanya jawab yang menarik dan melibatkan peserta online maupun offline yang menyimak forum tersebut.

Sebelum diskusi diakhiri, Zara kembali membawakan nyanyian penuh makna dengan judul ‘loneliness’ karya Putri Ariani.

Akhir dari diskusi ini ditutup dengan foto bersama dan penempelan sticky notes tentang penerimaan diri, keberanian dan penolakan terhadap standarisasi kecantikan serta stereotip perempuan. []

Share this post

Muzakki Al-Habibi
About the author

Penulis adalah santri di Pusat Kajian Filsafat dan Teologi (PKFT) Tulungagung