Sudut Pandang

Lingga-Yoni: Filosofi, dan Animal Symbolicum

Lingga-Yoni: Filosofi, dan Animal Symbolicum

Apa yang terbesit di benak Anda ketika melihat gambar dari lingga-yoni? Barangkali ada sebagian dari Anda yang menganggap bahwa hal itu merupakan sebatas peninggalan kebudayaan biasa saja. Atau bagi yang awam barangkali menganggapnya sebagai sebatas batu biasa.

Yang lebih miris, saya bahkan sempat menemui sebuah yoni yang terletak di halaman kecamatan salah satu kota di Jawa Timur yang dibiarkan begitu saja; di samping tancapan tiang bendera. Padahal lingga-yoni merupakan simbolisasi penting yang bukan sekadar representasi dari agama tertentu, tapi juga filosofi kehidupan yang sarat dengan makna.

Lingga-yoni merupakan simbolisasi yang identik dengan Dewa Siwa-Sakti. Umat Hindu menjadikan lingga-yoni sebagai perantara yang profan dan sakral. Tak hanya itu, masyarakat Hindu melihat lingga-yoni sebagai manifestasi kebenaran sekaligus keindahan tertinggi; perkawinan agama dan filsafat dalam bentuk ikon yang mewakili pengertian tertentu (Sedyawati, 1994).

Lingga merujuk simbolisasi kelamin laki-laki (phallus), patung dewa, titik tugu pemujan serta poros atau sumbu, dan maskulinitas. Sedangkan yoni merepresentasikan rahim, tempat lahir, asal brahmana, daita, dewa, garbha, naga, raksasa, sarwa, sarwa bata, sudra, siwa, widyadhara, dan ayonia (Zoetmulder & Robson, 2000).

Clifford Geertz (1992) dalam konteks ini menyebut bahwa simbolisasi sebagai rumusan atau abstraksi dari pengalaman indrawi, gagasan termasuk di dalamnya termaktub sebuah keyakinan. Di dalam sistem simbol itu termuat berbagai informasi ekstrinsik; buah dari interaksi tak hanya individu melainkan juga kebudayaan tertentu. Dengan demikian, lingga-yoni sebagai sebuah simbolisasi, tentu saja menyipratkan berbagai makna tak hanya ekspresi kebudayaan atau keyakinan melainkan juga keindahan dan keseimbangan atas dualitas kehidupan.

Secara historis, keberadaan lingga sesungguhnya sudah melampaui masa yang panjang. Sejarah mencatat bahwa pada masa 500 atau 200 SM, lingga menjadi sebuah simbol kesuburan yang diperlihatkan pada peradaban lembah Indus. Begitupun di Bali, ada jejak sejarah yang mengindikasikan bahwa pada zaman lampau pernah ada sekte dalam agama Hindu bernama Pasupati yang menggunakan lingga dalam pemujaannya (I Nyoman Temon Astawa & Suwadnyana, 2020).

Dalam masyarakat Indonesia modern, simbolisasi lingga-yoni juga dijadikan dalam bentuk tugu Monumen Nasional (Monas). Tugu setinggi seratus tiga puluh dua meter yang dibangun oleh Soekarno untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan itu dirancang dan dibangun dengan konsep khusus dengan merujuk pada visualisasi universal lingga-yoni.

Bahkan saya juga curiga, pemilihan rancang-bangun Monas yang memilih berbentuk tugu itu bukan sekadar asal pilih. Sebab dalam tradisi kosmologi Jawa, kata “tu” atau “to” merujuk pada “Realitas Tertinggi” atau kekuatan adikodrati. Misalnya seperti tu-ngkub (punden), tu-nda (punden berundak), to (roh penjaga), tu-ban (air terjun), tu-k (mata air), tu-rumbukan, (pohon beringin), wa-tu (batu), tu-gu, tu-mbak (jenis lembing), to-san (pusaka), dll. (Agus Sunyoto, 2018).

Sebagai presiden sekaligus intelektual yang gemar menggali filosofi dari tradisi-kebudayaan Jawa, apa yang dilakukan oleh Bung Karno memang tidak aneh lagi. Dalam kesempatan yang lain, saya akan ulas lebih jauh lagi terkait itu.

Konsepsi manusia modern tentang sebuah simbol sesungguhnya juga telah mengalami reduksi. Alih-alih memaknai secara kritis-mendalam arti (tersirat) dan visual dari sebuah simbol, mereka justru terburu nafsu terjebak pada pemaknaan yang boleh jadi belum tentu benar.

Dalam sudut pandang yang lebih luas, bapak psiko-analisa Sigmund Freud dalam Totem and Taboo (2001), meyinggung beberapa kebudayaan dalam masyarakat Jawa yang berusaha mengaktualisasikan nilai-nilai seksualitas dalam simbolitas yang lebih aplikatif. Mereka melakukan hubungan seks di area persawahan dengan keyakinan bahwa praktik semacam ini akan melahirkan tanah yang subur serta menghasilkan tanaman yang baik di kemudian hari. Dengan demikian, peran simbolisasi kesuburan pada ranah seksual juga diaplikasikan ke dalam aspek yang lebih kultural dan material.

Lebih lanjut, dalam konteks sastra Jawa, simbolitas lingga-yoni juga muncul salah satunya dalam Serat Gatholoco. Serat ini merupakan karya sastra Jawa anonim yang muncul pada awal abad 19 di zaman Mataram Surakarta. Meski disampaikan dengan sangat vulgar, akan tetapi pada dasarnya karya ini menyipratkan pesan universal tentang asal-muasal (the origin) manusia.

Proses seksualitas, adalah proses pematangan agar atma (bibit kehidupan) benar-benar dibungkus oleh badan halus (suksma) dan badan fisik (sthula) di dalam kandungan seorang perempuan selama rentang waktu sembilan bulan sepuluh hari. Nama Gatholoco (gatho; penis dan loco; dikocok) mungkin memang sangat tabu, tapi dari Gatholoco-lah seluruh kehidupan tercipta. Maka sesungguhnya benar apa yang dikatakan Gatholoco, bahwa nama yang dipakainya adalah nama “Rahasia Yang Mulia.”

Dengan demikian, konsepsi manusia modern tentang sebuah simbol sesungguhnya juga telah mengalami reduksi. Alih-alih memaknai secara kritis-mendalam arti (tersirat) dan visual dari sebuah simbol, mereka justru terburu nafsu terjebak pada pemaknaan yang boleh jadi belum tentu benar.

Hal itu selaras dengan argumen Ernst Cassirer tentang manusia, alam dan simbol. Filsuf yang hidup pada masa pertengahan abad ke 20 dari Jerman dan ahli filsafat simbol itu, mengatakan bahwa kesadaran manusia atas realitas fisik itu tak berbanding lurus dengan kemajuan aktivitas simboliknya. Manusia banyak terjebak pada linguistic forms, dan bentuk visual artistik yang terdapat dalam simbol mitologi atau ritus keagamaan.

Sehingga ia tidak bisa melihat atau mengetahui (esensi) apa pun dari apa yang diamati dan dipahaminya. Maka definisi klasik bahwa manusia adalah animal rationale harus direvisi menjadi animal symbolicum. Sebab bahasa bukanlah produk dari pemikiran atau ide belaka. “Language is feelings and affections,” kata Ernst Cassirer dalam An Essay on Man: An Introduction to a Philosophy of Human Nature (1954).

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa lingga-yoni tak hanya sebatas simbolisasi dari seksualitas atau maskulinitas dan femininitas. Ia merepresentasikan sebuah keindahan, kesempurnaan, dan tentu saja ekspresi dari realitas suatu peradaban yang di baliknya menyimpan banyak makna bagi kehidupan. []

Share this post

Saikhul Bahaudin
About the author

Penulis adalah mahasiswa pascasarjana dan peneliti di Diskursus Institute.