Sunan Bayat, atau dikenal juga sebagai Sunan Tembayat, adalah ulama penyebar agama Islam di wilayah Semarang, Salatiga, Boyolali, hingga Klaten.
Afifi (2024), dalam salah satu podcast-nya, menjuluki tokoh ini sebagai Wali Tututan; wali yang meneruskan atau menggantikan peran para Wali sebelumnya yang dikenal sebagai Wali Songo.
Sunan Bayat memiliki nama lain seperti Ki Ageng Pandanaran, Susuhunan Tembayat, dan Adipati Mangkubumi. Ia diyakini hidup pada masa Kerajaan Demak abad ke-15 dan merupakan putra dari Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama Semarang (Burhanuddin & Fida (2021).
Menurut Argadia (2020), Sunan Bayat juga dikenal sebagai seorang saudagar kaya dan menjabat sebagai Bupati Semarang. Dalam kisah spiritualnya, ia bertemu Sunan Kalijaga yang menyamar sebagai penjual rumput pada saat itu.
Karena terkesan dengan kepribadian Sunan Kalijaga, Ki Ageng memutuskan untuk berguru dan akhirnya memeluk Islam. Setelah melalui proses pembelajaran, ia diberi gelar “Sunan Bayat” sebagai bentuk pengakuan atas pencapaiannya dalam jalan spiritual Islam.
Perjalanan Spiritual Sunan Pandanaran
Awalnya, Sunan Pandanaran adalah seorang adipati kaya dan memiliki kedudukan tinggi. Namun, ia mengalami transformasi spiritual setelah bertemu dengan Sunan Kalijaga.
Perubahan dari seorang bangsawan yang cinta dunia menjadi seorang sufi yang zuhud (hidup sederhana) adalah inti dari perjalanan tasawufnya.
Dalam langkahnya, Sunan Bayat menjalankan konsep suluk atau yang disebut proses lelana brata dan tapa brata yang menjadi bagian integral perjalanan spiritual seorang individu untuk bertransformasi dari keadaan material menuju dimensi spiritual yang lebih tinggi.
Dalam konteks spiritual, Nasr (2000) menjelaskan bahwa suluk adalah metode introspeksi dan latihan jiwa melalui ibadah, khalwat (menyepi), dan disiplin ruhani yang ketat, demi mencapai maqam (tingkatan spiritual) tertentu.
Perjalanan spiritual Sunan Pandanaran memberikan esensi bahwa seseorang yang menempuh diri di jalan intelektual dan kepercayaan senantiasa harus menghadapi keteguhan hati dari segala tantangan dan cobaan yang mana menjadi representasi seorang sufi.
Konsep Zuhud dan Tarekat
Setelah dibimbing Sunan Kalijaga, Sunan Pandanaran meninggalkan segala bentuk kemewahan dan memilih hidup dalam zuhud — kesadaran spiritual untuk tidak terikat dengan duniawi.
Hal ini sejalan dengan ajaran Imam Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulumuddin, ia menyatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan dunia untuk memperoleh akhirat.
Begitu juga dengan Imam Ahmad bin Hanbal yang menegaskan bahwa zuhud berarti berpaling dari dunia karena kehinaannya dan takut akan hisab serta siksa.
Dalam satu literatur, Sunan Pandanaran diyakini mengikuti ajaran Tarekat Qadiriyah atau cabang tasawuf lainnya yang berkembang di Nusantara kala itu (Masyhuri, 2017).
Sebagai seorang sufi, Sunan Pandanaran menggunakan pendekatan mistis dalam dakwahnya.
Ia menyebarkan Islam dengan kearifan lokal, memadukan unsur budaya Jawa dengan ajaran tasawuf, sehingga Islam lebih mudah diterima masyarakat.
Beberapa ajarannya menekankan konsep makrifat (pengetahuan spiritual tentang Allah), sabar, syukur, dan tawakal dalam menjalani hidup.
Simbolisme dan Makna Suluk dalam Perjalanan Sunan Bayat
Perjalanan Sunan Pandanaran dari Semarang ke Bayat adalah simbol dari perjalanan spiritual seorang sufi.
Dalam perjalanan ini, ia melewati berbagai ujian yang menguatkan iman dan maqam-nya.
Makamnya di Gunung Jabalkat, Bayat, Klaten, menjadi bukti jejak spiritual tersebut dan masih menjadi tempat ziarah hingga kini.
Dalam konteks tasawuf, perjalanan tersebut adalah contoh dari transformasi spiritual seorang hamba menuju makrifatullah, yaitu pengenalan hakiki terhadap Allah SWT (Bagir, 2021).
Sunan Bayat tidak hanya mengajarkan ajaran Islam, tetapi juga membawa pendekatan mistik yang lembut, penuh kearifan lokal, dan menyatu dengan budaya Jawa.
Sunan Bayat adalah contoh nyata dari sosok sufi yang mengalami transformasi dari kehidupan duniawi menuju kehidupan sufistik.
Melalui praktik zuhud, suluk, dan dakwah berbasis budaya, ia menyebarkan Islam dengan cara damai dan bijak.
Ia mewariskan nilai-nilai spiritual yang relevan hingga kini: kesederhanaan, pengendalian diri, dan pencarian hakikat hidup. []
