Selasa, 12 November 2024, “Diskursus Corner” kembali memberikan nutrisi nalar melalui seri bedah tesis yang bertemakan Problem Epistemik Relasi Sains dan Islam: Telaah Pemikiran Nidhal Guessoum dalam Perspektif Realisme Kritis. Tesis ini merupakan hasil penelitian dari Khoirul Fata saat menempuh pendidikan magister filsafat.
Forum kali ini bertempat di Loka Cafe, Ds. Plosokandang, Kec. Kedungwaru, Kab. Tulungagung. Di saat bersamaan, forum in berhasil menarik perhatian mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung untuk turut serta berdiskusi dan larut dalam dialektika.
Sebagai pancingan awal, Fata—sapaan Khoirul Fata—memaparkan bahwa Nidhal Guessoum merupakan salah satu sosok mujadid yang pemikirannya tertuju pada hubungan ideal antara science and religion.
Hubungan ideal sebagaimana yang dimaksud oleh Fata adalah bagaimana ikhtiar Guessoum dalam mendialogkan antara sains dan Islam karena terdapat banyak silang sengkarut perspektif selama ini.
Fata mengungkapkan bahwa kerancuan tersebut merupakan problem epistemik yang terletak pada adagium ‘Al-Qur’an shalih li kulli zaman wa makan.’ Fata melempar pertanyaan menukik, apakah Al-Qur’an sudah mampu menjawab segala sesuatu?
Dalam hal ini, ia menguraikan pandangan Guessoum bahwa sains merupakan suatu informasi yang telah diolah menjadi sesuatu yang dapat dipraktikkan.
Pada sisi lain, Guessoum juga terinspirasi oleh Ibn Rusyd tentang persinggungan filsafat dan agama serta perdebatan umum dalam sains dan agama saat ini; teori penciptaan semesta, evolusi, hingga neurosains.
Baca juga esai lain Khoirul Fata
Melalui inspirasi serta perdebatan yang ada, Fata mengungkapkan bahwa posisi sains dan agama melalui dual kombinasi tersebut setidaknya menghasilkan dua pandangan yang saling terintegrasi.
Pertama, menempatkan sains dalam kerangka naturalisme metodologis dan kedua, Al-Qur’an harus dipahami secara scientific exegesis. Melalui dua pandangan ini, setidaknya mampu memberikan titik terang yang menegaskan idealitas relasi antara sains dan Islam.
Bersamaan dengan itu, Fata juga menganalisa bahwa pandangan tentang kemunduran Muslim saat ini cenderung disebabkan pada faktor epistemik dalam dimensi qur’anic itu sendiri.
Dalam faktor tersebut, Fata menyederhanakan pandangan Guessoum bahwa meskipun kebenaran Al-Qur’an selalu sesuai di tiap waktu dan tempat, tetapi Al-Qur’an sendiri yang sebagai sumber kebenaran Islam tidak memiliki petunjuk lengkap dalam memahami dunia alamiah.
Sebagaimana konteks di atas, Guessoum menempatkan sains dalam posisi metodologisnya untuk memahami dunia alamiah, mengingat bahwa Al-Qur’an bukan semacam ensiklopedia sains.
Berdasarkan uraian di atas, Guessoum mencontohkan bahwa posisi Adam dan Hawa dalam teks Al-Qur’an harus dipandang sebagai metafora. Hal tersebut dikarenakan bukti ilmiah terkait evolusi cenderung memiliki dasar saintifik yang lebih kuat, daripada dasar qur’anic yang ada.
“Alih-alih melemahkan agama terhadap perkembangan sains hingga saat ini, Guessoum justru tetap menjunjung tinggi Al-Qur’an dengan menawarkan metode scientific exegesis bercorak pluralisme interpretatif.”
“Alih-alih melemahkan agama terhadap perkembangan sains hingga saat ini, Guessoum justru tetap menjunjung tinggi Al-Qur’an dengan menawarkan metode scientific exegesis bercorak pluralisme interpretatif,” ungkap Fata.
Tawaran yang demikian setidaknya memungkinkan untuk mengungkap potensi-potensi makna teks Al-Qur’an yang sejalan dengan temuan sains.
“Sebagaimana Ibnu Rusyd yang kala itu menawarkan model pandangan yang bersifat non-konflik antara filsafat dan agama,” lanjut Fata.
Oleh karenanya, Fata menitikberatkan bahwa sains dan agama merupakan dua unsur yang mampu berjalan bersama dalam mengoptimalkan pengetahuan maupun keilmuan yang ada.
Di samping itu, Fata juga menggarisbawahi bahwa sesungguhnya sains dan agama bukanlah dua unsur vis a vis yang deterministik.
“Baik sains ataupun agama, mereka punya kebenarannya masing-masing. Sangat disayangkan jika pertentangan dua unsur ini tak kunjung padam, sebagai mahasiswa yang menempuh pendidikan tinggi di UIN dan saya sendiri juga termasuk pada bagian itu, sudah seharusnya kita mampu memberikan solusi dan integrasi yang satu langkah lebih maju,” jlentreh Fata panjang.
Forum yang sarat dengan pengetahuan dan dialektika ini berlangsung begitu romantis, hingga tak terasa bahwa waktu menunjukkan pukul 22.15 WIB.
Momen akhir diskusi ini dikemas dengan sesi tanya jawab dengan antusias dari segenap peserta yang hadir saat itu.[]
