Diskursus Corner

Seri Bedah Tesis Ketiga: Tentang Religiusitas dan Penerimaan Diri Anak Berkebutuhan Khusus

Seri Bedah Tesis Ketiga: Tentang Religiusitas dan Penerimaan Diri Anak Berkebutuhan Khusus

Senin, 21 Oktober 2024, “Diskursus Corner” kembali digelar untuk ketiga kalinya dalam seri bedah tesis. Pertemuan kali ini mengambil tema “Anak Berkebutuhan Khusus: Tentang Eksplorasi Religiusitas dan Bagaimana Cara Pola Asuhnya” yang disampaikan oleh M. Saikhul Bahaudin, S. Psi. M. Ag.—Peneliti Diskursus Institute & Terapis Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).  

Kongkow ini kembali digelar di Warung Kopi Rumah Kacang, Ds. Tanjungsari, Kec. Kedungwaru, Kab. Tulungagung. Seri bedah tesis ketiga ini cukup banyak menyedot animo dari berbagai mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dari berbagai latar belakang yang beragam.

Sesi awal dalam diskusi ini, Saikhul menyampaikan tentang latar belakang risetnya, mulai dari alasan mengambil isu sampai dengan pendekatan fenomenologi yang dipakainya.

Dalam pemaparannya, ia menyampaikan bahwa banyak orang tua yang menggantungkan harapan besar pada anaknya. Kemudian harapan itu tiba-tiba runtuh manakala orang tua tahu bahwa anaknya berkebutuhan khusus.

Hal demikian salah satunya yang menjadi kegelisahan Saikhul untuk mengkaji fenomena tersebut lebih jauh. Lebih lanjut, menurut pria kelahiran Blitar ini, ABK umumnya dipahami sebagai “difabel”, “penyintas” atau “anak peri”.

Padahal, ABK memiliki banyak kategori istilah, seperti down sindrome, autisme, maupun hidrosefalus.

Dalam hal ini akan dijumpai autism spectrum disorder (ASD), seorang anak yang terlihat biasa tapi ketika diajak bicara tidak paham apa-apa. Anak dengan gangguan ini seringkali dijumpai di berbagai tempat.

Saikhul kemudian “mengawinkan” fenomena tersebut dengan aspek religiusitas dan penerimaan orang tua.

Meskipun religiusitas seringkali dianggap suatu gangguan yang memberikan ketenangan, akan tetapi di sisi lain memberikan efek yang berbeda; nilai yang ada dalam keagamaan dapat menurunkan tingkat stres yang dialami oleh seseorang.

Dalam analisa Saikhul, ada beberapa pengalaman religiusitas yang ternyata dialami sendiri oleh orang tua yang memiliki anak ABK. Mereka cenderung memasrahkan kondisi tersebut kepada Tuhan.

Dari sini tampak bagaimana religiusitas mempengaruhi kondisi tertentu seseorang. Saikhul menegaskan bahwa basic risetnya ini diilhami oleh hal tersebut, dari pengalamannya sebagai praktisi.

Sebagai orang tua—menurut Saikhul—penting untuk mempelajari tahap perkembangan anak.

“Kenapa kita atau orang tua penting mempelajari tahapan perkembangan anak hingga deteksi dini tumbuh kembang?

Karena itu semacam bisa buat cheat bagi kita, misalkan kita umur 20-an akan mengetahui umumnya mengalami quarter life crisis. Deteksi dini tumbuh kembangnya bisa lebih disiapkan,” papar Saikhul.

Dalam konteks perkembangan anak di era digital, muncul pertanyaan dari Kowim—salah satu audiens Diskursus Corner. Menurutnya apakah kenaikan angka penyandang disabilitas itu setali tiga uang dengan konsumsi teknologi kita sehari-hari?

Saikhul—alumn S-1 Psikologi Islam UIN SATU Tulungagung ini menanggapi bahwa apa pun yang bersifat perubahan dan bukan hanya teknologi pasti memberikan efek baik positif maupun negatif.

Contoh kecil adalah apa yang dialami oleh beberapa orang tua yang menghadapi anaknya ketika menangis. Sekarang banyak fenomenanya orang tua menenangkan anaknya yang menangis dengan menyuguhkan video Youtube.

Lain hal, Saikhul menekankan bahwa urgensi riset ini berlaku sebagai wacana penyadaran, sekaligus ruang saling tukar pengalaman. Baginya, pembicaraan hanya akan selesai pada bahasa belaka, tetapi praktik langsung akan memberi kesadaran dan dorongan moral yang cukup kuat.

Perjumpaan tak terasa berlangsung begitu cepat, hingga pukul menunjukkan 22.00 WIB. Di tahap terakhir kegiatan dibuka dengan tanya jawab. Diskusi berjalan dengan lancar dengan antusias para audian dalam melontarkan berbagai pertanyaan. []

Share this post

About the author

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah dan santri di Pusat Kajian Filsafat dan Teologi (PKFT) Tulungagung