Barangkali sebagian orang dalam benaknya menganggap bahwa hantu adalah sosok yang menyeramkan dan menakutkan sebagaimana yang digambarkan dalam film horor. Namun hal demikian tidak terjadi bagi seorang antropolog maupun sosiolog.
Salah satunya adalah Martyn Hudson. Sosiolog dari Northumbria University ini dalam bukunya, Ghosts, Landscapes and Social Memory (2017) secara ciamik menyoal bagaimana “hantu” sebagai entitas supranatural bertransformasi dalam bentuk ingatan sosial yang membungkus imajinasi konstruktif atas realitas yang seolah-olah positivis belaka.
Hudson memandang bahwa narasi hantu yang telah menjadi bagian dari ingatan kolektif, turut andil dalam merawat ingatan masyarakat tentang tempat-tempat dan peristiwa bermakna dalam sejarah sosialnya. Dan itu semua hasil dari imajinasi konstruktif atas realitas.
Berlainan dengan hal itu, Clifford Geertz (2013) memberi nuansa lain atas pemaknaan soal hantu. Baginya, hantu atau yang disebutkannya sebagai “memedi-lelembut-demit” bukan hanya tentang roh atau makhluk astral semata, melainkan memiliki peran masing-masing dalam kosmologi masyarakat Jawa.
Menurut Geertz, hantu memiliki berbagai macam jenis; ada yang bertugas menjadi pelindung, menakut-nakuti maupun sekadar menebar kejahilan. Dalam kaitan kebatinan, hal demikian juga berdampak langsung pada aspek mental maupun imajinasi spiritual manusia Jawa.
Imajinasi konstruksi realitas—sebut saja demikian—merupakan pengalaman masa lalu yang dihadirkan pada kenyataan saat ini. Itu diperkuat oleh eksternalisasi sosok hantu yang berkembang di lingkungan di mana ia tinggal.
Secara sosiologis, bunyi atau suara, menjadi batas antara realitas dan imajinasi atau yang “nyata” dan “silmulasi” yang saling berbaur. Kurang lebih begitulah gambaran Jean Baudrillard.
Sehingga, apa yang kita rasakan atau persepsikan tentang hantu bisa jadi bukan hantu dalam anggapan terluasnya, melainkan (hanya) bunyi dan efek samping psikologis pada umumnya.
Dalam aliran konstruktivisme, manusia membentuk pengetahuan mereka berdasarkan pengalaman dan persepsi yang dihadapi sehari-hari. Begitu pula pada penciptaan dan perkembangan konsep hantu.
Alih-alih ditinjau sebagai pengalaman mistik belaka, fenomena kehadiran hantu dalam ruang realitas manusia hidup tak ubahnya bayangan kabur yang “tiada”, tapi ramai diperbincangkan. Seperti udara, kehadiran makhluk-makhluk astral menjelma jamuan perdebatan tiada habis antara pengiman dan penolaknya.
Narasi demikian amat menarik untuk digali dalam lanskap sosiologis dan pemaknaannya dalam persentuhan hubungan antropologi manusia maupun budaya kekinian.
Sekalipun konsep hantu merupakan konstruksi dari imajinasi, kehadirannya menjadi zona batas empirik atas kemampuan manusia mencandra realitas.
Membincang Imajinasi Konstruktivis
Berangkat dari fenomena umum, canggihnya manusia untuk membentuk narasi yang koheren berdasarkan pengalaman pribadi dan kolektif—pada sumber suara dan citraan abstrak yang kabur—membentuk imajinasi konstruktivis manusia.
Dimungkinkan tercipta dari kondisi tubuh yang lelah, suara yang hening, dan kekacauan dalam berpikir berimplilkasi pada pembentukan fatamorgana suara sebagai tanda kehadiran hantu, patologi semacam ini masyhur dialami sebagian orang.
Sehingga manusia menghubungkan pengalaman dan kejadian yang serupa di masa lalunya sebagai entitas yang berada di luar jangkauan logika dan pengetahuan mereka.
“Hantu, pada sisi lain, bisa dikatakan merupakan produk imajinasi manusia yang dibentuk dan dipengaruhi oleh pengalaman dan norma sosial untuk kepentingan tertentu.”
Proses internalisasi pengentahuan masa lalu, atau ambilah kata “trauma” membentuk recall dalam bahasa Weber yang mendatangkan anggapan bahwa apa yang kita rasakan sama seperti di masa lalu, atau keberulangan suatu peristiwa secara kolektif.
Dalam ulasan lain, Katherine Verdery (1999), berargumen bahwa hantu menjadi salah satu simbol politik dan kehadiran di ranah publik sebagai bentuk teguran pada kondisi sosial yang terjadi.
Anehnya, imajinasi konstruktivis manusia memegang peranan penting dalam upaya kreasi dan menggentayangkan konsep hantu. Manusia menggunakan kemampuan berpikir kreatif untuk mengisi kekosongan atau menjelaskan fenomena yang sukar mereka pahami dengan akal rasional. Walhasil, term hantu kian massif diperbincangkan.
Karena hantu adalah entitas yang telah menjadi bagian integral dari kebudayaan manusia di seluruh dunia. Kisah-kisah tentang roh jahat, arwah gentayangan, dan makhluk tak kasat mata ini bukan hanya sekadar cerita rakyat, mereka mencerminkan aspek psikologis dan sosial dari konstruksi realitas manusia, yang sering kita temui dalam cerita rakyat maupun novel.
Ada riset menarik yang ditulis oleh Timo Duilei. Artikel yang ia beri judul “Kuntilanak: Ghost Narratives and Malay Modernity in Pontianak, Indonesia”(2020) ini, memotret tentang narasi Kuntilanak dan relasinya dengan aspek modernitas dalam tradisi melayu di Pontianak.
Ia dengan sudut padang kritis menyimpulkan bahwa narasi tentang hantu Kuntilanak merupakan konseptualisasi dari alam liar.
Sehingga jika cerita rakyat yang muncul bahwa Kota Pontianak dibangun awalnya dari mengusir “hantu Kuntilanak,” maka sesungguhnya itu suatu bentuk penaklukan atas alam untuk membangun suatu rangkaian pemikiran dan peradaban. Lebih tepatnya merupakan letupan arogansi dari apa yang kita kenal dengan istilah “modernitas” tersebut.
Oleh karena itu, kepercayaan terhadap hantu tidak hanya dibangun dari pengalaman pribadi, tetapi juga dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya yang membentuk cara pandang (worldview) individu terhadap dunia yang lebih luas.
Ini menunjukkan bahwa hantu, pada sisi lain, bisa dikatakan merupakan produk imajinasi manusia yang dibentuk dan dipengaruhi oleh pengalaman dan norma sosial untuk kepentingan tertentu.
Virtual Reality: Melampaui Simulasi Imajinatif-Kolektif
Jika merujuk pada konsep Peter L. Berger dalam teori konstuksi sosial, fenomena hantu pada dasarnya bisa dipahami sebagai proses di mana individu atau kelompok memahami makna, nilai, dan norma ke dalam dunia sosialnya.
Seperti canggihnya teknologi hari ini, internalisasi imajinasi tak hanya jatuh pada prasangka abstrak semata, melainkan jauh daripada itu justru berubah menjadi hal konkret dalam dunia virtual.
Taruhlah kehadiran Artificial Intelegen (AI) yang semakin hari kian menjelma sebagai “hantu” cerdas baru yang dalam istilah Descartes disebut sebagai genius malignus. Dalam konteks ini, AI telah menjebol sekat antara yang “nyata” dan “maya” dan (tanpa sadar) menyetir manusia dan menjelma sebagai “tuhan” baru yang serba bisa.
Hal demikian selaras dengan argumen Don Ihde dalam Technics and Praxis: A Philosophy of Technology (1979). Menurutnya, manusia dan benda-benda “berhala” teknologi memiliki hubungan intim yang keduanya sulit untuk dipisahkan; relasi keduanya membaur dan mengkreasi.
Oleh sebab itu, konstruksi tersebut tak hanya berlaku dalam imajinasi abstrak belaka, akan tetapi juga turut hadir dalam visual yang konkret dan sejajar dengan fenomena.
Hubungan berkesinambungan antara imajinasi dan teknologi itu pada akhirnya menjelma sebagai (kesadaran) realitas baru melebihi apa yang diyakini masyarakat selama ini sebagai sesuatu yang “horor.”
Hantu, beserta narasi-narasi yang mengitarinya berfungsi sebagai kebenaran alternatif (alter-truth) untuk mengekspresikan ketakutan, harapan, dan identitas, sekaligus menciptakan pemahaman yang lebih dalam tentang pengalaman manusia itu sendiri.
Dengan memahami hantu dalam pemahaman yang lebih kompleks dan luas, kita dapat lebih menghargai silang hubungan antara individu, masyarakat, alam (pikir) bahkan “wahyu” teknologi yang kini bersaing dengan kecerdasan manusia itu sendiri. []
Editor: Kowim Sabilillah
