Seri Ramadan

Fenomena Kasyf: Bagaimana Tasawuf dan Psikologi (Agama) Memandangnya?

Fenomena Kasyf: Bagaimana Tasawuf dan Psikologi (Agama) Memandangnya?

Tasawuf, sufisme atau oleh beberapa sarjana Barat seperti Reynold A. Nicholson (1868-1945) dan Annemarie Schimmel (1922-2003) disebut dengan “dimensi mistik Islam atau mistik Islam” itu menyimpan banyak kajian menarik sampai sekarang. Salah satunya tentang fenomena kasyf.

Secara istilah kasyf berarti terbukanya “ḥijāb” (penutup atau tabir) atas realitas Illahi. Sehingga bagi seorang salik atau pengamal tasawuf yang memperoleh kasyf bisa melihat realitas di luar kemampuan inderawi pada umumnya.

Dzun Nun al-Misri—salah satu sufi besar dari Mesir itu—dalam suatu riwayat pernah berujar bahwa barang siapa mengingat Tuhan dengan sungguh-sungguh maka ia akan lupa segala sesuatu kecuali Allah semata sebagaimana orang yang mengalami kasyf.

Dalam penuturannya, Dzun Nun mengalami kasyf ketika ia sedang salat malam sampai sepertiga malam terakhir. Pada saat itu, tiba-tiba ia mendengar suara makhluk-makhluk lain yang sedang bertasbih dan memuji Tuhan. Ia bahkan bisa mendengar ikan berkata, “Segala puji bagi Allah, Raja Yang Maha Suci.”

Bagi sebagian orang, pengalaman semacam ini barangkali dianggap omong kosong belaka. Bahkan sering dikaitkan dengan halusinasi semata. Padahal tidak demikian. Dalam dunia tasawuf, kasyf memang bukan suatu hal yang baru.

Al-Ghazali dalam Mishkāt al-Anwār misalnya, mengatakan bahwa Allah mempunyai tujuh puluh ḥijāb yang terbuat dari cahaya dan kegelapan. Seandainya Dia mengungkapkannya niscaya wajah-Nya akan membakar semua orang yang ada di hadapan-Nya.

Dalam sebagian riwayat ada yang mengatakan Allah mempunyai tujuh ratus, dan ada pula yang mengatakan tujuh puluh ribu ḥijāb.

Lebih jauh, dalam Al-Risâlah al-Laduniyyah, Al-Ghazali menjelaskan secara lebih ilmiah terkait dengan fenomena kasyf ini. Menurutnya manusia bisa memperoleh ilmu dan pengetahuan dengan dua cara.

Pertama, pendidikan manusia (al-ta’lim al-insani), dan kedua, pendidikan Tuhan (al-ta’lim al-Rabbâni). Pendidikan insani lebih bersifat inderawi, yang memanfaatkan potensi berpikir rasional memakai model pendekatan demonstratif.

Sedangkan pendidikan Rabbâni mempunyai dua cara yang berbeda; perolehan wahyu (ilqâ’ al-wahy) dan perolehan ilham. Model pendidikan yang kedua ini hanya bisa dilakukan melalui kasyf realitas sehingga tampak kebenaran (hakikat).

Pada taraf ini, akal dan indera manusia tidak mampu mencapainya. Dengan kata lain, pendidikan Rabbâni, hanya bisa dilakukan melalui proses intuitif.

Kajian tentang kasyf ini juga tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Jika Anda pernah belajar fenomenologi maka hal demikian juga relevan adanya. Dalam pandangan Edmund Husserl (1970), fenomena kasyf ini disebut sebagai “pengalaman batin personal” (individual’s intuition).

Sehingga tak aneh jika pengalaman ini kendati sangat subyektif bukan berarti tidak layak untuk dikaji dan dimaknai.

Titik Temu Tasawuf dan Psikologi Agama

Kajian tentang psikologi agama memang bukan hal baru. Setidaknya itu dimulai sejak William James (1842-1910), Carl Gustav Jung (1975-1961) dan Abraham Maslow (1908-1970) menerbitkan karya-karya monumentalnya.

Namun upaya mereka dalam memahami “pengalaman mistik” dalam kaitannya dengan gejala psikologi masih sebatas kulitnya saja. Mereka belum mampu masuk dalam ranah yang lebih jauh misalnya tentang tradisi “sufi healing” sebagaimana lazim dikenal dalam psikologi Islam maupun tasawuf psikoterapi.

“Dalam istilah psikologi, pengalaman kasyf juga bisa dikategorikan sebagai Altered States of Consciousness (ASC); suatu bentuk kesadaran yang berubah, yang berbeda dengan kesadaran orang normal pada umumnya.”

Namun ikhtiar mereka dalam melampaui psikologi Barat yang bagi sebagian orang dianggap “sekuler” itu patutlah diacungi jempol.

Ambillah contoh William James dalam karyanya yang masyhur, The Varieties of Religious Experience (1917). Ia membagi pengalaman religius menjadi beberapa kategori: jiwa yang gelisah (the sick soul) dan orang yang memiliki pandangan religius, optimis dan positif (the healthy-minded).

Jiwa yang gelisah, panik dan “sakit” ini menurutnya akibat dari perilaku (masa lalu) yang mengarah pada hal-ihwal yang bersifat “tidak sehat” baik secara fisik maupun secara psikis. Mengeluh, kesedihan, keputusasaan dan depresi adalah sebagian kecilnya.

Puncak dari pengalaman religius ini akan menjadikan “the twice-born” atau orang yang lahir kembali secara spiritualitas. Setelah melalui proses penyerahan diri dan pertaubatan yang sungguh-sungguh.

James menyoroti bagaimana beberapa individu mengalami perubahan drastis dalam hidupnya setelah mengalami pengalaman religius yang mendalam. Pengalaman “mistik” bagi James memiliki empat karakter: “tidak dapat diungkapkan,” “kualitas noetik,” “kefanaan,” dan “kepasifan.”

Pada konteks ini, mereka yang mengalami pengalaman “mistik” masuk ke dalam kebenaran yang tidak dapat dipahami oleh akal. Kondisi tersebut merupakan pencerahan, wahyu, dan penuh makna.

Carl Jung juga demikian. Ia menganggap bahwa agama merupakan manifestasi psikologis. Dalam Psychology and Religion (1938), ia memosisikan agama sebagai ekspresi alami dari jiwa manusia yang berakar dalam ketidaksadaran kolektif.

Menurut Jung, agama dapat membantu proses “individuasi;” perjalanan menuju pemenuhan diri dan keseimbangan psikologis. Ia juga menegaskan bahwa “jiwa” itu benar-benar ada. Jiwa baginya merupakan sebentuk eksistensi yang ada meskipun tidak secara fisik. Jiwa adalah eksistensi itu sendiri.

Yang tak kalah menarik dari dua tokoh di atas adalah Abraham Maslow. Jika kasyf dipahami sebagai pengalaman spiritual yang “intim” dan “mendalam” maka itu mirip dengan apa yang Maslow sebut sebagai “pengalaman puncak.”

Maslow berargumen bahwa orang yang sudah sampai pada “pengalaman puncak” itu akan mengalami berbagai pengalaman religius. Ketika seseorang sudah mencapai “pengalaman transendental” itu, ia akan cenderung lebih dekat dengan identitas yang sempurna, unik, atau “diri sejati.”

Bahkan ia mengatakan bahwa dalam “pengalaman puncak,” ketakutan atas kematian, kecemasan, kebingungan, konflik, akan hilang meskipun sementara waktu.

Sehingga tak aneh jika Maslow menyebut, “pengalaman puncak” seringkali berdampak hebat dan mengubah pribadi seseorang bahkan mendorongnya untuk melakukan pertaubatan religius. Dengan kata lain, pengalaman puncak merupakan pengertian operasional dari pernyataan bahwa “hidup itu berharga dan bermakna” (Maslow, 2021).

Lalu bagaimana cara membedakan pengalaman kasyf itu nyata, halusinasi atau gejala psikotik semata? Salah satu indikator yang bisa digunakan—menurut M.A Subandi (2009)—adalah melihat dampak pengalaman religius itu bagi kehidupan orang tersebut maupun orang-orang di sekitarnya.

Pengalaman psikotik, biasanya berdampak destruktif. Misalnya orang mendengar suara yang menyuruhnya untuk bunuh diri (suicide) atau membunuh orang lain. Sementara itu pengalaman mistik selalu disertai dengan efek positif.

Pengalaman mistik menimbulkan perasaan positif yang dalam. Orang merasakan pengalaman kebahagiaan, merasa mendapat keberkahan dan kedamaian.

Dalam bahasa yang lebih jelas, pengalaman mistik mempunyai unsur keterlepasan dengan dimensi ruang dan waktu (time-lessness and spacelessness). Keterlepasan dengan dimensi ruang terjadi ketika orang merasakan bahwa ia tidak lagi berada di tempatnya saat itu. Ia merasa seperti berada di alam lain.

Demikian juga dalam pengalaman mistik. Tidak jarang orang mendapatkan pemahaman atau pengetahuan tentang sesuatu yang akan terjadi di kemudian hari. Atau pengalaman memasuki kehidupan masa lalu.

Pengalaman-pengalaman ini mungkin mirip dengan pengalaman paranormal. Namun bagi orang yang mendapatkan pengalaman mistik, pemahaman tentang masa depan bukan merupakan tujuan utama. Bahkan hal ini sering dianggap sebagai godaan atau halangan dalam mencapai transformasi religius.

Dalam istilah psikologi, pengalaman kasyf juga bisa dikategorikan sebagai Altered States of Consciousness (ASC); suatu bentuk kesadaran yang berubah, yang berbeda dengan kesadaran orang normal pada umumnya.

Howell (1989) mendokumentasikan berbagai bentuk pengalaman ASC yang dialami oleh para ahli mistik di Jawa, termasuk di dalamnya adalah orang-orang Islam yang melaksanakan zikir dalam tarekat atau sufisme.

Seperti halnya dalam tradisi-tradisi keagamaan yang lain, peranan dari pengalaman mistis seperti ini sangat vital dalam membawa seseorang ke arah proses transformasi keagamaan.

Lantas dimana titik temu antara tasawuf dengan psikologi (agama) itu? Titik temu antarkeduanya terletak pada bagaimana memandang bahwa kasyf atau pengalaman religius merupakan fenomena nyata bukan halusinasi maupun ilusi.

Keduanya juga sepakat bahwa untuk mencapai taraf itu maka seseorang harus membersihkan jiwanya dengan “laku” bukan hanya ilmu. []

Share this post

Saiful Mustofa
About the author

Penulis Buku "Media Online Radikal dan Matinya Rasionalitas Komunikatif" (2019) serta "Juru Kunci" di Diskursus Institute.