Nama Ki Ageng Gribig barangkali agak begitu asing di telinga kita. Konon ia hidup di era abad ke-16 hingga ke-17.
Ia dikenal sebagai ulama dan pemimpin masyarakat yang berhasil menggabungkan ajaran Islam dengan budaya lokal Jawa Tengah.
Kalau merujuk pada Babad Tanah Jawi dan Asnan Wahyudi (2013), Ki Ageng Gribig Jatisari konon masih satu garis keturunan dengan Sunan Giri.
Pernyataan serupa juga disampaikan Penelitian Balai Pelestarian Sejarah Jawa Tengah. Mereka menyatakan bahwa Ki Ageng Gribig cucu Sunan Giri berdasarkan catatan dari keluarga Jatisari.
Sementara itu, Ensiklopedia Tokoh Jawa (Kemdikbud, 2019) menghubungkan silsilahnya melalui Ki Ageng Selo—leluhur dari kerajaan Mataram Islam itu.
Ki Ageng Gribig meninggalkan warisan penting dalam wujud tradisi yakni Yaa Qowiyyu; membagikan kue apem kepada masyarakat pada saat bulan Sapar.
Hingga kini, masyarakat Kecamatan Jatinom, Klaten, Jawa Tengah masih melestarikan tradisi ini.
Lantas siapakah sebenarnya Ki Ageng Gribig itu sehingga banyak orang mengaitkannya dengan sejarah kanonik Walisongo?
Dalam pandangan Clifford Geertz (1960), keterkaitan tokoh-tokoh seperti Ki Ageng Gribig dengan Wali Songo seringkali digunakan sebagai legitimasi spiritual dalam penyebaran Islam.
Sehingga Ricklefs (2006) mengingatkan perlunya kajian kritis terhadap klaim silsilah semacam ini. Sebab banyak tokoh Jawa yang mengaitkan dirinya dengan Wali Songo sebagai legitimasi suatu otoritas.
Nama Ki Ageng Gribig juga ditemukan pada sejarah tutur di Malang. Namun dalam analisis lebih lanjut, disinyalir keduanya merupakan tokoh berbeda.
Studi komparatif Ki Ageng Gribig Klaten dan Malang mengungkap tiga temuan kunci: Pertama, aspek genealogis—Klaten memiliki legitimasi kuat dalam babad dan silsilah Sunan Giri, sedangkan Malang bersumber pada cerita lisan.
Kedua, peran historis—Klaten berkontribusi pada islamisasi kultural (Yaa Qowiyyu), sementara Malang fokus pada adaptasi teknologi pertanian.
Ketiga, bukti material—makam Klaten bergaya arsitektur Islam Jawa standar. Berbeda dengan makam Malang yang memiliki orientasi unik.
Perbedaan periode hidup (Klaten: abad 15-16—Malang: abad 16-17) dan jejaring keulamaan (Sunan Giri vs. Sunan Gunung Jati) menegaskan bahwa keduanya adalah tokoh terpisah.
Soal kemiripan nama “Gribig” diduga sebagai gelar umum untuk ulama penyebar Islam di Jawa.
Para ahli seperti Dwi Cahyono menyimpulkan ini bisa jadi fenomena homonim; dua tokoh berbeda dengan kemiripan nama sebagai gelar ulama masa itu.
Lebih dari itu, Ki Ageng Gribig hidup pada masa transisi penting dari era Hindu-Budha (Majapahit) ke Islam (Demak-Mataram).
Ia berperan dalam proses islamisasi melalui pendekatan kultural; mengakulturasikan ajaran Islam dengan tradisi Jawa. Metode ini menjadikan Islam lebih mudah diterima masyarakat setempat.
Sebagai bagian dari jaringan ulama Jawa Tengah, Ki Ageng Gribig turut membangun fondasi Islam di era awal Kesultanan Mataram.
Ajaran Islam Ki Ageng Gribig bersifat praktis dan mudah dipahami oleh masyarakat awam.
Ia menekankan hidup sederhana dan tidak terikat pada harta dunia. Sebagai umat Islam ia mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati berasal dari kedekatan dengan Tuhan, bukan dari kekayaan materi.
Laku zuhud ini mirip dengan ajaran Imam Al-Ghazali. Dalam kitabnya yang terkenal, Ihya Ulum al-Din, ia menjelaskan bahwa hidup sederhana adalah kunci kebahagiaan spiritual.
Al-Ghazali percaya bahwa keterikatan pada harta dunia hanya akan menjauhkan manusia dari Tuhannya.
Tak hanya itu, Ki Ageng Gribig juga mengajarkan pentingnya berserah diri kepada Tuhan (tawakal) dalam menghadapi segala cobaan hidup.
Ini tercermin dalam tradisi Yaa Qowiyyu, di mana masyarakat diajak untuk berbagi dan bersyukur.
Konsep tawakal ini sejalan dengan ajaran Ibn Arabi—seorang filsuf dan sufi besar kelahiran Spanyol itu.
Dalam kitabnya, Fusus al-Hikam dan Al-Futuhat al-Makkiyyah ia menekankan bahwa manusia harus melepaskan diri dari hasrat duniawi (berlebihan) untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan.
Makna Filosofis Tradisi Yaa Qowiyyu
Kata “Yaa Qowiyyu” berasal dari bahasa Arab “Ya Qawiyyu,” yang berarti “Wahai Yang Mahakuat.”
Secara historis, tradisi ini dimulai ketika Ki Ageng Gribig membagikan kue apem kepada masyarakat setelah pulang dari Mekah.
Apem sendiri oleh orang Islam di Jawa sering dikaitkan dengan istilah ‘afwan (maaf) atau kadang juga affum yang melambangkan permohonan ampun kepada Tuhan.
Dalam pengamatan penulis, Tradisi Yaa Qowiyyu bukan sekadar ritual, tapi juga simbol kebersamaan dan solidaritas sosial.
Masyarakat diajak untuk berbagi dan peduli terhadap sesama, sesuai dengan ajaran Islam tentang cinta kasih.
Tradisi ini menunjukkan bagaimana Ki Ageng Gribig berhasil memadukan kesalehan spiritual dengan kesalehan sosial.
Ki Ageng Gribig bukan hanya seorang ulama yang duduk di menara gading. Ia juga pemimpin masyarakat yang aktif dalam membangun kesejahteraan sosial.
Ia mendirikan pesantren sebagai pusat pembelajaran. Pesantren ini menjadi tempat masyarakat belajar tentang Islam, tasawuf, dan seluk-beluknya.
Ki Ageng Gribig juga dikenal sebagai tokoh yang menentang ketidakadilan. Ia menggunakan ajaran tasawuf untuk menginspirasi masyarakat agar melawan penindasan dan hidup mandiri.
Tradisi Yaa Qowiyyu masih lestari sampai saat ini. Setiap tahun, ribuan orang berkumpul untuk mengikuti acara ini di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah.
Acara ini meliputi pembacaan doa dan zikir bersama, pembagian apem, dan pasar rakyat. Hal ini menunjukkan bagaimana spiritualitas bisa mendorong ekonomi masyarakat dan membangun solidaritas sosial.
“Tradisi Yaa Qowiyyu bukan sekadar ritual, tapi juga simbol kebersamaan dan solidaritas sosial.”
Bahkan dalam konteks modern, tradisi ini relevan untuk mengatasi krisis spiritual, lingkungan, dan sosial.
Ki Ageng Gribig adalah contoh nyata bagaimana laku tasawuf bisa menjadi kekuatan transformatif dalam masyarakat.
Melalui ajaran dan tradisinya, ia berhasil menyebarkan nilai-nilai spiritual yang tidak hanya mendekatkan manusia kepada Tuhan, tapi juga membangun harmoni sosial dan lingkungan.
Warisannya, terutama tradisi Yaa Qowiyyu, menjadi bukti bahwa tasawuf bukan sekadar teori, tapi juga praktik hidup yang bisa menginspirasi banyak orang.
Dengan belajar dari Ki Ageng Gribig, kita bisa menemukan cara untuk hidup lebih bermakna, baik secara spiritual maupun sosial.
Ajaran Ki Ageng Gribig mirip dengan ajaran teologi Barat seperti yang digambarkan oleh Martin Buber (1923).
Ia menjelaskan pentingnya hubungan manusia dengan sesama dan alam sebagai bagian dari pengalaman spiritual.
Buber percaya bahwa manusia tidak bisa hidup dalam isolasi, tetapi harus membangun hubungan yang bermakna dengan dunia di sekitarnya.
Seperti kata Emile Durkheim (1912), ritual bukan hanya tentang keagamaan, tetapi juga tentang memperkuat ikatan sosial.
Maka Tradisi Yaa Qowiyyu adalah contoh nyata bagaimana ritual bisa menjadi alat untuk membangun kebersamaan dan solidaritas sosial. []
Editor: Saiful Mustofa
