Tak bisa dinafikan bahwa dangdut menjadi salah satu genre musik paling populer akhir-akhir ini. Berdasar hasil survei dari Jakpat tahun 2024, dangdut menuai 34% responden. Hal itu membuat dangdut berada di posisi ke dua setelah musik pop sebagai genre musik paling populer di Indonesia.
Kepopuleran dangdut sesungguhnya tak lepas dari nuansa musiknya yang mengasikan dan membuat goyang. Syair-syairnya mendayu dan sangat akrab di telinga awam.
Pasar, bus, lorong-lorong kampung, bahkan istana negara tak luput dari kuasa dangdut. Orang-orang mendendangkannya dengan begitu ria. Tak luput, ibu jari turut digoyangkan dengan lihainya.
Dangdut tersusun dari tiga ramuan ajaib yang fundamental, yakni musik Melayu Deli, Arab, serta India. Ramuan itu sekaligus menyuratkan kisah tentang eksistensi dangdut. Embrio musik dangdut awalnya dijumpai pada musik Melayu Deli.
Hal ini dijelaskan gamblang dalam Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia’s Most Popular Music (2010) oleh Andrew Weintraub. Menurutnya tahun 1950-an merupakan cikal bakal eksisnya tren pop genre ini.
Irama gambus, akordion, biola, kendang, serta vokal adalah instrumen yang menyertainya. Namun jika diamati, musik Melayu Deli sesungguhnya telah berakulturasi dengan budaya Arab. Lihat saja pada instrumen Gambus ataupun dendangan syairnya yang meliuk-liuk.
Weintraub (2010) juga menegaskan bahwa musik Melayu Deli kemudian berubah wujud. Instrumen Tabla India dimasukkan ke dalamnya. Musikalitasnya menjadi lebih riang dan memantik penikmatnya untuk bergoyang.
Selaras dengan hal demikian, animo masyarakat terhadap musik dangdut sebagai “The People (Rakjat-Rakyat)” cukup besar dalam kuasa sosial. Modal ini menuangkan nuansa segar tentang budaya baru dari kalangan alit (kelas kecil).
Alih-alih utuh sebagai genre “baru”, dangdut—menurut Strohschein (2015) dalam review-nya—menganggap era ini ditandai dengan istilah “proto-dangdut” yang masih amat fleksibel untuk berkembang di kemudian hari.
Kurun ini, tunas musik dangdut telah ditancapkan. Salah seorang yang menancapkan tunas itu adalah Ellya Khadam. Yang dalam istilah Weintraub disebut sebagai “a dangdut pioneer and reportedly the first successful female dangdut singer and dancer”.
Karya Monumental
Ellya Khadam adalah seorang penyanyi dan penulis lagu yang mentereng. Hidupnya diabdikan pada musik Melayu. Ia telah merilis ratusan lagu sepanjang hayatnya. Salah satu karya monumentalnya bertajuk “Boneka dari India” yang ditelurkan tahun 1956.
Nuansa lagunya sangatlah riang. Lihat saja liriknya yang begitu menggemaskan, “boneka sayang berbaju biru//boleh dipandang tak boleh diganggu//boneka cantik dari India//boleh dilirik tak boleh dibawa”.
Nuansa riang itu juga didukung oleh melodi pada introduce dan interlude yang kental dengan lagu India macam “Dil Ka Haal Sune Dilwala” atau “Awara Hoon” yang populer pada kurun itu.
Tak hanya melodi, tabuhan instrumen Tabla juga terasa sangat dinamis, sehingga mempertebal nuansa yang dibangun.
Berkat lagu “Boneka dari India”, nama Ellya melambung. Piringan hitamnya laku keras di pasaran. Lagunya berkumandang di radio-radio dan didendangkan di pelosok-pelosok kampung.
“Laku Ellya Khadam bukan hanya “perlawanan” pada dominasi raksasa musik Barat semata, role genre ini lahir dari poros kuasa rakyat dan murni hiburan “akar rumput.”
Lagu “Boneka dari India” adalah karya yang menyimpan kisah tentang eksistensi dangdut di Indonesia. Majalah Tempo dalam artikelnya bertajuk “Agar Bibir Tidak Keseleo” yang terbit tanggal 22 Maret 1975 mewartakan bahwa lagu ini adalah pembuka gerbang lagu-lagu Melayu ke babak selanjutnya: Melayu dangdut.
Secara historis, lagu Melayu awalnya memang tergolong pada genre musik tunggal. Lihat saja lagu “Fatwa Pujangga”, “Seroja”, atau “Cinta Palsu” besutan penyanyi kondang, Said Efendi. Syair-syairnya dilantunkan dengan corak yang khas.
Aroma-aroma musik gurun pasir sangat terasa. Syahdan, Ellya Khadam mendobraknya. Bersama dengan “Boneka dari India”, ia memasukan idiomatika India ke dalam musikalitasnya.
Dalam pandangan Fathin Luaylik (2012), hal ini merupakan eskalasi atas transformasi genre yang diakulturasikan dengan dinamika sosial atau kecenderungan masyarakat sesuai konteks berkembangnya.
Ciri utamanya terletak pada perkusi. Bunyi “dang-ding-dut” pada perkusi membubuhkan warna tersendiri dalam musik Ellya Khadam. Ia energetik dan mengundang goyangan para pendengar.
Berkat lagu itu, lahirlah sub genre Melayu, yakni Melayu dangdut. Terma yang dilandaskan pada bunyi “dang-ding-dut” perkusi dan tentu saja “pendobrakan” atas dominasi.
Lagu-lagu Melayu dangdut kian populer di kalangan publik. Kepopuleran itu akhirnya mengundang penyanyi-penyanyi lain untuk masuk ke aliran musik Ellya Khadam.
Artikel bertajuk “Agar Bibir Tidak Keseleo” terbitan Majalah Tempo menyatakan bahwa Elvy Sukaesih, Mansyur S., dan Rhoma Irama adalah tiga sosok yang berhasil mengadopsi gaya musik Ellya. Terbukti, lagu-lagu mereka juga laris di pasaran.
Sesungguhnya, lagu adalah artefak yang berwujud bunyi. Ia adalah pengiring peradaban. Lagu itu perlu ditelisik untuk menguraikan kisah-kisah yang termuat di dalamnya.
Lagu “Boneka dari India” adalah salah satunya. Kendati lagu ini adalah terjemahan dari lagu India bertajuk “Sama Hai Bahar Ka” karya Lata Mangeskar, tetapi tidak bisa menafikan kenyataan tentang kisah di dalamnya.
Lagu itu telah mendekonstruksi musik Melayu. Genre Melayu dangdut yang menjadi cikal bakal musik dangdut akhirnya ditancapkan. Ellya Khadam bukan sekadar menancapkannya, tetapi juga merawat dan menyiraminya.
Ikhitarnya adalah dengan tetap progresif menernak lagu. “Kau Pergi tanpa Pesan”, “Beban Asmara”, “Termenung” dan “Mengharap” adalah beberapa lagu Ellya Khadam yang mampu mengantarkannya sebagai “Ratu Melayu Dangdut.”
Ellya Khadam: Memoar Pop Culture Dangdut Indonesia
Ellya Khadam adalah perempuan berdarah Pakistan. Ia hobi menonton film India. Hobi itu tidak semata-mata nirarti, tetapi sebagai wujud laku musikalnya.
Ellya Khadam pernah menyatakan kepada Majalah Tempo dalam artikel bertajuk “Agar Bibir Tidak Keseleo” (1975) bahwa ia perlu menonton banyak film India untuk menyokong kreativitasnya.
Terbukti, dengan preferensinya itu, Ellya Khadam mampu meramu orkes melayu dengan wajah yang baru: Melayu dangdut.
Saya merasa bahwa orang yang mampu menginovasikan musik, barang tentu telah purna dengan sebuah musik. Ellya Khadam juga demikian. Sebelumnya, ia adalah vokalis orkes Melayu yang mengelana dari kampung ke kampung.
Hingga suatu hari, suaranya memikat Husein Bawafie—seorang seniman Melayu terkemuka. Syahdan Ellya pun akhirnya diajak untuk masuk ke dapur rekaman.
Perjalanan Ellya Khadam telah membuktikan bahwa ia telah purna dengan gaya vokal Melayu. Tugas moral seorang seniman ketika sudah khatam adalah melestarikan dan mengembangkannya. Dua hal itu tampaknya telah ditunaikan Ellya Khadam.
Dalam rangka pelestarian, ia menjauhi gaya vokal musik pop. Dalam artikel bertajuk “Dunia Ellya Khadam” terbitan Majalah Tempo tanggal 27 Mei 1972, dikabarkan bahwa Ellya Khadam tak mau menyanyikan lagu-lagu pop karena takut bibirnya meleset. Ia bahkan berikrar untuk mencurahkan pikirannya kepada lagu-lagu Melayu.
Ikrar itu telah lunas. Hingga akhir hayatnya, Ellya Khadam tetap setia pada lagu-lagu Melayu. Ia bahkan membentuk orkes “El Sitara” pada tahun 1969 supaya tetap teguh pada ikrarnya.
“El Sitara” tak hanya digunakan Ellya Khadam untuk melestarikan musikalitas Melayu. “El Sitara” juga menjadi katalisator Ellya Khadam dalam berinovasi.
Puluhan lagu dengan gaya Melayu dangdut telah dihasilkan. Album “Cium Dong!”, “Bertemu dan Berpisah”, dan “Biang Kerok” adalah beberapa buktinya.
Di tengah dinamika musik Melayu yang kian maju Ellya Khadam tidak satu langkah pun mundur. Ia bersama orkes Melayunya tetap progresif.
Hingga pada tahun 1970-an, dangdut Melayu mampu bertahta dalam belantika musik nasional. Ada beberapa orkes yang turut mendukungnya. Salah satunya adalah orkes melayu “Soneta” bentukkan Rhoma Irama.
Di tengah kuasa itu, Ellya Khadam lagi-lagi berkelakar kepada Majalah Tempo lewat artikel bertajuk “Panen Dangdut, Dangdut, Dangdut” yang terbit tanggal 22 Maret 1975 bahwa penyanyi-penyanyi pop kala itu memegang “buntut“ Ellya Khadam.
Tahun 70-an memang musik pop terdesak oleh Melayu dangdut. Terbukti, tak sedikit penyanyi-penyanyi pop yang kemudian banting setir ke Melayu pop. Lihat saja “Bimbo” ataupun “Koes Plus” yang menelurkan lagu-lagu beraroma Melayu dangdut.
Dalam konteks ini, laku musikal Ellya Khadam dapat diartikan sebagai tren pop culture. Laku musikal tersebut mampu memengaruhi skema musik nasional.
Dalam istilah lain, laku Ellya Khadam bukan hanya “perlawanan” pada dominasi raksasa musik Barat semata, role genre ini lahir dari poros kuasa rakyat dan murni hiburan “akar rumput” (Haesy, 1995).
Hal tersebut lantas mengantarkan sosok Ellya Khadam sebagai fenomena. Ia bahkan menjadi acuan atau panutan dalam bermusik. Hal ini sesungguhnya menarik jika dibaca dalam bingkai budaya populer.
Dalam hal ini, laku musikal Ellya sesungguhnya telah memenuhi kaidah dalam budaya pop. Lihat saja bagaimana “Koes Plus,” “Bimbo,” Titiek Puspa, atau bahkan Rhoma Irama bersama “Soneta”-nya.
Mereka mengikuti jejak Ellya Khadam, memproduksi lagu beraroma Melayu agar tak ketinggalan pasar.
Yuliani dan Retno (2023) secara bernas menekankan bahwa budaya pop lebih mengedepankan sisi popularitas karena hegemoni industri di tengah ruang publik.
Dalam hal ini, tindakan “Koes Plus,” “Bimbo,” Titiek Puspa, atau bahkan Rhoma Irama untuk mengikuti jejak Ellya Khadam tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk meraup popularitas tersebut.
Dalam bahasa banalnya, mereka memanfaatkan popularitas Ellya Khadam bersama gaya bermusiknya untuk kepentingan personal branding. Namun, hal ini memang lumrah dalam budaya populer.
Ada istilah menarik yang diutarakan Timoty P. Daniels (2013). Dalam Social Drama, Dangdut and Popular Culture, ia berargumen bahwa akibat pengaruh media masa seperti televisi, produksi musik, dibarengi koreografi layar lebar beserta instrumennya, mendukung popularitas penyebaran musik dangdut.
Melihat realitas tersebut, tak berlebihan jika saya mengatakan bahwa sosok Ellya Khadam adalah sosok monumental. Gaya bermusiknya mampu membuat musik Melayu dangdut melambung.
Saya kira, itu semua tentu berkat totalitas Ellya Khadam terhadap musik Melayu. Menjaga kesetiaan adalah tindakan yang susah. Perlu ketelatenan dalam ikhtiarnya. Maka, tak berlebihan jika penulis menyebut kiprah Ellya Khadam sebagai laku musikal.
Sembilan puluh enam tahun nama Ellya Khadam dikenang. Raganya mungkin telah tiada, tapi semangatnya masih menyala. Melayu dangdut yang dicetuskannya telah menjelma genre yang mapan. Terima kasih, Ellya Khadam—Sang perintis Dangdut. []
Editor: Kowim Sabillah
