Ramadan telah tiba, gegap gempita iklan sirup, sarung dan lainnya sudah menjamur di televisi seluruh Indonesia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, masyarakat mulai riuh dengan agenda tahunan: berburu takjil, nyekar, belanja, sampai dengan salat tarawih.
Sebagai orang yang lahir dan besar di Jawa, penulis menikmati setiap prosesi tahunan semacam itu. Apalagi bagi umat Muslim, Ramadan adalah masa tandur, masa tanam dan Syawal adalah hari panennya. Hal ini menjadi suatu rangkaian yang tak terpisahkan.
Dalam tafsir kosmologis, masyarakat Jawa juga sepakat dengan hal tersebut. Bulan-bulan ini merupakan rantai yang tak terpisahkan dan masih diyakini keutamaannya. Setidaknya dimulai sejak Ruwahan.
Alih-alih melihat fenomena puasa di bulan Ramadan sebagai kultus-spiritual formal tahunan belaka, André Möller (2005) justru berargumen bahwa ada dua hal khusus yang ia sebut dengan istilah “joy” dan “jihad”. Dua hal paradoks yang dipadukan menjadi satu.
Alasan ini cukup unik, Möller mengaitkan identitas Islam di Barat yang cenderung di-framing sebagai gerakan radikal-teroris. Tentu saja ia berbekal teropong media Barat yang asimetris mewartakan jihad dalam kerangka aksi-aksi perusakan.
Möller menegaskan bahwa “jihad”—sebagaimana puasa—adalah jihad besar. Keutamaannya mengalahkan jihad kecil seperti peperangan, dengan merujuk pada sebuah hadis.
Tak hanya jatuh pada tataran istilah semata, buku Möller yang berjudul, Ramadan in Java: The Joy and Jihad of Ritual Fasting ini menyibak karakter, pola sosial, dan kecenderungan Islam sebagai agama yang memiliki ragam praktik pengamalan.
“Bagi orientalis seperti Möller, tradisi ini ia anggap sebagai “a spiritual graduation ceremony” atau perayaan untuk menandai suatu fase kemenangan spiritual-personal sekaligus komunal.”
Jika ditilik dalam dua pola pembacaan atas Islam sebagai fenomena sosial, terdapat dua kacamata yang berbeda. Tradisi antropologi Barat acapkali hanya meninjau pada tataran ketunggalan teks dan wacana (doktrin) semata.
Sementara untuk menemukan Islam yang utuh (ortodoksi), diperlukan pengamatan yang mendalam atas Islam dalam keragaman praktiknya (heterodoksi). Dua pola ini menjadi aliran arus dominan yang mengitari studi atas Islam.
Dengan sedikit melakukan kritik, Möller selama kurang lebih tiga tahun coba agak keluar cangkang studi sejarah dan antropologi agama Barat yang mainstream. Ia dengan keberanian kemudian menilik Ramadan, Islam dan Jawa, dalam kacamata living Islam, bukan teks semata.
Pengamatan ini ia khususkan untuk memberi kritik pada arus mainstream para sarjana orientalis pengkaji Islam yang tunduk pada penelitian narasi semata. Tidak menelisik ikhwal ordinary atau kesehariannya.
Buku ini berisi tujuh bab yang saling bertaut satu sama lainnya. Möller memulai pembacaan atas kedudukan teks suci dalam menyerukan puasa beserta syariatnya, hingga keunikan bagaimana syariat ini dipraktikkan, dan eksis sampai saat ini.
Namun jika diamati, apa yang disajikan oleh Möller sesungguhnya biasa saja dan tak ada yang baru. Apalagi ia masuk ke dalam “ceruk” studi Islam di Indonesia yang sudah banyak diisi oleh para raksasa Indonesianis Barat lainnya.
Möller menyajikan ikhwal konstruksi fikih, kewajiban puasa yang digali dari berbagai sumber agama lain, membincang tradisi posoan di Jawa.
Ia juga memotret berbagai tradisi yang muncul ketika Ramadan seperti nyekar, mudik, tarawih, iktikaf, pengajian dan hal remeh temeh lainnya.
Poso dan Riyoyo
Dalam tradisi Jawa, puasa atau “sauum” tak hanya tentang upaya pengendalian hawa nafsu semata, hal ini terikat langsung dengan rekoneksi tubuh dengan alam jagat yang dihidupi.
Ditilik dari istilah— menurut Jadul Maula—puasa digali dari bahasa Sanskerta, “upawasa” yang berarti ritual guna “mengakses” Yang Illahi.
Pemaknaan ini tak sembarangan, dalam tradisi masyarakat Jawa kuno, upawasa atau poso merupakan serangkaian ritual dalam laku ajaran tertentu, khususnya dalam bingkai Hindu-Budha.
Adaptasi bahasa ini berlangsung beriringan dengan serangkaian pola islamisasi yang terjadi di Jawa, berbekal budaya yang eksis dan “ada” pada saat itu.
Dalam konteks kajian Moller, puasa tak hanya dipraktikkan dalam Islam, mengamati adanya prosesi ini dalam agama lain, dalam tradisi Arab (pra-Islam), tradisi India, Kristes maupun Yahudi.
Menurutnya, puasa bermakna persiapan untuk peristiwa atau hal-hal penting dalam kehidupan seseorang sekaligus tindakan “pemurnian diri.”
Dua makna ini berlaku bagi keseluruhan model puasa yang ada. Yang Sakral atau Tuhan hanya bisa didekati dengan badan dan jiwa yang bersih.
Orang Jawa mengkhususkan awal ritual ini dimulai dengan padusan (mandi) secara fisik dan rohani agar ketika puasa berjalan, rasa tentram akan terasa.
Puncak dari perjalanan puasa ialah datangnya riyoyo atau Idul Fitri. Ini adalah momentum yang ditunggu-tunggu setelah memenangkan peperangan dengan hawa nafsu.
Di Jawa, tradisi Idul Fitri identik dengan keliling rumah tetangga untuk saling melebur dosa. Itu biasanya dilakukan pasca salat Ied.
Bagi orientalis seperti Möller, tradisi ini ia anggap sebagai “a spiritual graduation ceremony” atau perayaan untuk menandai suatu fase kemenangan spiritual-personal sekaligus komunal.
Dengan kata lain, puasa Ramadan sampai Hari Raya Idul Fitri itu sesungguhnya bukan hanya ibadah vertikal melainkan juga horizontal.
Namun sebagaimana pandangan orientalis lainnya, apa yang disajikan oleh Möller sesungguhnya juga hanya menyentuh aspek kulitnya saja.
Ia sebagai antropolog, belum mampu menyuguhkan keseluruhan renik tradisi Ramadan lain seperti “megengan” dan “maleman” misalnya. Sekaligus makna yang terkandung di dalamnya.
Möller dengan kata lain hanya mampu menyentuh aspek “selebrasi” dan belum sepenuhnya menyentuh “esensi.”
Namun kendati demikian, apa yang dilakukannya cukup untuk memberikan kesimpulan bahwa praktik dan corak Islam di Jawa itu kaya ragam dan ramah. []
Editor: Saiful Mustofa
