Sudut Pandang

Tradisi Ziarah Wali dan Pembaruan Etos Santri Nusantara

Tradisi Ziarah Wali dan Pembaruan Etos Santri Nusantara

 

Tradisi ziarah makam telah menjadi bagian penting dari kehidupan Muslim di Nusantara. Bahkan ada sekelompok orang yang mentahbiskan diri sebagai ‘Sarjana Kuburan’ (Sarkub). Istilah ini dilekatkan pada seorang individu, atau sekelompok orang yang menjadikan aktivitas rutin untuk berkunjung, berziarah dan sekaligus melakukan aktivitas bermunajat kepada Allah, sembari ber-tawasul kepada para awliya atau orang-orang shalih, atau tokoh-tokoh besar dalam sejarah yang dikenal suatu masyarakat.

Kegiatan itu biasanya dilakukan di pusara atau kompleks pemakaman para awliya dan orang-orang shalih. Meskipun menurut para Sarkubiyyin (penggiat ziarah makam awliya), makam atau petilasan tidak selalu adalah pusara tempat seseorang tokoh dimakamkan.

Makam dan petilasan adalah salah satu tanda (Jawa: tetenger) tentang keberadaan peristiwa besar yang mengubah sejarah di masa lalu. Ada kompleks makam yang di dalam pusara tersebut dimakamkan tokoh besar, seperti Makam para awliya, ataupun makam milih keluarga kerajaan misalnya Makam Astana Giri Bangun, Makam Imogiri, dan sejenisnya.

Namun juga ada yang disebut makam, tapi sesungguhnya tempat itu adalah petilasan dimana merupakan tempat penting yang digunakan oleh para aktor penting dalam sejarah, untuk melakukan aktivitas ritual, mengajar atau aktivitas penting lainnya. Terkadang pula di dalam makam tersebut, dikubur pusaka; simbol penting yang menandai keberadaan suatu wilayah kekuasaan atau wilayah pengaruh seorang tokoh penting dalam sejarah.

Tradisi mengunjungi atau berziarah makam, merupakan salah satu tradisi penting yang menandai komunitas muslim di Nusantara. Sejak lama aktivitas ini telah diwariskan dari generasi ke generasi. Aktivitas ziarah biasanya di awali dengan aktivitas ber-tawassul, membacakan tahlil dan diakhiri dengan doa dan bermunajat kepada Allah SWT. Dan seringkali diiringi dengan aktivitas lain semisal tabur bunga. Kegiatan ini memiliki dimensi spiritual, dimana seseorang di sanalah olah batin dilakukan oleh seseorang.

Dan saat tradisi ini berkembang secara luas di dalam masyarakat, lantas mucullah berbagai dimensi yang lebih profan dari kegiatan ziarah makam awliya ini.  Misalnya dimensi ekonomi, edukasi, sosial dan budaya, bahkan politik dari aktivitas Ziarah. Perkembangan kompleks Pemakaman Gus Dur di Tebuireng adalah bukti dari itu semua. Semenjak Gus Dur wafat dan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Tebu Ireng pada 30 Desember 2009, makam Gus Dur tak pernah sepi.

Aktivitas rutin berziarah kubur atau nyarkub adalah upaya menyatukan aktivitas spiritual, intelektual dan sosial sekaligus, serta aktivitas mengangkat mitos, menjadi kekuatan pengetahuan (logos).

Masyarakat berduyun-duyun mendatangi makam ini, bahkan para tokoh-tokoh politik hingga intelektual berziarah di sana. Muncullah aktivitas ekonomi, dari masyarakat yang berdagang aneka ragam, dari makanan hingga souvenir bahkan usaha penginapan. Aktivitas edukasi juga berkembang, setiap menjelang Ujian Nasional (UN) banyak para siswa yang berziarah di makam ini, disertai dengan aktivitas menggali pengetahuan tentang Islam termasuk kunjungan belajar ke Museum Islam Indonesia di samping makam Gus Dur.

Para politisipun tak mau kalah, setiap menjelang momentum politik di negeri ini, makam Gus Dur menjadi tempat ‘wajib’ untuk dikunjungi, tentu tidak sekadar berziarah, tapi suatu tindakan simbolik dan memiliki efek getar maupun pembentukan opini ke masyarakat, tentang tokoh yang berkunjung.

Demikian pula aktivitas bertemunya banyak pengunjung ke makam Gus Dur, dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan, dan menjadikan area makam Gus Dur menjadi tetenger (penanda) penting toleransi di Indonesia.

Kenyataan inilah yang menunjukkan keberadaan Makam para awliya dan aktivitas ziarah makam awliya nyata memberikan berkah, terus bertambahnya manfaat bagi banyak orang. Makam dan aktivitas ziarah makam awliya telah membuat makam itu terus hidup, dan dinamis.       

Ziarah Makam Awliya: Membangun Etos dan Menggerakkan Logos

Aktivitas ziarah kubur, sesungguhnya adalah aktivitas penting dalam membangun identitas sekaligus peradaban suatu negeri. Di makam itulah, seorang  peziarah tenggelam dalam narasi-narasi dan spirit masa lalu. Lewat aktivitas ber-tawassul, membacakan tahlil, dan berdoa di tempat tersebut, seorang pelaku ziarah kubur akan membangun komunikasi spiritual, semacam upaya membangun garis antara narasi dengan spirit positif yang berasal masa lalu. Dari para awliya dan orang shalih yang dimakamkan di tempat itu.

Di sela-sela itu semua, narasi-narasi masa lalu baik dari tuturan lisan, ataupun teks teks yang tertulis tentang sanad di dinding bangunan makam akan menjadi perbincangan dan membangun horison pikiran, sikap dan perilaku para peziarah. Di sanalah mitos harusnya diolah menjadi etos kemudian logos.

Narasi itu harus dilanjutkan dengan aktivitas gerakan sekaligus aktivitas intelektual. Berbagai bentuk gerakan sosial dan aktivitas intelektual berupa pencarian bukti-bukti sejarah dan penjelasan-penjelasan lebih mendalam tentang nilai-nilai, sejarah dan spirit perjuangan para awliya yang dimakamkan atau petilasannya banyak di kunjungi para pelaku ‘nyarkub’ menjadi aktivitas penting.

Komunitas peziarah makam awliya harus dikembangkan menjadi gerakan sosial sekaligus menjadi komunitas intelektual. Mereka yang membangun etos basis gerakannya secara mandiri, maupun mengembangkan struktur pengetahuan yang lebih genuin dan independen, baik secara metodologi atau hasil. Di sinilah aktivitas ziarah makam awliya harus mulai disertai dengan aktivitas dokumentasi, pencatatan, diskusi-diskusi intensif dari berbagai dimensi terkait tokoh atau petilasan yang dikunjungi.

Dengan itu semua spirit dan inspirasi dari para awliya atau shalihin dari masa lalu, akan terinternalisasi dengan perlahan kepada pelaku ziarah makam awliya. Spirit dan inspirasi menjadi bagian hidupnya di masa kini, dan akan terwujud dalam bentuk narasi serta gerakan sosial yang akan terwarisi dari generasi ke generasi.

Ziarah Kubur sesungguhnya adalah membangun horison, garis lurus yang menyambungkan ruang dan waktu. Ruang dan waktu yang ada di masa lalu, dihadirkan kembali oleh individu yang telah ‘menenggelamkan’ diri dalam spirit dan nilai yang dikembangkan oleh awliya dan shalihin dan akan dibawa terus ke masa depan melalui aktivitas membangun peradaban seperti pendidikan atau gerakan sosial.

Aktivitas rutin berziarah kubur atau nyarkub adalah upaya menyatukan aktivitas spiritual, intelektual dan sosial sekaligus, serta aktivitas mengangkat mitos, menjadi kekuatan pengetahuan (logos) kemudian menjadi etos dan spirit yang menggerakkan khidmah dan  kemanfaatan yang lebih luas. Semoga.

Share this post

Murdianto An Nawie
About the author

Penulis adalah Dosen Tetap Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta