Sudut Pandang

Prof. Maftukhin dan “Monumen” Kebhinnekaan

Prof. Maftukhin dan “Monumen” Kebhinnekaan

Judul: Cengkir Gading di Bumi Suci: Pergolakan Pemikiran dan Kepemimpinan Prof. Maftukhin (1967-2026)
Penulis: Akhol Firdaus
Penerbit: Diskursus Media
Tahun: 2026
Dimensi: 13.5 x 20 cm
Tebal: xii + 187

Mendung masih menyelimuti langit UIN SATU. Belum genap seratus hari kepergian Prof. Maftukhin, duka yang ditinggalkannya justru kian menyadarkan kita bahwa kehadiran sang guru besar itu betul-betul bermakna.

Raganya memang tidak lagi bersama kita, tapi keluhuran nilai yang beliau usung masih bernapas di setiap sendi kampus UIN SATU.

Melalui Cengkir Gading di Bumi Suci (2026), kita dapat merasakan betapa elegan warisan-warisan luhur itu.

Buku yang baru terbit ini ditulis oleh kolega dekat Prof. Maftukhin sendiri, Akhol Firdaus—akrab dengan sapaan Cak Akhol.

Kedekatannya tersebut menciptakan keintiman narasi dan topik perbincangan yang amat dalam sekaligus emosional, tanpa mengurangi validitas informasi isi buku.

Melampaui bias subjektivitas, seperti telah di-disclaimer Cak Akhol di bagian pembuka, karya ini lahir melalui ‘jalan rakawi.’

Suatu istilah yang merujuk pada pujangga sastra Jawa kuna. Mereka hidup dalam tradisi kepenulisan untuk mengabdi pada otoritas kebenaran (2026:9).

Dengan demikian, relasi dua personal antara penulis dan tokoh yang diulas menjadi model dalam penulisan buku ini.

Karya ini juga mengadopsi pendekatan yang dipakai oleh Ismail Fajrie Alatas: antropologi-sejarah. Metode ini melihat bagaimana otoritas keagamaan diartikulasikan melalui dimensi spiritual dan imajinasi. Hal terpentingnya adalah, dimensi metafisis tersebut justru perlu diamati pada tataran materialisasinya (2026:10).

Materialisasi inilah yang menjadi krusial dalam proyek Cak Akhol. Menampilkan bukti-bukti perwujudan konkret atas setiap refleksi, alam spiritual, dan imaji Prof. Maftukhin.

Ini adalah penggabungan dua pendekatan; tradisional-kontemporer. Jalan rakawi yang tradisional, dan metode Alatas mewakili sisi kontemporer.

Dengan cara yang telah diupayakan Cak Akhol, serta disokong oleh gaya tulisnya yang dialogis, karya tersebut menjadi lebih hidup.

Sintesa tradisional-kontemporer ini sekaligus menggambarkan sosok Pak Mafthukin secara utuh.

Beliau pribadi yang tidak bisa lepas dari nilai kesejarahan, tapi juga tetap jeli atas tuntutan zaman.

Perpaduan demikian yang membuatnya mampu menjadi diri progresif, dan lihai memapah lembaganya tanpa kehilangan jati diri.

Dengan bahasa lugas, cerita Cak Akhol mengalir deras mengenai ketokohan Pak Maftukhin. Sosoknya yang ambisius sekaligus penuh misteri tergambar apik.

Pembaca akan terbawa suasana dan terbenam dalam horizon teks. Menyelami pahatan kalimat penulisnya, sekaligus merasakan sepak terjang tokoh Maftukhin.

Di samping itu, buku Cengkir Gading di Bumi Suci ini juga menjadi sumber penting untuk menapaktilasi sejarah UIN SATU Tulungagung, paling tidak semasa kepemimpinan Pak Maftukhin (2010-2023).

Pergolakan intelektual dan spiritualnya mewujud dalam simbolisme-simbolisme yang kini identik dengan kampus tersebut.

Sederet arsitektur berdiri dengan kekayaan filosofi mendalam. Perpaduan unsur kejawaan dan keislaman membuat gedung atau bangunan itu tidak hanya tegak berdiri, tapi menjadikannya bernyawa.

Mungkin tidak banyak yang menyadari bagaimana hasil karya tersebut ditempa melalui refleksi filosofis serta melibatkan dimensi spiritualitas mendalam.

Konsep gedung-gedung, misalnya, yang sengaja dibangun dengan menyerap model garudamukha.

Nama ini merujuk pada makhluk mitologis yang selalu diidentikkan dengan tunggangan Dewa Wisnu. Tapi, di Jawa, garudamukha juga tidak lepas dari identitas Sri Airlangga, sebagai titisan Wisnu.

Salah satu pahatan patungnya dapat ditemukan di area Situs Gua Pasir di Ds. Junjung, Kec. Sumbergempol, Kab. Tulungagung.

Arsitektur demikian semakin menemukan keunikannya dalam penamaan gedung-gedung di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

Misal, pelekatan nama tokoh terhormat KH. Saifuddin Zuhri dan KH. Arief Mustaqiem. Nama yang merepresentasikan keislaman. Fakta ini memanifestasikan suatu peleburan dua entitas; Islam-Jawa.

Masih terkait gedung. Jika sebelumnya nama yang diambil merupakan simbolisasi keislaman, kali ini polanya berbeda.

Nama tokoh yang diangkat justru mewakili ajaran Budha atau tradisi lokal kuna, yaitu Prajnaparamita. Istilah ini dipersonifikasi kepada sosok Sri Gayatri Rajapatni. Tokoh historis yang masyhur dan dihormati oleh masyarakat Tulungagung.

Kehadiran simbol kebudhaan (juga kehinduan) semacam ini di tengah kampus Islam, menunjukkan bahwa sejatinya UIN SATU menjunjung spirit inklusivitas.

Tidak berhenti di situ saja, penyatuan unsur Islam-Jawa dapat ditemukan dalam logo UIN SATU sendiri. Logo tersebut rilis ketika perguruan tinggi ini baru beralih status menjadi IAIN pada 2013. Di dalamnya menyimpan makna kemanunggulan dan ketakberhinggaan substansi (ketuhanan).

Logo ini, jika dibaca dari kiri menjadi huruf “nga” dalam aksara Jawa, dan membentuk lafaz Allah jika diperhatikan dari kanan. “Nga” adalah huruf yang tidak dapat di-pangkon atau dimatikan.

Hal ini menyimbolkan ketakberhinggaan tadi. Sebagaimana Allah yang juga menyifati ketidakterbatasan. Tafsir lengkap logo dapat dipahami dalam buku.

Pak Maftukhin tidak hanya meng-ejawantah-kan tradisi lokal sebatas pada simbolisme saja.

Melebihi itu, sebagai perwujudan inklusivitasnya, beliau menciptakan UIN SATU sebagai arena perwujudan konsep Bhinneka Tunggal Ika.

Pada masa kepimimpinannya, Pak Maftukhin sangat terbuka dan mau “membentangkan” tikar untuk menyambut berbagai kalangan, tidak melulu komunitas Muslim saja.

Seperti ditunjukkan Cak Akhol, beragam kegiatan telah digelar dalam rangka bersahabat dengan para Penghayat Kepercayaan.

Berkat Pak Maftukhin, perguruan tinggi Islam negeri di Tulungagung ini bertransformasi menjadi rumah perjumpaan beragam elemen masyarakat.

Dengan kata lain, kebijakan Pak Maftukhin meruntuhkan syak wasangka dan membangun hidup harmoni di sekitar kampus. Beliau betul-betul merayakan ke-bhinneka-an Nusantara.

Fakta ini juga menegaskan bahwa apa yang telah dikiprahkan beliau berlandaskan pada suatu fondasi kokoh; barakna haulahu.

Sebagai seorang santri, Pak Maftukhin tetap berpijak pada nilai atau falsafah Al-Qur’an dalam mengembangkan institusi kampus.

Barakna haulahu itu sendiri misalnya, bermakna sebagai semangat untuk menjadikan kampus sebagai sumber yang memberkahi lingkungan sekitarnya.

Sikap inklusif dan mau merangkul seluruh elemen masyarakat ini menjadi bukti konkret realisasi nilai ini, sekaligus menguatkan ruh rahmatan lil ‘alamin.

Keteguhan jiwa kepemimpinan Pak Maftukhin dan kematangan cara berpikirnya telah terpupuk sejak lama.

Di masa mudanya, beliau telah aktif di berbagai jaringan dan lembaga advokasi. Seperti Lembaga Studi Agama dan Demokrasi (éLSAD), Center for Marginalized Communities Studies (CMARs), dan lain-lain.

Di samping itu, Pak Maftukhin juga tidak meninggalkan kultur pesantrennya.Tidak mengherankan jika kemudian sosoknya dikenal sebagai pemuda NU progresif.

Kekayaan modalitas inilah yang mampu mencetak Pak Maftukhin menjadi pemimpin luar biasa. Sebab beliau ditempa dalam ekosistem dialektis dan komunitas kultural yang membentuk watak kepemimpinannya.

Cak Akhol melalui buku ini telah mengabadikan warisan pemikiran Pak Maftukhin. Sedangkan UIN SATU menyimpan perwujudan pemikiran-pemikiran itu.

Pak Maftukhin memang yang mencetuskan, tapi karyanya adalah milik kita bersama.

Dengan demikian, buku Cengkir Gading di Bumi Suci tidak hanya mengabadikan warisan beliau, tapi juga dapat menjadi arah hidup bagi siapa saja yang membacanya. Terutama kita sebagai pelanjut estafet nilai-nilai luhur yang telah ditanamnya di UIN SATU. []

Share this post

Muhammad Afrizal Agung Laksono
About the author

Penulis adalah peneliti di Institute for Javanese Islam Research (IJIR), UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung