Saya pertama kali melihat fenomena velocity dance saat iseng berselancar di FYP TikTok.
Tiba-tiba, muncul video anak muda berjoget dengan memanfaatkan gerak tangan, dari kecepatan biasa, berubah menjadi lebih cepat.
Sejurus kemudian melambat menggunakan slow motion, sembari menggunakan mode patah-patah, dan diiringi musik yang makin lama kian dipercepat.
Sejenak saya berpikir: ini hasil editan atau memang tangannya bisa bergerak secepat itu?
Ya ternyata, itu adalah tren yang sedang viral—dan seperti biasa, tren di TikTok menular lebih cepat daripada kabar gaji ke-13 bagi ASN.
Semua kalangan, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, dan profesi apa pun, ikut mempraktikkan dance yang sedang viral ini.
Dalam kajian fisika, velocity mengacu pada kecepatan suatu benda dengan arah yang jelas.
Hal demikian berbeda dengan speed yang hanya berfokus pada kelajuan, velocity menekankan arah sebagai faktor utama (Sarkity and Sundari 2022).
Namun, di dunia TikTok, istilah ini mengalami metamorfosa: bukan lagi soal arah, tetapi lebih kepada kecepatan gerakan yang estetis dan dramatis.
Dalam sekejap, velocity dance menjadi tantangan bagi banyak pengguna TikTok, seolah mengajarkan kepada kita bahwa di era digital ini, semakin cepat, semakin menarik. Pun seringkali tak bermakna.
Lantas, apa yang membuat fenomena ini begitu diminati? Apakah ada makna yang lebih dalam dari sekadar joget cepat dengan efek visual memukau?
Velocity: Dari Herakleitos sampai Baudrillard
Bayangan saya, jika Herakleitos—filsuf Yunani Kuno pra-Sokratik itu—masih hidup dan bermain TikTok, lalu ditanya, “Mengapa velocity dance menjadi viral?”
Mungkin ia akan menjawab begini: “Ya jelas viral, karena segala sesuatu itu mengalir!”
Filsuf Yunani ini terkenal dengan konsep panta rhei—segala sesuatu terus bergerak dan berubah.
Jika ditelaah, fenomena velocity di TikTok adalah representasi modern dari gagasan ini: perubahan cepat, dinamika tanpa henti, dan dunia yang terus bertransformasi (Max 2023).
Namun, jika kita menggunakan sudut pandang Jean Baudrillard, ceritanya menjadi lebih kompleks lagi.
Baudrillard berbicara tentang hiperrealitas. Baginya, dunia yang kita konsumsi melalui media bukan lagi realitas sejati; second reality hasil dari simulasi yang menggantikan realitas itu sendiri.
Bayangkan jika kita melihat seseorang melakukan velocity dance secara langsung tanpa menggunakan efek digital.
“Seperti konsep velocity dalam fisika, kecepatan baru bermakna jika memiliki arah yang jelas.”
Mungkin ia tidak akan seimpresif seperti versi yang ada di TikTok, bukan?
Hal ini menunjukkan bahwa kita telah terbiasa dengan realitas yang dikonstruksi oleh teknologi.
Sesuatu harus dibuat lebih cepat, lebih estetis, dan lebih sensasional agar menarik perhatian. Padahal itu semua merupakan realitas semu.
Pada titik inilah, kita perlu bertanya, “Apakah kita sedang menikmati hiburan atau sedang terjebak dalam ilusi kesempurnaan digital?”
Sadar atau tidak, kecerdasan teknologi telah menjadi “makhluk yang serba tahu” sehingga dengan seenaknya mendikte kita dalam algoritmanya.
Ya, Baudrillad menyebut era seperti ini dengan istilah dunia simulakra.
Suatu era yang menganggap bahwa realitas tidak lagi penting sebab yang utama adalah bagaimana sesuatu bisa terlihat dan dikonsumsi oleh massa.
Jika Herakleitos mengajarkan bahwa perubahan adalah esensi kehidupan, maka Baudrillard justru mengingatkan kepada kita bahwa perubahan di era digital bisa jadi hanyalah permainan ilusi.
Kita terus bergerak, tetapi ke mana arah pergerakan itu? Apakah kita masih sadar akan realitas, atau jangan-jangan kita hanya mengikuti arus simulasi yang terus berputar tanpa henti?
Kecepatan yang Bermakna: Secuil Refleksi
Di era yang serba cepat ini, pertanyaan penting yang perlu kita ajukan adalah seberapa banyak dari kecepatan yang kita jalani benar-benar menjadi bermakna?
Dalam Islam, waktu memiliki posisi yang sangat penting. Al-Qur’an seringkali mengingatkan kita tentang nilai waktu (wa al-‘asr).
Hal ini menekankan perlunya kita melakukan refleksi dan kebijaksanaan dalam bertindak. Artinya, bergerak cepat bukan masalah, selama kita tahu ke mana arah yang kita tuju itu.
Fenomena velocity dance di TikTok menunjukkan bahwa manusia cenderung menyukai sesuatu yang cepat, dinamis, dan instan.
Namun Islam juga mengajarkan bahwa tidak semua yang cepat itu baik.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering diingatkan untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.
Karena sesuatu yang tergesa-gesa justru sering berujung pada penyesalan semata.
Jadi, sebenarnya apakah tren velocity dance ini bermanfaat? Tentu saja itu tergantung pada bagaimana kita memaknainya.
Jika kita maknai hanya sebatas hiburan dan ekspresi kreatif, maka hal itu sah-sah saja.
Namun jika tren ini mendorong kita menjadi orang serba terburu-buru, mudah bosan, dan kehilangan sensibilitas dalam berpikir, maka ini patut menjadi refleksi yang serius.
Dalam dunia yang terus bergerak ini, kita memang tidak bisa menolak kemajuan. Namun, bukan berarti kita harus mengikuti arus kecepatan tanpa arah.
Seperti konsep velocity dalam fisika, kecepatan baru bermakna jika memiliki arah yang jelas.
Oleh karena itu dibutuhkan kecepatan yang terarah. Kecepatan ini berorientasi pada pencarian makna yang jelas.
Teknologi, seperti apa pun bentuknya tetaplah alat buatan manusia. Ia memang bebas nilai. Tergantung siapa dan seperti apa penggunaannya.
Jadi jangan sampai teknologi itu justru berbalik arah menyetir manusia. Manusialah yang harusnya menyetir teknologi.
Di tengah luapan informasi tanpa jeda ini menentukan “me time” untuk sekadar refleksi sambil ngopi adalah opsi yang patut kita pilih dalam kehidupan sehari-hari.
Bukankah hidup itu untuk dinikmati selama mungkin kita bisa, lalu kenapa harus dilalui dengan buru-buru dan serba cepat?
Apalagi segala sesuatu yang berlebihan atau overdosis itu selalu kurang baik.
Seperti obat, dalam dosis tertentu ia merupakan penawar penyakit maupun racun. Namun dalam kadar yang berlebihan obat adalah racun mematikan. Begitulah kira-kira. []
Editor: Saiful Mustofa
