Seri Ramadan

Rabi’ah al-Adawiyah: Dari Sufi sampai Kritik Budaya Patriarki

Rabi’ah al-Adawiyah: Dari Sufi sampai Kritik Budaya Patriarki

Nama Rabi’ah al-Adawiyah mungkin tidak semasyhur para sufi besar lainnya. Apalagi ia adalah perempuan.

Ia juga tak memiliki ordo sufi seperti tarekat-tarekat yang kita kenal sampai sekarang ini. Rabi’ah al-Adawiyah juga tak pernah menulis kitab. Kecuali hanya syair-syair yang dinarasikan ulang melalui tulisan oleh beberapa pengikutnya.

Namun berbagai riwayat tentang totalitasnya dalam mencintai kekasihnya: Tuhan adalah perwujudan betapa Sang Pencipta memang tak pernah pandang bulu dalam memberikan karamah-Nya.

Ya, Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang sufi perempuan yang terkenal dengan konsep tasawuf cinta (hubb). Namun bukan cinta kepada manusia melainkan cinta kepada Sang Pencipta.

Cintanya bukan karena Allah mengiming-imingi surga atau menakut-nakuti dengan neraka. Sebab cinta yang murni tak mengharapkan apa-apa.

Salah satu syairnya yang terkenal:

“Tuhanku, jika Engkau kupuja karena takut pada neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika Engkau kupuja karena mengharapkan surga, maka jauhkanlah aku darinya. Namun jika Engkau kupuja semata-mata karena Engkau, maka janganlah sembunyikan kecantikan-Mu yang kekal itu dariku.”

Dalam beberapa riwayat seperti yang ditulis oleh Imam Dzahabi dan Ibn Mulqin, Rabi’ah Al-Adawiyah konon lahir sekitar tahun 100 H/717 M di dekat Kota Basrah (Irak) dan meninggal pada usia 80 tahun.

Ia dimakamkan di bagian Timur Yerusalem. Di puncak gunung Tur. Dalam riwayat itu, Rabi’ah Al-Adawiyah juga dikisahkan menikah dan mempunyai seorang anak.

Jadi tidak benar bila ada yang mengatakan bahwa Rabi’ah al-Adawiyah tak pernah menikah atau melajang sepanjang hidupnya.

Dalam salah satu riwayat lain, misalnya Lawaqihul Anwar Fi Tabaqat al-Akhyar, Rabi’ah al-Adawiyah dikisahkan sebagai seorang hamba yang tempat sujudnya bak air.

Itu lantaran saking banyaknya air mata yang menggenang setiap ia bermunajat kepada Allah Swt.

Tak hanya sampai di situ. Kisah ke-zuhud-an Rabi’ah al-Adawiyah juga banyak dinarasikan oleh banyak orang.

“Kehadiran Rabi’ah al-Adawiyah adalah simbol—kalau boleh saya analogikan—seperti teori tentang angsa hitam. Hanya butuh satu angsa hitam untuk menggugurkan pendapat bahwa semua angsa berwarna putih.”

Salah satu yang menarik adalah ketika Rabi’ah al-Adawiyah menolak semua lamaran para tokoh dan sufi lantaran tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya.

Namun yang tak kalah menarik dari kisah-kisah ke-zuhud-an Rabi’ah al-Adawiyah adalah kehadirannya merupakan simbol perlawanan atas patriarki dalam sejarah Islam klasik.

Sehingga kehadiran Rabi’ah al-Adawiyah dalam belantika tasawuf menegaskan bahwa memang tak ada klasifikasi atau diferensiasi gender dalam memenangkan hati-Nya.

Ada pernyataan menarik yang ditulis oleh Leila Ahmed—feminis Muslim kondang dari Mesir itu.

Dalam bukunya yang masyhur itu, Women and Gender in Islam: Historical Roots of Modern Debate, ia membangun suatu argumentasi tentang bagaimana ordo sufi sejak awal menganggap perempuan sebagai salah satu kontributor penting bagi perkembangan tradisi mereka.

Salah satu tokoh sufi (perempuan) penting yang dimaksud oleh Leila Ahmed itu tidak lain adalah Rabi’ah al-Adawiyah. Narasi tentangnya, menggambarkan dengan jelas adanya kontra-budaya terkait dengan gender.

Lebih jelasnya, tradisi Islam klasik pada masa itu mengatur dengan ketat relasi (pergaulan) antara laki-laki dan perempuan berdasarkan aspek biologis dan seksualitas.

Tradisi itu kemudian didobrak oleh Leila Ahmed dengan menghadirkan dialog antara tokoh sufi besar yang sangat dihormati, Hasan al-Basri dengan Rabi’ah al-Adawiyah.

Dalam dialog itu, konon Hasan al-Basri menghabiskan malam dengan Rabi’ah al-Adawiyah mendiskusikan tentang “Jalan” dan “Kebenaran”.

Selama diskusi itu ia tak sadar kalau lawan bicaranya adalah perempuan. Sampai suatu ketika ia memandang wajah Rabi’ah al-Adawiyah dan merasa menjadi seorang yang “bangkrut” alias tak bernilai secara spiritual.

Kisah lain yang tak kalah menarik adalah ketika Hasan al-Basri mendekati Rabi’ah al-Adawiyah yang sedang bermeditasi dengan beberapa sahabat di tepi sungai.

Hasan al-Basri kemudian melemparkan karpetnya ke air. Ia duduk di atasnya dan memanggil Rabi’ah al-Adawiyah untuk datang dan berbincang dengannya.

Karena mengerti bahwa Hasan al-Basri ingin pamer kemampuan spiritual dan membuat orang-orang terkesan. Maka sejurus kemudian Rabi’ah al-Adawiyah melemparkan kerpetnya ke langit dan ia duduk di atasnya.

Sambil duduk di sana ia berkata, “Wahai Hasan, kemarilah agar orang-orang dapat melihat kita dengan lebih baik.” Hasan al-Basri terdiam, karena ia tidak mampu terbang.

“Wahai Hasan,” kata Rabi’ah kemudian, “apa yang kaulakukan dapat dilakukan oleh seekor ikan dan apa yang kulakukan dapat dilakukan oleh seekor lalat. Pekerjaan yang sesungguhnya (bagi para waliyullah) berada di luar kedua hal ini.

Kisah serupa lainnya ketika Ka’bah berjalan menghampiri Rabi’ah al-Adawiyah saat ia berziarah ke Mekah. Ia kemudian berkomentar, “Apa peduliku dengan rumah ini, yang aku cari adalah pemilik rumahnya.”

Bahkan seorang sufi terkemuka bernama Ibrahim bin Adham merasa iri dan cemburu kepada Rabi’ah al-Adawiyah lantaran Ka’bah yang didatangi selama bertahun-tahun malah pergi meninggalkannya dan lebih memilih menemui seorang perempuan sufi.

Dengan demikian, selain menolak gagasan sempit soal seksualitas dan relasi laki-laki perempuan, semua narasi itu—dalam pandangan Leila Ahmed—juga menggambarkan bahwa betapa seorang laki-laki sekaligus sufi besar tak mampu mengimbangi perempuan yang memiliki kelebihan.

Narasi itu boleh jadi fiktif sebab secara historis, rentang periode kehidupan mereka terpaut lumayan jauh. Namun yang lebih penting bukan soal fiksi atau nyata melainkan pesan yang terkandung di dalamnya.

Dengan kata lain, perempuan bisa setara atau bahkan mengalahkan laki-laki dalam banyak hal termasuk soal kesalehan dalam beragama. Pun bukan berarti sejarah sufi semuanya bebas dari narasi dan ajaran yang misogini.

Kehadiran Rabi’ah al-Adawiyah adalah simbol—kalau boleh saya analogikan—seperti teori tentang angsa hitam. Hanya butuh satu angsa hitam untuk menggugurkan pendapat bahwa semua angsa berwarna putih.

Jadi hanya butuh seorang sufi perempuan (hebat) untuk menyangkal bahwa semua sufi (hebat) itu adalah laki-laki. Begitulah kira-kira.[]

Share this post

Saiful Mustofa
About the author

Penulis Buku "Media Online Radikal dan Matinya Rasionalitas Komunikatif" (2019) serta "Juru Kunci" di Diskursus Institute.