Seri Ramadan

Abu Yazid al-Bustami dan Suluk di Era Modern

Abu Yazid al-Bustami dan Suluk di Era Modern

Dalam khazanah tasawuf—di Indonesia khususnya—nama Abu Yazid al-Bustami (804–874 M) atau Bayazid al-Bustami, merupakan salah satu tokoh sufi terkemuka yang telah melanglang buana dalam rihlah ruhaniyyah (perjalanan spiritual).

Salah dua di antara konsep yang terkenal darinya adalah tentang اﻟﻔﻧﺎء (fana’)—lenyapnya eksistensi diri dalam wujud Ilahi—dan اﻟﺑﻘﺎء (baqa’)—keberadaan dalam kesadaran Ilahi—menjadi bagian integral dalam perkembangan pemikiran tasawuf.

Konsep-konsep ini tidak hanya mempengaruhi aliran tasawuf pada masanya, tetapi juga menjadi fondasi bagi banyak tarekat sufi dan pemikiran spiritual Islam hingga saat ini (Ernst, 2019: 124).

Tahapan Awal Suluk

Abu Yazid al-Bustami dilahirkan di Bustam, Persia (sekarang Iran), dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan.

Sejak kecil, ia menunjukkan kecenderungan kepada ilmu-ilmu keislaman dan menjalani kehidupan zuhud; melepaskan diri dari ketergantungan duniawi.

Abu Yazid al-Bustami dikenal sebagai sosok yang tekun dalam ibadah dan memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi.

Ia berguru kepada berbagai ulama dan ahli tasawuf, di antaranya Syaikh Abu ‘Ali as-Sindi, yang membimbingnya dalam menempuh maqamat (tahapan-tahapan spiritual) dalam tasawuf (Nurbakhsh, 2020).

Syaikh Abu ‘Ali as-Sindi dikenal sebagai seorang sufi yang mengajarkan pentingnya riyadhah an-nafs, yaitu latihan spiritual untuk mengendalikan nafsu dan mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam perjalanannya, Abu Yazid melakukan berbagai bentuk riyadhah, seperti اﻟﺧﻠوة (khalwat, menyepi dalam ibadah), اﻟﺻوم (shaum, puasa), dan اﻟذﻛر (dzikr, mengingat Allah).

Latihan-latihan ini bertujuan untuk mencapai pemurnian hati dari segala bentuk syahwat dan hasrat duniawi. Menurut Abu Yazid (Azra: 2019), hati yang bersih adalah prasyarat utama untuk mencapai maqam spiritual yang lebih tinggi.

Fana’: Lenyapnya Ego dalam Wujud Ilahi

Konsep اﻟﻔﻧﺎء (fana’) dalam pemikiran Abu Yazid al-Bustami merujuk pada pelepasan total dari kesadaran akan diri sendiri hingga yang tersisa hanyalah keberadaan Allah.

Dalam salah satu maqalah-nya yang terkenal, ia berkata:

ﺧَرَﺟْتُ ﻣِنْ ﺑَﯾَﺎزِﯾْد ﻛَﻣَﺎ ﺗَﺧْرُجُ اﻟْحيةَ ﱠُﻣِنْ ﺟِﻠْدِھَﺎ

Artinya: “Aku telah keluar dari Bayazid sebagaimana ular yang keluar dari kulitnya.”

Pernyataan ini menurut Hidayat (2022) menggambarkan bagaimana ia telah meninggalkan keterikatan terhadap nafsu dan eksistensi ego demi meraih kedekatan dengan Allah.

Dalam keadaan fana’, seorang sufi tidak lagi merasa dirinya sebagai entitas yang berdiri sendiri, tetapi menjadi satu dengan kehendak Ilahi.

Konsep ini sering dijelaskan sebagai keadaan di mana seorang hamba “lenyap” dalam wujud Tuhan, sehingga yang ada hanyalah Allah.

Konsep fana’ ini juga menjelaskan maqalah kontroversialnya:

ﺳُﺑْﺣَﺎﻧِﻲ، ﻣَﺎ أَﻋْظَمَ ﺷَﺄْﻧِﻲ

Artinya: “Mahasuci Aku, betapa agungnya kedudukanku.”

Pernyataan ini bukanlah bentuk kesombongan melainkan ekspresi mistis dari seseorang yang telah sepenuhnya melebur dalam wujud Ilahi.

Dalam sudut pandang tasawuf, ini adalah keadaan wahdatul wujud; di mana seorang hamba tidak lagi melihat dirinya sebagai entitas terpisah dari Allah.

Namun, sebagian ulama lain menafsirkan pengalaman Abu Yazid lebih dekat dengan wahdat al-shuhud, yaitu kesaksian bahwa hanya Allah yang eksis secara hakiki, sementara segala sesuatu lainnya hanyalah pantulan keberadaan-Nya.

Dalam konsep wahdat al-shuhud, seorang sufi tetap menyadari keberadaan makhluk tetapi melihatnya dalam keterikatan mutlak kepada Allah (Sells, 2021).

Baqa’: Hidup dalam Kesadaran Ilahi

Setelah fana’, seorang sufi mencapai tahap اﻟﺑﻘﺎء (baqa’), yaitu tetap hidup di dunia, tetapi dalam keadaan shahwah atau kesadaran Ilahi. Dalam maqam ini, seorang salik kembali kepada realitas duniawi dengan membawa kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupannya (Mulyati, 2020).

Seorang sufi yang telah mencapai baqa’ tidak lagi terjebak dalam kepentingan duniawi, melainkan menjalani kehidupan dengan hikmah dan rahmat, sebagaimana dikatakan oleh Bayazid al-Bustami:

“Aku ingin meninggalkan dunia, tetapi aku mendengar suara berkata: Wahai Abu Yazid, Kami tidak menciptakanmu untuk dirimu sendiri, tetapi untuk menghidupkan hati para pencari Tuhan.”

Maqam baqa’ ini menegaskan bahwa meskipun seorang sufi telah mengalami al-ghaybah atau lenyapnya kesadaran akan dunia, ia tetap kembali kepada masyarakat.

Hal demikian dilakukan semata-mata sebagai perwujudan atas perintah Allah untuk memberikan bimbingan dan menjadi pelita bagi para murid yang mencari jalan menuju Tuhan (Morris, 2022).

Dalam keadaan baqa’, seorang sufi hidup dalam keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara tugas-tugas sosial dan pengalaman spiritual.

Pengaruh dan Warisan Pemikirannya

Pemikiran Abu Yazid al-Bustami memberikan pengaruh besar dalam perkembangan tasawuf, terutama dalam mazhab tasawuf yang menekankan pengalaman mistis seperti yang berkembang dalam tasawuf falsafi.

Pemikirannya banyak menginspirasi sufi-sufi besar setelahnya, seperti Al-Hallaj dan Jalaluddin Rumi (Bruinessen, 2018).

Bahkan konsep fana’ dan baqa’ yang diperkenalkan oleh Abu Yazid al-Bustami juga menjadi fondasi bagi pendekatan tarekat-tarekat sufi yang berkembang setelahnya, terutama dalam memahami perjalanan spiritual menuju al-ma’rifah; pengetahuan hakiki tentang Tuhan.

“Dalam keadaan fana’, seorang sufi tidak lagi merasa dirinya sebagai entitas yang berdiri sendiri, tetapi menjadi satu dengan kehendak Ilahi.”

Gagasan ini menurut Syukur (2020) kemudian mempengaruhi diskursus tasawuf dalam berbagai tradisi, baik dalam bentuk tasawuf teoretis maupun tasawuf praktis.

Selain itu, pemikirannya juga turut mewarnai perkembangan sufisme di dunia Islam, termasuk di dunia Melayu-Nusantara.

Konsep fana’ dan baqa’ banyak diadaptasi dalam karya-karya ulama Nusantara seperti Syekh Yusuf al-Makassari dan Hamzah Fansuri.

Hal ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh Abu Yazid dalam perkembangan pemikiran tasawuf lintas generasi dan budaya.

Bertasawuf di Era Modern

Dalam era kontemporer, Woodward (2023) menganggap bahwa konsep fana’ dan baqa’ dapat menjadi pelajaran berharga bagi manusia modern dalam menghadapi kompleksitas kehidupan duniawi.

Dengan menghilangkan ke-aku-an dan membangun kesadaran spiritual yang lebih tinggi, seseorang dapat menemukan ketenangan batin serta menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan harmonis.

Seperti halnya upaya membangunkan diri dari mimpi khayalan ego yang menakar dirinya dalam kehidupan. Dan sering kali terjatuh pada aspek material belaka, tanpa tersingkap hakikatnya ‘menjadi” manusia seutuhnya (Nasr, 1994).

Konsep ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam kepemilikan materi, tetapi dalam penyatuan diri dengan Sang Pencipta.

Abu Yazid al-Bustami juga mengajarkan pentingnya tawadhu’ (kerendahan hati) dan ikhlas dalam beribadah.

Dalam kehidupan modern yang seringkali dipenuhi oleh kompetisi dan keinginan untuk menonjolkan diri, ajaran ini menjadi relevan untuk mengingatkan kita bahwa kesuksesan sejati terletak pada pengabdian kepada Allah dan pelayanan kepada sesama (Siregar, 2022).

Meskipun pemikiran Abu Yazid al-Bustami diakui sebagai salah satu puncak pencapaian spiritual dalam tasawuf, tidak sedikit yang mengkritik konsep-konsepnya, terutama yang berkaitan dengan fana’ dan wahdatul wujud.

Beberapa ulama menganggap bahwa pernyataan-pernyataan seperti “Mahasuci Aku” dapat disalahartikan bagai bentuk kesombongan atau bahkan kekufuran.

Namun, para sufi membela bahwa pernyataan tersebut harus dipahami dalam konteks pengalaman mistis. Suatu pengalaman di mana seorang sufi telah melebur dalam wujud Ilahi sehingga yang berbicara sebenarnya adalah Allah melalui dirinya pribadi (Baldick, 2020: 156).

Sehingga jika melihat bagaimana edan-nya dunia saat ini, maka ajaran tasawuf Abu Yazid al-Bustami ini menjadi semakin relevan adanya.

Setidaknya, ajaran zuhud-nya bisa menjadi pepeleng penting bahwa kehidupan di dunia ini semuanya hanya semu semata. []

Editor: Saiful Mustofa

Share this post

M. Atho'Illah Naufal F.
About the author

Penulis adalah Staff Media, Informasi, dan Teknologi di Majelis Masyayikh & Mahasiswa Magister Kajian Timur Tengah Universitas Indonesia