Di kelas-kelas filsafat yang saya ampu, saya sering memulai perkuliahan dengan sebuah pertanyaan yang tampak sederhana: “Apa makna uang bagi Anda?”
Pertanyaan itu selalu menimbulkan keheningan singkat sebelum mahasiswa mulai menjawab dengan berbagai ragam makna: alat bertahan hidup, sumber kecemasan, simbol kemandirian, atau bahkan sekadar angka di layar gawai.
Menariknya, setiap jawaban mengandung cara pandang yang berbeda terhadap realitas.
Di titik inilah, filsafat dan manajemen keuangan bertemu: keduanya sama-sama berusaha memahami bagaimana manusia memaknai, memperlakukan, dan mengambil keputusan terkait sesuatu yang sering dianggap sangat material—uang.
Pertemuan dua disiplin ilmu ini mungkin tidak lazim. Filsafat bekerja dengan gagasan abstrak, pertanyaan menukik dan mendasar, dan refleksi kritis.
Sementara manajemen keuangan berurusan dengan angka, arus kas, dan pilihan rasional. Namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, terutama kehidupan mahasiswa, kedua ilmu ini saling menembus dan saling menghidupi.
Pemikiran, bahasa, nilai, dan emosi sering kali lebih menentukan keputusan finansial dibanding perhitungan ekonomi semata.
Dan di era banjir informasi seperti sekarang ini, bahasa yang digunakan dalam ruang publik—baik informasi komersial maupun sosial—menjadi faktor krusial yang memengaruhi cara mahasiswa memaknai dan mengelola uang mereka.
Filsafat: Mengapa Kita Mengambil Keputusan Seperti Itu?
Filsafat sejak awal keberadaannya tidak hanya menyoal realitas, tetapi juga tindakan manusia.
Aristoteles dalam Ethica Nicomachea menulis bahwa manusia bertindak berdasarkan tujuan yang ia anggap sebagai kebaikan.
Artinya, setiap keputusan finansial mahasiswa—entah membeli kopi kekinian, ikut healing, atau memilih menyimpan uang—selalu berakar pada anggapan tertentu tentang apa yang baik bagi dirinya.
Namun filsafat juga mengingatkan bahwa manusia tidak selalu mengetahui alasan terdalam dari tindakannya.
Dalam tradisi fenomenologi, Edmund Husserl (1913) menekankan pentingnya kembali pada pengalaman langsung untuk menemukan struktur makna tindakan keseharian (Zurück zu den Sachen selbst!).
Jika diterapkan pada praktik finansial, pengalaman mahasiswa terkait uang bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan aktivitas bermakna yang dipengaruhi oleh persepsi, bahasa, dan dunia sosial di sekitarnya.
Lebih jauh lagi, filsafat bahasa menegaskan bahwa bahasa tidak hanya menggambarkan realitas, tetapi juga membentuknya.
Ketika seorang mahasiswa mengatakan “uang itu cepat habis”, ia tidak hanya menggambarkan pengalaman, tetapi juga memperkuat kerangka pikir bahwa uang adalah entitas yang lari dari genggaman.
Dalam perspektif Ludwig Wittgenstein dalam Philosophical Investigations, bahasa adalah rumah kenyataan. Cara kita berbicara tentang uang memengaruhi cara kita mengelolanya.
Manajemen Keuangan: Rasional, tapi Jarang Benar-Benar Rasional
Ilmu manajemen keuangan mengandaikan bahwa manusia membuat keputusan secara rasional: mengukur risiko, menghitung biaya, mempertimbangkan manfaat.
Namun penelitian dalam behavioural finance menunjukkan sebaliknya. Ada pernyataan menarik dari Daniel Kahneman—penulis Thinking, Fast and Slow, sekaligus pemenang nobel ekonomi itu.
Menurutnya manusia, termasuk mahasiswa, sering kali bertindak tidak rasional karena dipengaruhi oleh emosi, tekanan sosial, dan terutama bahasa yang membingkai suatu pilihan.
Frasa-frasa seperti “self reward”, “biar nggak ketinggalan”, atau “cuma 15 ribu” adalah bentuk framing linguistik yang memengaruhi persepsi seseorang terhadap nilai uang.
Secara teknis, angka “15 ribu” tetaplah 15.000 rupiah, tetapi ketika dibungkus dengan kata “cuma”, nilai itu dipersepsikan lebih kecil dan lebih layak dikeluarkan.
Dalam hal ini, Richard Thaler (1999) menyebutnya sebagai mental accounting, yakni cara manusia memberi makna sosial-psikologis pada uang, bukan makna matematis.
Di sinilah manajemen keuangan bertemu filsafat: keduanya membantu kita bertanya kembali: “Mengapa kita menganggap sesuatu itu layak dibeli?”
“Mengapa kita merasa uang hilang, padahal digunakan sesuai kebutuhan?”
“Mengapa kita lebih mudah mengeluarkan uang daripada menyimpannya?”
Jawabannya sering kali berada bukan pada logika angka, tetapi pada logika makna.
Bahasa sebagai Pengarah Keputusan Finansial
Bahasa tidak pernah netral. Dalam kajian pragmatik, makna suatu ungkapan ditentukan oleh konteks dan tujuan penuturnya (Levinson, 1983).
Ketika iklan menampilkan frasa “mulai dari 10 ribu”, fokusnya bukan pada total harga, tetapi pada stimulus minimal yang tampak murah.
Ketika teman berkata “ngopi biar waras”, frasa itu menyelipkan pembenaran bahwa pengeluaran tersebut adalah kebutuhan psikologis.
Ini bukan sekadar permainan kata. Dalam perspektif hermeneutik, bahasa adalah medium penafsiran.
Manusia memahami dunia bukan secara langsung, tetapi melalui simbol-simbol bahasa yang ia terima dan produksi sendiri.
Maka ketika mahasiswa memutuskan sesuatu, mereka sebenarnya sedang menafsirkan realitas finansial berdasarkan bahasa yang mereka konsumsi sehari-hari.
Dalam konteks ini, discourse analysis ala Michel Foucault relevan.
Foucault (1972) menekankan bahwa wacana bukan hanya kumpulan kata, tetapi jaringan kekuasaan yang membentuk cara berpikir masyarakat.
Wacana gaya hidup mahasiswa yang diproduksi melalui media sosial adalah salah satu bentuknya.
Narasi “anak muda harus menikmati hidup” memengaruhi pola pengeluaran lebih kuat daripada pemahaman tentang manajemen risiko atau prinsip keuangan.
Keputusan Finansial sebagai Tindakan Etis
Filsafat juga menyoal dimensi etis dari tindakan manusia. Keputusan finansial mahasiswa bukan hanya pilihan pribadi, tetapi juga terkait dengan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain.
Dalam etika kebajikan Aristoteles, kebiasaan baik (hexis) dibentuk melalui tindakan berulang. Artinya, kedisiplinan dalam mencatat pengeluaran, membatasi konsumsi, atau menyusun anggaran bukan hanya keterampilan teknis, melainkan latihan moral menuju kebajikan.
Dari sudut pandang manajemen keuangan, tindakan finansial yang baik bukan sekadar efisiensi, tetapi keberlanjutan.
Menanggung hutang konsumtif, misalnya, bukan hanya persoalan matematika, tetapi persoalan filosofis: apakah tindakan itu mencerminkan kebebasan atau perbudakan terhadap hasrat?
Apakah keputusan tersebut konsisten dengan tujuan hidup yang lebih besar?
Pada titik tertentu, filsafat membantu mahasiswa bertanya bukan hanya “bagaimana” mengelola uang, tetapi “untuk apa” mereka mengelola uang.
Dan manajemen keuangan menyediakan kerangka praktis untuk memastikan bahwa jawaban filosofis tersebut dapat diwujudkan dalam tindakan konkret.
Menjembatani Dua Dunia
Pada akhirnya, pertemuan filsafat dan manajemen keuangan bukanlah hal mustahil. Filsafat memberi kerangka berpikir kritis dan kesadaran reflektif mengenai makna tindakan finansial.
Sedangkan manajemen keuangan memberikan alat teknis untuk mengelola sumber daya secara bijak. Keduanya saling melengkapi seperti dua sisi mata uang.
Bahasa adalah jembatan di antara keduanya. Melalui bahasa, kita mengkritisi narasi yang memengaruhi keputusan keuangan.
Melalui bahasa pula, kita menyusun strategi finansial yang selaras dengan nilai-nilai yang kita yakini.
Dalam kehidupan mahasiswa, kemampuan berbahasa secara kritis adalah modal intelektual yang sama pentingnya dengan kemampuan menghitung pengeluaran.
Mengelola uang ternyata bukan hanya persoalan angka, tetapi juga persoalan makna. Dan keduanya menjadi bagian penting dalam manajemen kehidupan kita sehari-hari. []
Editor: Saiful Mustofa
