Sudut Pandang

Islam, Rasionalitas, dan Pembebasan: Warisan Intelektual Asghar Ali Engineer

Islam, Rasionalitas, dan Pembebasan: Warisan Intelektual Asghar Ali Engineer

Namanya adalah Asghar Ali Engineer (1939-2013). Ia lahir dari keluarga Dawoodi Bohra—suatu komunitas Syiah Ismailiyah di kota Salumbar, negara bagian Rajasthan, India.

Sebagai anak dari seorang ulama lokal, ia sejak kecil sudah akrab dengan tradisi keagamaan. Namun, jalur akademisnya justru berbeda: ia menempuh pendidikan teknik sipil di Universitas Vikram, Ujjain, dan sempat berkarier sebagai insinyur di Bombay Municipal Corporation (Engineer, 2022: 324).

Di sinilah keunikan Asghar Ali Engineer muncul. Ia bukan produk madrasah maupun fakultas syariah, melainkan seorang insinyur sipil yang kemudian “banting setir” menjadi pemikir Muslim progresif.

Keputusannya meninggalkan dunia teknik bukan karena gagal, tetapi karena gelisah. Ia melihat langsung ketidakadilan, konflik antaragama, diskriminasi perempuan, dan kemiskinan di India.

Maka membangun jalan dan jembatan saja tidak cukup. Baginya ada bangunan sosial yang lebih rapuh: struktur keadilan.

Disiplin Teknik, Logika Sosial

Sebagai seorang insinyur, Asghar Ali Engineer terbiasa berpikir secara sistematis, analitis, dan berorientasi pada pemecahan masalah nyata.

Dalam dunia teknik sipil, sebuah rancangan tidak cukup hanya indah di atas kertas, tetapi juga harus terbukti kokoh saat diuji di lapangan. Pola pikir inilah yang kemudian ia bawa ke dalam wacana keagamaan.

Bagi Engineer, teks agama tidak bisa diperlakukan sebagai kumpulan dogma yang beku, melainkan sebagai “peta” yang senantiasa terbuka untuk diuji ulang dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Seperti seorang insinyur yang menakar kekuatan fondasi sebelum membangun jembatan, ia pun menimbang ayat, tafsir, atau tradisi: apakah benar-benar mampu menopang nilai keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan atau tidak.

Dalam Islam dan Teologi Pembebasan (2021), Engineer berargumen bahwa rasionalitas adalah kebutuhan mutlak untuk menafsirkan agama agar tetap relevan dengan zaman, bukan untuk merusaknya, melainkan untuk membebaskannya dari mitos yang membelenggu.

Sikap kritis ini mencerminkan nalar teknokrat yang terbiasa mengukur dan menguji kekuatan struktur sebelum berdiri kokoh.

Dari pola pikir seperti itu lahirlah keberanian Engineer untuk melihat agama bukan sebagai benda mati, melainkan konstruksi hidup yang terus dirawat, diperkuat, serta disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Teologi Pembebasan: Membaca Agama untuk Kehidupan

Gagasan utama yang membuat Engineer dikenal luas adalah Islamic Liberation Theology atau teologi pembebasan Islam.

Istilah itu memang memiliki persinggungan dengan teologi pembebasan Amerika Latin ala Gustavo Gutierrez dan Leonardo Boff.

Itu bisa dilacak dari keberpihakan pada kaum miskin tertindas, kritik terhadap struktur ketidakadilan, dan pembacaan agama yang berorientasi praksis.

Namun, Engineer tidak sekadar menyalin gagasan tersebut. Ia mengembangkan corak yang khas Islami, dengan bertolak dari al-Qur’an, sejarah Nabi saw., serta tradisi intelektual Islam.

Bagi Engineer, inti Islam adalah pembebasan. Tauhid bukan hanya konsep teologis, tetapi fondasi sosial.

Bagi dia, tauhid tidak hanya menolak politeisme, tetapi juga menolak segala bentuk eksploitasi manusia atas manusia. Tauhid berarti pembebasan dari segala bentuk dominasi.

Dari konsep itu lahir sejumlah agenda (Engineer, 2000): pertama, keadilan sosial. Islam harus membela kaum miskin dan tertindas.

Kedua, kesetaraan gender. Dalam konteks ini, tidak ada superioritas laki-laki atas perempuan dalam al-Qur’an, dan patriarki hanyalah hasil tafsir bias budaya.

Ketiga, pluralisme. Islam harus hidup berdampingan dengan agama lain dalam dialog dan solidaritas.

Keempat, kritiktradisi. Tafsir lama yang membekukan agama perlu direkonstruksi agar tetap segar dan relevan.

Melawan Fundamentalisme dan Dogmatisme

Engineer berulang kali berhadapan dengan kelompok konservatif yang merasa terusik oleh gagasannya.

Di lingkungan internal komunitas Dawoodi Bohra, ia bahkan dikucilkan karena dengan tegas menentang praktik otoritarianisme keagamaan yang menurutnya telah mengekang kebebasan berpikir dan mematikan dinamika umat.

Sementara itu, dalam lingkup yang lebih luas, ia sering mendapat serangan verbal dan tuduhan ideologis, dicap sebagai pemikir “liberal” atau “Barat” yang dianggap merusak kemurnian ajaran Islam.

Namun, segala bentuk resistensi itu tidak membuatnya surut. Engineer tetap konsisten pada pandangannya.

Dalam buku Islam Masa Kini (2004) ia mengatakan bahwa fundamentalisme pada dasarnya adalah upaya melarikan diri dari kenyataan modernitas.

Ia berusaha menciptakan kepastian semu, padahal dunia justru bergerak ke arah kompleksitas.

Kritiknya memang tajam, tetapi tujuannya jelas: mengembalikan agama pada fungsinya sebagai sumber etika dan energi pembebasan, bukan sebagai alat legitimasi politik identitas.

Relevansi di Indonesia

Buku-buku karya Engineer telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan menjadi rujukan penting di berbagai kampus Islam, baik dalam kajian teologi, studi gender, maupun wacana pluralisme.

Kehadiran pemikirannya memberi ruang baru bagi diskursus akademik di Indonesia yang selama ini kerap terhimpit antara tradisi konservatif dan tuntutan modernitas.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, gagasan-gagasannya terasa semakin relevan.

Engineer mengingatkan kita bahwa Islam seharusnya tampil sebagai kekuatan yang membebaskan manusia dari belenggu diskriminasi dan ketidakadilan, bukan sebagai instrumen yang mengekang kebebasan berpikir dan berekspresi.

“Bagi Engineer, inti Islam adalah pembebasan. Tauhid bukan hanya konsep teologis, tetapi fondasi sosial.”

Di tengah meningkatnya arus konservatisme keagamaan, pemikiran Engineer tentang keadilan gender, pluralisme, dan dialog antaragama hadir laksana angin segar yang membuka cakrawala baru.

Ia membuktikan bahwa agama tidak harus diposisikan berlawanan dengan demokrasi, feminisme, dan modernitas.

Sebaliknya, agama dapat berdialog secara kritis dengan ketiganya, tanpa kehilangan ruh spiritualnya.

Dengan demikian, Islam tampil bukan hanya sebagai sistem kepercayaan, tetapi juga sebagai etika hidup yang dinamis, inklusif, dan relevan bagi zaman.

Warisan dan Tantangan

Engineer meninggal pada tahun 2013, tapi gagasan-gagasannya tetap hidup dan terasa aktual hingga kini.

Ia meninggalkan jejak penting yang tidak hanya tercatat dalam literatur akademik, tetapi juga dalam tradisi panjang pergulatan intelektual Islam modern.

Dari seorang insinyur sipil ia menjelma menjadi seorang teolog progresif, dan dari seorang teknokrat ia bertransformasi menjadi pejuang pembebasan.

Ia membuka jalan bagi pembacaan Islam yang berpihak pada keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan.

Namun, warisannya juga menghadapi tantangan. Pertama, resistensi dari kelompok konservatif yang menolak reinterpretasi.

Kedua, risiko “akademisasi” pemikirannya yang berhenti di ruang diskusi tanpa praksis sosial.

Dan ketiga, bagaimana gagasan pembebasan bisa membumi di masyarakat yang kompleks seperti Indonesia, yang acapkali agama terjebak dalam politik identitas.

Sehingga Engineer mengingatkan kita bahwa agama tidak boleh hanya dipeluk, tetapi harus diperjuangkan sebagai energi pembebasan.

Dalam konteks mutakhir, ketika agama kerap dijadikan alat politik dan sumber perpecahan—dari bawah tanah—suara Engineer terasa semakin menggelegar: “Islam harus hadir sebagai kekuatan pembebasan, bukan beban bagi kemanusiaan.” []

Editor: Saiful Mustofa

Share this post

Mizanul Akrom
About the author

Penulis adalah Wakil Sekretaris Pengurus GP Ansor Kab. Kebumen-Jawa Tengah Masa Khidmat 2024-2028