Sri Aji Jayabaya—Raja Kerajaan Kediri itu—memiliki kepribadian yang sangat menarik.
Sebab dalam tradisi Agama Hindu-Budha, ia dikenal sebagai titising (penjelmaan) Bathara Wisnu; salah seorang Dewa atau Bathara yang bertugas ‘Memayu hayuning bawana’ (memelihara alam semesta atau memakmurkan bumi seisinya).
Sebagai satriya (ksatria) titising Bathara Wisnu, tak mengherankan jika sejak kecil Sri Aji Jayabaya telah menunjukkan kecerdasan dan kepintarannya dalam berbagai ilmu.
Tak ayal Sri Aji Jayabaya dikenal sebagai ‘jalma limpat seprapat tamat’ (orang yang pandai dan benar-benar ahli di bidang olah rasa atau Kebatinan).
Dan, sejak kecil pula ia gemar menjalani hidup prihatin sebagaimana Sidharta Gautama yang kemudian dikenal sebagai Sang Budha setelah mendapatkan pencerahan.
Tak berlebihan kiranya jika Sri Aji Jayabaya memiliki bakat yang melekat dalam dirinya dan jarang dimiliki kebanyakan orang, yakni menjalani tapa brata atau semadi sebagai ekspresi keprihatinan hidup.
Merujuk dalam cerita pewayangan, tokoh yang dikenal sebagai titising Bathara Wisnu yang terkenal, seperti Sri Bathara Kresna (Raja Dwarawati) dan Sri Rama Wijaya (Raja Pancawati) yang keduanya selain memiliki trah (keturunan) yang baik sebagai putra raja, keduanya juga sama-sama menjadi raja-binathara (raja besar).
Prabu Kresna adalah putra Prabu Basudewa, Raja Mandura, sedang Prabu Rama Wijaya adalah putra Prabu Dasarata Raja Ayodya.
Dan, sebagai titising Bathara Wisnu, maka Sri Bathara Kresna dan Sri Rama Wijaya memiliki peran yang sangat besar dalam menjalankan tugasnya ‘memayu hayuning bawana’.
Sebagai seorang Raja-binathara yang berhasil mengantarkan masa kejayaan dan keemasan Kerajaan Kediri, lantas apa dan bagaimana konsep dan strategi serta gebrakan dalam kepemimpinannya?
Masa Kejayaan dan Keemasan Kediri (1135-1157 M)
Kemasyhuran nama Sri Aji Jayabaya bukan hanya karena ketajaman mata batinnya memprediksi masa depan melalui Jangka Jayabaya dan keluhuran trah (keturunan) dari para pertapa saja, tetapi terutama pada faktor kepemimpinannya. Ia berhasil membawa Kerajaan Kediri mencapai puncak masa keemasan atau masa kejayaannya pada tahun 1135-1157 M.
Sri Aji Jayabaya menjadi Raja Kediri dengan bergelar Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.
Masa kejayaan Kerajaan Kediri di bawah kepemimpinan Sri Aji Jayabaya (1135-1157 M) melampaui kepemimpinan ayahnya Prabu Gendrayana (Sri Bameswara) dan kakeknya Prabu Yudayana (Sri Jayawarsa).
Pun demikian dengan putranya Raden Jaya Amijaya dan cucunya Prabu Anglingdarma Raja Malawapati.
Ketika Sri Maharaja Jayabaya berkuasa, daerah kekuasaannya semakin meluas yang berawal dari Jawa Tengah meluas hingga ke seluruh daerah Pulau Jawa.
Bahkan pengaruh dan kebesaran nama Kerajaan Kediri juga sampai ke Sumatera yang dikuasai Kerajaan Sriwijaya.
Kejayaan atau masa keemasan Kerajaan Kediri di bawah kepemimpinan Sri Maharaja Jayabaya terdapat dalam catatan dari kronik Cina yang disebut Chou Ku-fei pada tahun 1178 M.
Dalam kronik Cina tersebut disebutkan mengenai negeri paling kaya pada masa Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Sri Aji Jayabaya.
Karena konsep strategi kepemimpinan Sri Maharaja Jayabaya tersebut dilaksanakan dengan arif dan bijaksana serta menjunjung hukum yang berlaku, maka semua rakyatnya bersatu-padu mendukung pemerintahannya.
Seolah-olah rakyatnya pada saat itu memahami bahwa cita-cita Sri Aji Jayabaya dalam menjalankan tugas kepemimpinannya tersebut bukan hanya untuk keharuman Kediri saja, tetapi juga demi membawa kebesaran Nusantara.
Kebesaran dan kejayaan Kediri, di samping kepemimpinan Sri Aji Jayabaya, juga selalu mengutamakan kepentingan umum.
Hal itu tak terlepas dari kejeliannya dalam menyusun Undang-undang yang mengikat terhadap rakyatnya.
Pelaksanaan Undang-undang oleh rakyat dengan baik akhirnya membuahkan kesejahteraan, kemakmuran, dan ketentraman rakyat Kediri.
Dalam kepemimpinan Sri Aji Jayabaya juga memperhatikan persoalan hukum, pemerintahan, spiritual, sosial kemasyarakatan, budaya dan sebagainya.
Pendek kata Sri Aji Jayabaya sangat memperhatikan penanganan semua hal yang mencakup dukungan spiritual dan material kepada rakyatnya.
Sri Maharaja Jayabaya adalah seorang raja besar laksana Dewa Keadilan yang ngejawantah ing madyapada (menjelma di muka bumi), sehingga menjalankan kepemimpinan dengan adil dan bijaksana.
Bahkan, Sri Maharaja Jayabaya memiliki visi-misinya yang melesat jauh ke depan; menjadikan kepemimpinannya yang adil dan bijaksana kepada rakyatnya dikenang sepanjang masa.
Maka menjadi wajar jika rakyat Kediri kemudian banyak yang mengenang kepemimpinan Ratu gustine (Sri Maharaja Jayabaya), bahkan pada generasi selanjutnya.
Selama Sri Aji Jayabaya memegang kendali pemerintahan dan tata praja, Kerajaan Kediri hingga keadaan Nusantara saat itu sungguh sangat diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara, Asia Tengah dan Asia Selatan.
Kepemimpinannya telah berhasil mewujudkan Kerajaan Kediri yang ‘gedhe obore, padhang jagade, dhuwur kukuse, adoh kuncarane, ampuh kawibawane’ (besar cahayanya, terang keadaannya, tinggi pancarannya, jauh populernya atau dikenalnya, dan hebat kewibawaannya).
Konsep Saptawa
Lalu, apa dan bagaimana konsep strategi kepemimpinan sebagai program utamanya?
Sri Maharaja Jayabaya memiliki Konsep Saptawa yang identik dengan pemenuhan terhadap tujuh wa: 1) Wastra (sandang), 2) Wareg (pangan), 3) Wisma (papan), 4) Wasis (pendidikan), 5) Waras (kesehatan), 6) Waskitha (keruhanian) dan 7) Wicaksana (kebijaksanaan).
Bila diurai lebih detail, konsep Saptawa yang dijalankan Sri Maharaja Jayabaya tersebut mengarah pada pemenuhan tiga komponen manusia: kebutuhan terhadap jasmani, rohani dan nurani.
Selain itu Sri Maharaja Jayabaya dalam kepemimpinannya juga memberlakukan banyak sistem dan perundang-undangan mengenai berbagai hal misalnya, sistem perundang-undangan, sistem peradilan Kerajaan Kediri, hukum positif dan budaya simbolik, sosial budaya, ekonomi, sastra, dsb.
Dengan demikian kepemimpinan Sri Maharaja Aji Jayabaya meliputi berbagai bidang, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah.
Maka meskipun Sri Maharaja Jayabaya laksana Dewa Keadilan yang menjelma di muka bumi, tetapi hal itu bukan berarti ia bertindak otoriter atau sewenang-wenang dalam menerapkan penegakan hukum dan keadilan.
Hal itu tercermin, misalnya pada masa kepemimpinannya di Kediri yang sudah terdapat sistem Perundang-undangan Kerajaan yang disusun oleh para ahli hukum yang tergabung dalam Dewan Kapujanggan Istana. Produk hukum yang telah dihasilkan oleh dewan tersebut yaitu Kitab Darmapraja.
Kitab itu merupakan karya pustaka yang berisi Tata Tertib Penyelenggaraan Pemerintahan dan Kenegaraan.
Dalam soal pengadilan, Raja selalu mengikuti Undang-undang ini, sehingga adil segala keputusan yang diambilnya, membuat puas semua pihak.
Demikian halnya dengan sistem peradilan Kerajaan Kediri pada saat itu berjalan secara normatif.
Artinya sistem peradilan tersebut berjalan sesuai dengan koridor hukum karena bertujuan untuk mencapai kepastian hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan dan kerajaan.
Dengan adanya kepastian hukum, maka hak dan kewajiban semua warga kerajaan dapat dijamin. Aparat dan rakyat menghormati hukum atau darma semata-mata demi terjaganya kepentingan bersama (Stutterheim, 1930).
Menurut Moedjanto (1994) dalam soal pengadilan, Raja dibantu oleh dua orang Adidarma Dyaksa.
Adidarma Dyaksa Kasiwan dan Adidarma Dyaksa Kabudan adalah kepala agama Siwa dan kepala agama Buda dengan sebutan Sang Maharsi.
Karena kedua agama itu merupakan agama utama dalam Kerajaan Kadiri dan segala Perundang-undangan didasarkan padanya.
Sementara itu, dalam masa pemerintahan Sri Maharaja Jayabaya, prinsip pelaksanaan kenegaraan terbagi menjadi dua yakni hukum positif dan budaya simbolik.
Di samping hukum positif dan simbolik, bila terjadi pelanggaran maka hukuman dan sangsinya bersifat gaib-spiritual.
Pujangga yang diberi tugas menulis kitab spiritual itu di antaranya adalah Empu Sedah dan Empu Panuluh.
Mereka ibaratnya seperti jalma sulaksana (manusia cerdik pandai) yang telah memperoleh kedudukan istimewa di sisi Sri Maharaja Jayabaya.
Pada masa itu, Kediri benar-benar mencapai puncak peradaban dengan lahirnya kitab-kitab hukum dan kenegaraan sebagaimana terhimpun dalam karya-karya Kakawin Bharatayudda oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh, Kakawin Gathotkacasraya dan Hariwangsa oleh Empu Panuluh yang hingga kini merupakan warisan ruhani bermutu tinggi.
Sementara itu dalam upaya memakmurkan dan menyejahterakan rakyatnya, Sri Maharaja Jayabaya memiliki strategi kepemimpinan yang mengagumkan.
Ibukota Kerajaan Kediri di Dahana Pura yang berada di bawah kaki Gunung Kelud itu tanahnya memang subur, sehingga cocok untuk pertanian.
Hampir semua tanaman di wilayah tersebut tampak menghijau karena kesuburan tanahnya.
Apalagi terdapat Sungai Brantas yang membelah di tengah kutaraja (Dahana Pura) yang berfungsi mengaliri persawahan dan banyak dijumpai beraneka ragam jenis ikan yang mengandung protein dan bergizi tinggi.
Selain di bidang pertanian, dalam kehidupan perekonomian Kediri saat itu juga bersumber atas usaha perdagangan, dan peternakan.
Kediri pada saat itu terkenal sebagai penghasil beras, penghasil kapas, memelihara ulat sutra, dan sebagainya.
Berdasarkan keterangan dari Kitab Chi-Fan-Chi dan Kitab Ling-wai-tai-ta bahwa perekonomian Kediri saat itu sangat makmur dan maju pesat.
Sementara untuk menopang penghasilan kerajaan diberlakukan sistem pajak dari komoditas dagang berupa beras, emas, perak, daging, kayu cendana dan sebagainya. Adapun bentuk pajaknya berupa beras, kayu dan palawija.
Kehidupan keagamaan yang berkembang di Kerajaan Kediri saat itu adalah Agama Hindu aliran Waisnawa (Airlangga titisan Wisnu).
Sri Aji Jayabaya selaku Raja Kediri selalu memberikan tauladan dalam menjalankan peribadatan dengan mengadakan semadi atau meditasi di tengah hutan sebagai ekspresi keprihatinan hidup.
Sementara dalam kehidupan sosial-budaya pada masa kepemimpinan Sri Aji Jayabaya juga menunjukkan peradaban yang baik, misalnya ditandai rakyatnya sudah memakai kain sampai di bawah lutut, rambut diurai, serta rumahnya bersih dan rapi.
Sri Maharaja Jayabaya selaku Raja memberikan perhatian yang tinggi kepada rakyatnya. Hal itu seperti terungkap dalam Kitab Lubdaka yang berisi mengenai kehidupan sosial masyarakat beradab pada saat itu.
Kejayaan pemerintahan Sri Maharaja Jayabaya juga tak terlepas dari warisan karya di bidang hukum tata negara dari pemerintahan sebelumnya yakni Kakawin Kresnayana karya Empu Triguna.
Karya ini berisi tentang dinamika ilmu hukum dan tata praja yang diwariskan dari pemerintahan Prabu Jayawarsa di Kediri atau Panjalu tahun 1104 M.
Poerbatjaraka dalam bukunya Kapustakan Jawi (1957) berargumen bahwa Prabu Jayawarsa memang menjadi patron bagi para pujangga yang hidup di zamannya dalam mengembangkan dinamika ilmu hukum dan tata praja.
Sang Raja memberikan fasilitas kepada para cendekiawan yang berbakat untuk mengaktualisasikan idealismenya.
Selain itu ada lagi karya hukum dan tata praja yaitu Kakawin Smaradahana dan Kakawin Bomakawya karya Empu Dharmaja.
Menurut Teeuw (1946) Kitab Smaradahana menceritakan Batara Kamajaya yang punya sifat keagungan.
Sedang Kitab Bomakawya menceritakan cara memimpin yang berdasarkan pada nilai keadilan dan perdamaian.
Karya Sastra dan Kemajuan Peradaban
Kemajuan suatu pemerintahan bergantung dari seberapa majunya karya sastra yang dihasilkannya.
Sebab karya sastra yang identik dengan serat, kitab, kakawin yang maknanya buku merupakan “jendela dunia” dan sekaligus sebagai tolok-ukur maju-tidaknya suatu negara.
Demikian halnya pada zaman Kerajaan Kediri.
Kemajuan dan kejayaan masa pemerintahan Sri Maharaja Jayabaya karena berkembangnya karya sastra pada saat itu.
Banyak karya sastra yang dihasilkan pada masa pemerintahan Sri Aji Jayabaya.
Sri Aji Jayabaya pernah memerintahkan kepada Empu Sedah untuk mengubah Kitab Bharatayudda ke dalam Bahasa Jawa Kuno tapi tidak selesai.
Maka tugas itu kemudian dilanjutkan oleh Empu Panuluh.
Dalam kitab itu, nama Sri Jayabaya disebut beberapa kali sebagai sanjungan kepada rajanya.
Kitab Bharatayudda tersebut ditandai dengan candra sengkala; “Sangakuda suddha candrama” (1079 Saka atau 1157 M). Selain itu, Empu Panuluh juga menulis Kitab Gatutkacasraya dan Hariwangsa.
Pada masa pemerintahan Sri Aji Jayabaya juga ditulis karya sastra, seperti Kitab Wertasancaya karya Empu Tan Akung; yang berisi petunjuk tentang cara membuat syair yang baik.
Kitab Smaradhahana karya Empu Dharmaja; berupa kakawin yang digubah oleh Empu Dharmaja.
Kitab itu berisi pujian kepada raja sebagai seorang titisan Dewa Kama. Kitab itu juga menyebutkan bahwa nama ibu kota kerajaannya adalah Dahana.
Dan Kitab Lubdaka karya Empu Tan Akung. Kitab itu berisi kisah Lubdaka sebagai seorang pemburu yang mestinya masuk neraka.
Namun karena pemujaannya yang istimewa, ia ditolong dewa dan rohnya diangkat ke surga.
Begitulah kira-kira secuil catatan kegemilangan peradaban Nusantara kuno yang diwakili suatu masa kerajaan yang kita kenal sampai sekarang dengan nama Kediri. []
