Wartakita

Membaca Masa Lalu: Melacak Akar Historis Prasasti Sumberingin Kulon

Membaca Masa Lalu: Melacak Akar Historis Prasasti Sumberingin Kulon

Sabtu, 25/10/2025, Prodi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Satu Tulungagung berkerja sama dengan Komunitas Asta Gayatri dan Diskursus Institute menggelar “ngaji” prasasti.

Berlokasi di pendapa Prasasti Sumberingin, sebuah situs bersejarah yang dikenal juga sebagai Prasasti Batu Tulis, berlokasi di desa Sumberingin Kulon, Ngunut, Tulungagung.

Saiful Mustofa, selaku sekretaris jurusan Adab UIN SATU Tulungagung, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengabdian kepada masyarakat pada kesempatan kali ini dikemas secara berbeda dari biasanya, dengan menggabungkan diskusi kelompok terarah (FGD) dan pembacaan isi peninggalan sejarah berupa prasasti.

“Pengabdian Masyarakat kali ini berbasis program studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) sengaja kami buat dengan ngangsu kaweruh, menimba pengetahuan dari sumber sejarah yang nyata: prasasti. Sehingga ke depan, masyarakat akan mengenal jejak masa lalu dan merawat dengan kesadaran utuh,” tegasnya.

Kegiatan FGD ini dipandu oleh Lana Faizatussulaimah, alumni SPI UIN SATU, serta menghadirkan dua narasumber dari komunitas ASTA Gayatri sebagai narasumber, yaitu Sugeng Riadi dan Ichwan Nugroho, yang dikenal sebagai pegiat pelestari aksara Jawa kuno.

Mengenal Prasasti Sumberingin dan Makna di Balik Aksara

Lana sebagai moderator memberikan pengantar prasasti Sumberingin merupakan sumber tertulis yang mencatat persis waktu, tokoh dan peristiwa yang terjadi pada sumberingin dengan bertuliskan menggunakan aksara kawi atau jawa kuno.

Selanjutnya, Ichwan Nugroho menerangkan bahwa prasasti Sumberingin merupakan prasasti yang cukup komplit, ada lencana yang menunjukkan ciri peninggalan kerajaan Kadiri.

“Prasasti Batu Tulis atau Sumberingin di belakang ini penanggalannya tertulis angka tahun 1926 Saka, kalau masehi sekitar 1204. Dikeluarkan pada masa Sri Maharaja Kertajaya, raja terakhir kerajaan Kadiri. Ditandai dengan adanya lencana pada prasasti.” Imbuhnya.

Isi prasasti memuat tentang penetapan wilayah Buntel — nama sebelum sumberingin, sebagai daerah perdikan atau sīma. Sīma merupakan wilayah yang memperoleh hak istimewa berupa pembebasan pajak dan pengelolaan hasil bumi untuk kepentingan masyarakat maupun untuk keagamaan.

Lebih lengkap lagi, Adi — sapaan akrab Sugeng Riadi, menguraikan istilah yang terbaca pada prasasti Sumberingin.

“Dalam prasasti ditemukan istilah amaṅana salwir i rājamaṅśa, artinya agar makan segala jenis rajamangsa atau makanan yang disuguhkan dan dimakan oleh raja serta orang tertentu.

Ini merupakan tanda kehormatan bagi penerima anugerah sīma. Selain itu, muncul pula istilah mabata tembok, membuat bata untuk tembok.

Hal itu menunjukkan keterampilan membuat bata oleh masyarakat sumberingin telah ada sejak abad ke-13 dan terus diwariskan hingga kini,” sambungnya.

Istilah lain yang muncul dan dapat dibaca adalah jenis tanaman seperti hampyal gading (bambu kuning) dan panasa (nangka) yang menunjukkan pemanfaatan sumber daya alam.

Detail-detail semacam ini menurut Adi tidak hanya menunjukkan prasasti bukan hanya dokumen administratif, tetapi juga rekaman budaya yang menggambarkan keseharian masyarakat kerajaan Kadiri, bahkan diwariskan hingga kini masih ditemukan penggunaan pohon nangka digunakan dalam membangun rumah.

Bagian yang menarik perhatian peserta ketika membincangkan prasasti merupakan sapatha atau kutukan raja yang tercantum dalam isi prasasti, yang ditujukan bagi siapapun yang berani melanggar atau merusak ketetapan raja.

Adi membacakan bagian tersebut “upadrawa yan saba tgal samběrn iŋ glap, yan pareŋ wwai siṅhapěn iŋ wuhaya, yan pareŋ alas dmakn iŋ macan, patuken iŋ ulā wisa,”

Yang artinya “Celaka bagi siapa pun yang melanggar ketetapan ini. Bila pergi ke ladang, disambar petir; bila ke sungai, dimangsa buaya; bila ke hutan, diterkam macan; dan bila di jalan, dipatuk ular berbisa,”

Ancaman seperti ini menurut penjelasan narasumber berfungsi sebagai perisai moral dan spiritual agar masyarakat menghormati terhadap keputusan raja. Pelanggaran terhadap prasasti dianggap sebagai tindakan melawan tatanan kosmis.

Masa Peralihan Wilayah Buntel ke Sumberingin

Pada sesi diskusi, Ichwan Nugroho menyinggung tentang perubahan nama dan wilayah dari Buntel — yang disebut dalam prasasti — menjadi Sumberingin seperti dikenal saat ini.

Peralihan nama ini berkaitan erat dengan munculnya pusat-pusat permukiman baru di sekitar sumber air dan pohon beringin besar yang menjadi penanda alam wilayah tersebut.

“Nama ‘Sumberingin’ berasal dari dua kata: sumber yang berarti mata air dan ringin berarti beringin.

Secara toponimi, perubahan dari Buntel ke Sumberingin menandai pergeseran orientasi masyarakat dari kawasan administratif ke kawasan yang berpusat pada sumber kehidupan, yakni air,” ungkap Ichwan.

Dalam legenda setempat, Suryanto selaku juru pelihara dan keturunan demang setempat yang turut hadir dalam kegiatan ini, mengisahkan bahwa dikenal tokoh Mbah Sumber Banter Kerto Kusumo yang dipercaya menutup sumber air purba dengan emas dan ijuk untuk mencegah banjir.

“Keberadaan sumber air ini diduga ada kaitannya dengan kedung yang berada di sekitar lokasi pemakaman demang yang ada di Sumberingin Kidul, tempat dimakamkan Mbah Sumber Banter.

Ada sumber air yang menjadi kedung, dan disampingnya ada pohon beringin besar. Di makam ini juga ditemukan arca dan fragmen situs sumberingin,” papar Suryanto.

Cerita rakyat ini diduga merekam memori kolektif masyarakat tentang pengelolaan sumber air dan adaptasi lingkungan pada masa peralihan dari Buntel ke Sumberingin.

Penelusuran komunitas Asta Gayatri tahun 2025 menemukan indikasi adanya sungai bawah tanah (akuifer) atau sungai bawah tanah di kawasan sekitar 550 meter barat daya dari pemakaman demang.

Hal ini diperkuat dari cerita Lana yang juga masyarakat Sumberingin Kidul pernah menjumpai dari sumber lisan atau cerita tutur mengungkapkan, “berdasar cerita dulu pernah ditemukan semacam sumur namun airnya mengalir ketika masyarakat menggali tanah di SDN 1 Sumberingin, diduga itu sungai bawah tanah,”

Namun, dalam catatan arsip tentang penemuan prasasti sumberingin sudah terdaftar oleh Rogier Diederik Marius Verbeek dan Jan Laurens Andries Brandes pada tahun 1888.

“Verbeek pada tahun berikutnya, 1889, membuat daftar temuan artefak yang mencantumkan Prasasti Sumberingin. Dalam catatannya berbunyi ‘prasasti ini berada di Soemberringin-kidoel, District Ngoenoet, afdeeling Ngrawa, Residentie Kediri.

Prasasti ini dicatat berukuran besar dan memiliki lambang bagian depan yang berada di arah barat. Diberitakan bahwa prasasti ini aus dan sulit untuk dibaca.’ Artinya pada tahun tersebut sudah menggunakan penyebutan nama Sumberingin,” jelas Ichwan.

Dalam akhir kegiatan, Lana Faizatussulaimah menutup dengan pesan reflektif, “Membaca prasasti berarti membaca perjalanan manusia dan alam yang membentuk kita. Dari batu prasasti ini kita belajar warisan pengetahuan yang hidup di tanah Sumberingin,” tutupnya.

Acara diakhiri dengan foto bersama di depan prasasti Sumberingin disertai dengan semangat kolaborasi antara UIN SATU, komunitas ASTA Gayatri, dan masyarakat untuk terus merawat jejak peradaban. Setelah itu, dilanjutkan menelusuri arca yang ada di pemakaman demang.[]

Editor: Kowim Sabilillah

Share this post

About the author

Santri Pusat Kajian Filsafat dan Teologi (PKFT) Tulungagung