Sudut Pandang

Islam, Marxisme, dan Kerja Agraria

Islam, Marxisme, dan Kerja Agraria

 

Umat manusia sudah mempraktikkan ekonomi sejak zaman Nabi Adam. Kita bisa menengok lagi kisah Qobil (Cain) dan Habil (Abel), dua putera pasangan manusia pertama, Nabi Adam As dan Siti Hawa. Qobil adalah penggarap tanah, sementara Habil, katakan saja, sebagai penggembala kambing.

Qabil, kita tahu, pernah mempersembahkan hasil tanamannya kepada Tuhan. Dan Habil, mempersembahkan hasil ternaknya. Persembahan itu diadakan dalam rangka, semacam mengikuti perlombaan, siapa yang berhak menikahi Iklima, saudara kembar perempuan Qabil, yang pada awalnya sudah dijodohkan Tuhan untuk Habil. Dan Qabil tidak setuju, karena ia sendiri dijodohkan dengan saudara perempuan Habil, yakni Labuda, yang menurutnya tidak secantik Iklima.

Kelak persembahan Habil diterima Tuhan, karena dilakukan secara tulus: dengan mempersembahkan kambing yang paling bagus. Sementara persembahan Qabil ditolak, karena diniatkan secara main-main: dipilih dari buah-buahan yang buruk, bahkan sebagian besar busuk.

Tapi di sini kita tidak sedang membahas perihal kebaikan dan keburukan dalam kisah tersebut. Kita akan mengulik perihal topik “pekerjaan”. Dalam kisah masyhur tersebut, Qabil di zaman sekarang bisa kita anggap sebagai prototipe petani, dan segala jenis kerja mengolah alam. Sementara Habil, yang tak lain adik Qabil, kiwari bisa kita identifikasi sebagai prototipe pengusaha, beserta segala jenis pekerjaan di sektor tersebut.

Kecenderungan Qabil adalah cara hidup menetap, sementara Habil dekat dengan cara hidup melanglang. Karakter ekonomi yang melekat pada pekerjaan Qobil adalah hidup di dalam waktu, sedang pada Habil, hidup untuk mengejar waktu. Karena itu, jika Qobil menunggu ketepatan waktu (siklus musim), Habil membutuhkan perputaran waktu.

Dalam konteks kerja kesenian, misalnya, sebagaimana yang saya kutip dari Cyril Glasse, seni bagi orang yang menetap dekat dengan seni keruangan (spasial), seperti melukis, kaligrafi dan seterusnya. Jenis kesenian, yang dalam konteks ini, diilhami purwa-rupa berdimensi ruang. Sementara seni manusia pelancong-pengembara, atau zaman dulu disebut nomaden, identik dengan seni tulisan (seperti penyair, sastrawan dst). Karena dalam seni tulisan, terdapat pergantian peristiwa dari waktu ke waktu.

Pekerjaan paling “toleran” dengan ritual agama ada pada ranah pertanian: menjadi petani. Kerja di ranah pertanian juga paling dekat dengan esensi dalam ritual agama dan pemikiran marxian. Titik temu antara agama (dalam konteks Islam) dan marxisme ada dalam kerja agraris.

Kebudayaan manusia sepanjang (pra)sejarah memang melahirkan dua tradisi besar: tradisi berburu dan bercocok tanam. Dari dua tradisi ini mewariskan pada manusia corak seni yang sangat identik dengan model dua kebudayaan tersebut. Tradisi berburu melahirkan kebudayaan bertipe ”petarung”, sementara tradisi bercocok tanam menampakkan berbagai model dari pola mengolah, yang di zaman sekarang sudah tak lagi sesederhana gambaran di masa purbanya. Dua tradisi yang membawa beban waktu berbeda, dan—kalau kita tarik secara arketipalnya—warisan dari kebudayaan Qobil dan Habil.

Namun dalam cerita besar pembunuhan Habil oleh Qobil, secara metaforis juga dapat ditarik pengertian kiasan mengenai penghancuran dimensi ruang oleh dimensi waktu (Cyril Glasse, 1999: 151). Di era kini, entah mengapa pekerjaan dengan orientasi menetap seperti bertani, atau semua jenis pekerjaan yang berhubungan dengan kegiatan menanam, mengolah alam, tak terlalu banyak diminati anak muda jika dibanding pekerjaan bertipe melanglang. Kerja yang membutuhkan jiwa petualang, dan mobilitas yang tinggi, barangkali seperti Youtuber, misalnya, kian berjaya dan menjadi idola.

Mengunggulkan Lagi Kerja Bertani

Cara manusia berproduksi menentukan cara berpikirnya, ujar Karl Marx, saya kutip dari Hikmat Budiman, yang mengutipnya dari Fromm. Manusia pada dasarnya adalah homo faber, makhluk yang suka bekerja. Melalui kerja, terjadi proses partisipasi aktif antara alam dan manusia. Dan dengan mengubah alam, manusia sebenarnya turut mengubah dirinya sendiri.

Dengan demikian, kerja adalah medium yang menghubungkan manusia dengan alam secara langsung, dan menjadi penentu esensi kemanusiannya. Kontak antara manusia dengan alam yang paling dekat, tak berjarak, juga yang paling murni, masih lekat dengan aktivitas agraris: dunia para petani dengan sawah-ladangnya.

Clifford Geertz dalam buku The Religion of Java—diterjemahkan dalam edisi Indonesia dengan judul Agama Jawa (2013: 311), melalui rekaman catatan etnografinya di tahun-tahun itu, pernah menulis bahwa pola sembahyang sesuai benar dengan siklus kehidupan sehari-hari petani. Sembahyang pukul 5 pagi menyebabkan ia bangun pagi dan bekerja lebih awal. Tengah hari atau pukul 2 siang, pekerjaan selesai dan sembahyang yang kedua bisa dikerjakan untuk diikuti dengan makan pada hari tersebut serta tidur siang pada puncak panasnya udara.

Pada pukul 3 atau 4, ia bangun untuk sembahyang asar, kemudian bisa kembali lagi ke sawah kalau pekerjaannya berat. Bertandang ke tetangga pada sore hari yang sejuk dan berakhir di langgar untuk melaksanakan sembahyang magrib. Lalu, ia pulang ke rumah untuk makan malam, sembahyang isya, dan berangkat tidur malam.

Sementara (pekerjaan) di kota—yang lekat dengan mobilitas tinggi/di sektor jasa—kesesuaiannya dengan pola sembahyang tidak sebaik itu. Walau pemilik toko selalu bisa meluangkan waktu lima menit untuk melaksanakan sembahyang di belakang tempat mereka berdagang. Pekerjaan di kota lainnya bisa menimbulkan masalah.

Dalam laporan etnografi tersebut, Geertz pernah berkenalan dengan seorang santri yang berhenti bekerja mengemudi taksi dan kembali menjadi petani, gara-gara pekerjaan mengemudi membawanya pada perjalanan jauh yang tidak memungkinkannya mengerjakan sembahyang dengan benar, lagi tepat pada waktunya.

Lalu apa hubungan ide Karl Marx dengan paparan etnografi Geertz? Jenis pekerjaan yang masih lestari dari zaman dulu hingga sekarang, juga yang paling alamiah, adalah di ranah pertanian. Bahwa di masa ketika Geertz menuliskan penelitian etnografinya, dan barangkali masih sama dengan kondisi sekarang, pekerjaan paling “toleran” dengan ritual agama ada pada ranah pertanian: menjadi petani. Kerja di ranah pertanian juga paling dekat dengan esensi dalam ritual agama dan pemikiran marxian. Katakanlah, titik temu antara agama (dalam konteks Islam) dan marxisme ada dalam kerja agraris.

Bertani bisa menjadi ladang amal, jika diniatkan untuk menghidupi keluarga dan menyambung hidup. Di lain sisi, pekerjaan bertani di sawah-ladang juga bisa dilakukan dengan cara: seperti penghayatan dalam ritual ibadah. Mencangkul adalah gerak menghayati ritual rukuk; mencabuti rumput berasosiasi dengan ritual bersujud, dan seterusnya, dan seterusnya. Apa masih perlu saya sertakan basis ayat-ayat dari kitab suci sebagai penguat kebaikan dan kebajikan kerja di ranah pertanian ini?

Sementara itu marxisme, menyumbangkan penghayatan mengenai alam dan manusia yang terhubung secara dekat, nyaris tanpa jarak dari sisi aktivitas kerjanya. Dalam hakikat aksi/kerja tersebut, alam dan manusia di sana saling menghayati dan mengeksplorasi—bukan mengeksploitasi, yang dibenci marxisme. Ya, aktivitas kerja yang paling dekat dengan esensi paham marxisme adalah bertani. Lagi pula, bertani adalah kerja paling berkarakter subsisten (mengambil secukupnya), yang dekat dengan model-model mengolah cara desa-desa tradisional.

Sementara kerja di lokasi-lokasi pabrik dan industri, apalagi di pertambangan, termasuk di sektor-sektor jasa, pastilah kian menjauhkan manusia dari penghayatan terhadap alam.

Kerja di dunia industri, pertambangan, dan jasa, selain tenaga buruh diperas untuk kepentingan bos besar yang tak kelihatan (kapitalisme), dari kaca mata kebudayaan dan agama juga paling banyak menyumbang kerusakan terhadap keduanya: kultur natural dan relijiusitas manusia.

Konkretnya, sektor industri, pertambangan, dan seterusnya, sering menjadi sumber malapetaka dan bencana alam dibanding sektor agraris. Dari aspek agama, karakter kerja akumulatif pada industri dan jasa ikut menekan naluri alamiah manusia, yang pada sektor agraris justru dibuka-lepas sehingga membuatnya tersirkulasi dengan baik. Kultur kerja akumulatif pada bidang industri inilah, salah satunya, yang ikut menyumbangkan situasi-situasi buruk dan kesemrawutan bernegara yang kita rasakan akhir-akhir ini.

Untuk memahami paragraf-paragraf terakhir tulisan ini, biar tercerahkan dan tidak salah paham, saya sarankan sebaiknya dilanjut dengan membaca esai W.S Rendra berjudul: Seks Menjadi Binal Ketika Kebudayaan Jadi Akumulatif.

Share this post

Misbahus Surur
About the author

Penulis dan Editor di portal nggalek.co