Jagat dangdut Solo Raya dan sekitarnya tengah diguncang dengan keberadaan Orkes melayu (OM) Lorenza. Grup musik ini berhasil menyita animo masyarakat dengan aliran dangdut lawasnya.
Ini adalah anomali jika disandingkan dengan realitas yang ada. Sejauh ini, publik Solo Raya boleh dikata begitu lekat dengan dangdut koplo.
Lihat saja hajat-hajat yang ada, entah personal maupun komunal, dangdut koplo selalu menjadi opsi utamanya.
Sementara, jika kita lihat realitas lainnya, eksistensi dangdut lawas di Solo Raya nampak begitu lesu.
Publik juga tak menunjukan antusias maupun minatnya terhadap dangdut lawas. Akan tetapi, dalam beberapa bulan belakangan ini, seluruhnya seolah-olah berbalik.
Dalam konteks ini, OM. Lorenza telah berhasil menggeser kuasa dangdut koplo.
Lihat saja hajat-hajat desa yang sebelumnya diisi dengan dangdut koplo, kini diisi oleh OM. Lorenza dengan dangdut lawasnya.
Amati juga atensi publik terhadap pemanggungan OM. Lorenza di jagat media sosial. Mereka mempertontonkan sambutan yang baik terhadap grup musik ini.
Saya rasa, ini adalah sebuah fenomena. Dan tindakan menjungkirbalikan selera publik bukanlah perkara mudah.
Perlu waktu yang panjang ataupun tekanan yang masif. Namun, OM. Lorenza nyatanya mampu melakukan hal itu secara tiba-tiba dan dengan waktu yang singkat.
Lantas, layak dipertanyakan, mengapa peristiwa tersebut bisa terjadi?
Stigma
Harus kita akui bersama bahwa lanskap dangdut belakangan ini begitu akrab dengan kericuhan, utamanya dangdut koplo.
Tak sedikit penonton yang saling baku hantam hanya karena bersenggolan kala bergoyang.
Ada juga penonton yang ribut dengan pemain musik karena tidak terima jika konsernya telah berakhir. Padahal kontrak waktu konsernya memang telah usai.
Keributan demi keributan dalam dangdut koplo akhirnya menjadi melekat. Imbasnya, tak sedikit publik yang menilai bahwa konser dangdut koplo bak padang kurusetra.
“OM. Lorenza menjelma oase di tengah membuncahnya stigma buruk tentang dangdut.”
Demikian juga penilaian terhadap penonton dangdut koplo yang kerap dicap kampungan, tukang rusuh, dan tukang ribut. Stigma-stigma ini tumbuh dan seolah-olah dipelihara terus menerus oleh masyarakat.
Sesungguhnya, berbagai upaya telah dilakukan demi menafikan stigma tersebut.
Mulai dari pelarangan konser dangdut koplo di tempat yang dianggap rawan, pengetatan keamanan kala konser, hingga munculnya fenomena jogetan ‘temon holic” yang pernah populer beberapa tahun lalu.
Setiaji (2022) menunjukkan bahwa fenomena dangdut jadul OM. Lorenza ini berupaya untuk mengaburkan stigma buruk pada dangdut koplo melalui jogetan.
Jogetannya dibuat asik, serentak, seragam, dan riang gembira. Jogetan itupun menjadi magnet tersendiri, membuat kebanyakan penonton terpana, yang akhirnya berhasil menjauhkan keributan-keributan yang ada sebelumnya.
Sayangnya, jogetan itu hanyut dengan sendirinya. Sebab, tak setiap orang mampu mengikuti jogetan yang penuh patahan tersebut.
Tak setiap orang juga mampu membawa jogetan ini di setiap daerahnya. Imbasnya, keributan dalam dangdut koplo tetap tereproduksi.
Hingga saat ini, stigma tersebut masih dipelihara oleh kebanyakan publik, bahkan semakin membuncah.
Pembuncahan itu dikarenakan kebanyakan publik tak mampu memilahkan antara sub genre dangdut dengan dangdut.
Padahal, dangdut adalah induk dari anak-anaknya; dangdut koplo, keroncong dangdut (congdut), hip-hop dangdut (hipdut), dan seterusnya.
Imbasnya, stigma buruk yang tadinya hanya melekat pada dangdut koplo akhirnya disamaratakan ke seluruh peranakan dangdut.
Tentu saja ini tak adil sebab tak seluruh peranakan dangdut dekat dengan keributan. Dalam konteks ini, OM. Lorenza menjelma oase di tengah membuncahnya stigma buruk tentang dangdut.
Ia hadir untuk menyegarkan dan menafikan stigma tersebut melalui konsep kelawasannya.
Saya kira, hal inilah yang membuat OM. Lorenza disambut baik oleh publik.
Publik merasa bahwa OM. Lorenza bersama dangdut lawasnya mampu mengembalikan nama baik dangdut.
Oleh sebab itu juga, OM. Lorenza dengan tiba-tiba mampu menjungkirbalikan selera publik.
Lawas
Lawas memang kerap diasosiasikan dengan kuno, usang, dan ketinggalan zaman. Namun, ada asosiasi lain yang luput dibaca bertautan dengan lawas, yakni bernilai jual tinggi, halus, santun, dan bahkan keramat.
Dalam konteks ini, OM. Lorenza agaknya berhasil membawa nilai halus dan santun tersebut. Hal ini dapat dibaca melalui musik, busana, juga goyangan dalam pertunjukan yang dibawakannya.
Secara musikal, dangdut lawas tidak banyak ornamentasi musikal macam senggakan (kalau di dangdut koplo).
Tempo lagunya juga tak begitu cepat. Hal ini tentu berimbas pada goyangan yang dihasilkan.
Lihat saja goyangan para biduan dan pemain musiknya. Seluruhnya tampak lembut, halus, santun, dan geraknya tak berlebihan.
Kesantunan itu juga terlihat jelas dalam busana pemain dan biduannya. Tak ada busana yang kontras. Biduannya juga tak berpakaian minim dan berdandan molek.
Semuanya dibuat santun. Hal ini tentu saja dapat menghalau stigma buruk tentang sensualitas yang selama ini disematkan pada dangdut.
Hal tersebut menjadi penting jika dibaca melalui kacamata psikologi musik. dalam bukunya bertajuk.
Dalam perspektif ini, sejatinya musik mampu memengaruhi mental dari pemain bahkan penontonnya untuk diejawantahkan menjadi sebuah perilaku (Djohan, 2009).
OM. Lorenza kemudian hadir untuk membawa nilai kesantunan melalui musikalitas bahkan visual.
Lihat saja realitas dari para penontonnya. Mereka turut berjoget dengan santai, turut berdandan nyentrik ala 70 dan 80-an, bahkan ada penonton yang rela membawa atribut macam payung, tongkat, dan radio.
Semata-mata agar mereka dapat merayakan kelawasan yang diusung oleh OM. Lorenza.
Secara tidak langsung, dangdut lawas berhasil membawa penonton pada atmosfer yang lawas, santun. Terbukti juga, hingga saat ini tidak ada kasus keributan dalam pemanggungan OM. Lorenza.
Dalam konteks ini, kita dapat mengetahui bahwa dangdut lawas adalah medium ideal untuk menyingkirkan stigma buruk dangdut yang selama ini terpelihara.
Budaya Tanding
Sesungguhnya, fenomena OM. Lorenza dengan dangdut lawasnya bukanlah hal yang baru. Mereka hanya mengaktualisasikan musik yang sudah ada sebelumnya untuk dibawa ke masa kini.
Namun, mengapa tindakan tersebut justru dinilai mampu menyingkirkan stigma buruk tentang dangdut?
Dalam penelitian yang saya lakukan, hal demikian menunjukan bahwa musik adalah medium yang dirasa ramah oleh publik untuk melakukan resistensi terhadap isu yang dihadapi.
Dalam konteks ini, adanya stigma buruk tentang dangdut adalah perwujudan dari isu.
Isu tersebut berusaha disingkirkan agar marwah dangdut dapat dikembalikan. Lagipula, musik (dangdut) adalah sarana untuk hiburan, bukan untuk ajang keributan.
Selain itu, saya berargumen bahwa fenomena OM. Lorenza adalah wujud “budaya tanding(an).”
Budaya tanding(an) adalah bentuk perlawanan terhadap budaya dominan. Sedangkan budaya dominan adalah jenis budaya yang mengusai masyarakat. Berbeda dengan budaya tanding yang berbentuk peranakan dan posisinya di pinggiran (Abdullah, 2006).
Dalam konteks ini, dangdut koplo adalah wujud dari budaya dominan, sedangkan dangdut lawas adalah wujud budaya tandingnya.
OM. Lorenza melalui dangdut lawas berupaya menggugat dan menandingi kemapanan dari dangdut koplo. Bukan saja pada sisi eksistensi melainkan pada stigma buruk yang telah mapan.
Dengan demikian, kehadiran OM. Lorenza dengan dangdut lawasnya dapat menyingkirkan kemapanan stigma buruk tentang dangdut yang telah disamaratakan itu.
Saya kira, ikhtiar ini telah dirasakan oleh publik jika melihat atensi mereka yang cukup besar. Publik agaknya juga merasa jengah dengan stigma buruk yang terus direproduksi itu. Kesamaan perasaan inilah yang membuat OM. Lorenza dengan dangdut lawasnya bisa diterima publik dengan gampang.
Nilai inilah yang dijadikan senjata untuk melawan nilai ‘banalitas’ yang telah tersemat dalam dangdut koplo.
Resistensi di antara ke duanya dilakukan melalui medium musik, yangmana musik adalah katalisator yang ramah untuk meredakan konflik.
Maka, tak berlebihan jika mengatakan bahwa sesungguhnya dangdut lawas adalah antitesis dari dangdut koplo. []
Editor: Saiful Mustofa
