Sudut Pandang

Agora dan Luka Lama Relasi Filsafat dan Agama

Agora dan Luka Lama Relasi Filsafat dan Agama

Untuk suatu alasan, saya menyarankan kelas Filsafat Ilmu yang sama ampu, di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) untuk menggelar nobar film berjudul Agora (2009).

Saya memang kesulitan menyuguhkan nuansa yang bisa mendekatkan mahasiswa, kepada episteme zaman Skolastik awal yang begitu mengerangkeng nalar dan filsafat atas nama agama.

Filsafat Skolastik memang dirajut sebagai eksperimen untuk mendamaikan filsafat dan Kristianitas.

Meski begitu, di balik proyek utopis itu, ada jejak buram yang menggambarkan betapa ‘agresivitas’ Kristianitas telah membungkam filsafat dan ilmu pengetahuan, selama berabad-abad.

Menurut saya, untuk mendapatkan panorama jejak buram itu, buku dan ceramah di perkuliahan saja tidak cukup.

Saya menawarkan kuliah film, dengan menonton Agora bersama-sama dengan dua kelas yang sama ampu.

Mahasiswa menyambut senang. Saya menduga, mereka sesekali memang perlu model kuliah yang tidak melulu diskusi dan ceramah yang spaneng.

Dan dugaan saya benar. Tawaran itu disambut meriah oleh mahasiswa.

Tentang Agora

Saya bersyukur karena ada film yang bisa mewakili kepentingan tersebut. Film itu berjudul Agora.

Ini merupakan karya bergenre drama-sejarah yang mengangkat kisah tentang filsuf dan kosmolog terakhir, bernama Hypatia.

Ia merupakan seorang filsuf dan kosmolog terakhir di Alexandria, Mesir-Romawi, pada abad ke-4 M.

Ia merupakan sosok yang kokoh. Bertahan di tengah badai fundamentalisme dan persekusi atas nama “kebenaran” agama.

Bisa dikatakan, film independen ini begitu sukses menghadirkan panorama zaman.

Bahkan tak hanya itu saja, film ini juga sukses menghadirkan sosok yang begitu sempurna dalam mempertahankan pendirian filosofisnya di tengah ancaman persekusi.

Ini termasuk salah satu film yang berhasil mengaduk-aduk imajinasi saya. Dulu ketika pertamakali menontonnya pada sekira tahun 2011.

Saya sangat berharap pengalaman itu juga bisa tertular pada para mahasiswa bimbingan saya.

Penulis naskah, sutradara dan produser film independen ini, benar-benar menghadirkan kisah Hypatia dengan segenap latar sejarah yang buram tapi begitu realistik.

Terlepas dari efek dramatisasi dan penyederhanaan yang harus dilakukan, yang pasti film ini cukup mewakili pergolakan zaman konfrontasi antara filsafat dan Kristianitas.

Sutradara film ini adalah Alejandro Amenabar, berkebangsaan Spanyol. Dedikasinya pada film independen telah mengantarnya menyabet berbagai penghargaan.

Salah satunya adalah European Film Award for Best Cinematography (2004). Dan aktor utama Agora juga tidak kalah mentereng.

Tokoh Hypatia diperankan oleh Rachel Hannah Weisz. Aktris berkebangsaan Inggris yang juga meroket karena dedikasinya pada film independen.

Judul Agora tentu saja diangkat dari tradisi Yunani kuno. Secara harfiah berarti ruang terbuka di dalam konsep negara-kota (Polis) Yunani Kuno.

Istilah ini lebih archaic daripada latar kesejarahan film Agora itu sendiri, karena penggunaannya dideteksi sejak abad ke-7 SM.

Konsep Agora merupakan salah satu yang ikonik dalam menggambarkan kemajuan kebudayaan Yunani.

Terutama karena konsep negara purba itu telah memikirkan hadirnya public sphere yang memungkinkan demokrasi deliberatif bisa diwujudkan.

“Hingga saat ini pun, di Barat maupun di Timur, relasi filsafat dan agama lebih menyerupai air dan minyak yang tidak mungkin diperjumpakan.”

Konsep ini terus diwariskan hingga masa Hellenistik. Berkembang pula di berbagai kawasan yang sebelumnya masuk dalam wilayah kekuasaan Yunani.

Sebagaimana bisa diacu langsung dalam film, keberadaan Agora masih bertahan hingga akhir abad ke-4 M di Alexandria Mesir, sebagai salah satu representasi budaya Hellenistik yang mengemuka.

Agora bukan hanya ruang publik, tetapi sekaligus ruang di mana ide dan gagasan mendapatkan tempatnya untuk dikontestasikan di akademi-akademi kuno yang mengajarkan filsafat dan kosmologi secara resmi.

Di dalamnya juga tempat menyimpan naskah-naskah pengetahuan yang begitu dihormati oleh masyarakatnya.

Suatu tata kebudayaan kuno yang menempatkan filsafat sebagai sumber kebajikan dan kebahagiaan hidup.

Pergolakan Gagasan

Latar gagasan Agora Alexandria, terutama di masa Hypatia, sesungguhnya diwarnai oleh pergolakan gagasan yang mendalam tentang sistem tata surya.

Itu menjadi salah satu minat utama dalam kajian filsafat alam maupun kosmologi, di zaman itu.

Selain menyuguhkan sikap skeptisisme para anggota akademi, terutama Hypatia sendiri, tampak sekali sebagian filsuf di masa itu masih mempertanyakan hegemoni pandangan Claudius Ptolemy (100-170 M) yang membakukan ajaran geosentrisme (bumi sebagai pusat) model Aristotelian.

Hypatia termasuk filsuf yang menerima doktrin geosentrisme tersebut, meskipun dengan sikap ragu-ragu.

Baca juga tulisan Akhol Firdaus lainnya di sini

Bahkan ia terus melakukan pembuktian logis terhadap sistem geometri Ptolemy.

Hingga di akhir hayatnya, Hypatia tengah di ambang pembuktian geometris tentang sistem Plotemy, atau bahkan membantahnya.

Ia mempertanyakan hal-hal fundamental tentang constant motion sistem tata surya yang memberi kemungkinan membuka tabir pemahaman mengapa bumi sebagai pusat bisa diterima secara kosmologis.

Pada akhirnya ia menolaknya secara total karena itu tidak masuk akal dalam hubungan simetris total antara matahari dan bulan.

Film ini juga menghadirkan secara samar kemungkinan kosmologi di masa itu untuk menoleh kembali kepada doktrin yang lebih kuno; heliosentrisme (matahari sebagai pusat), sebagaimana diwariskan oleh Pythagoras (570-495 SM).

Pythagoras sendiri awalnya menyebut Hestia pusat. Ia merupakan planet utama yang merupakan sumber api yang mengaliri energi api pada matahari.

Meski begitu, murid-muridnya, Neopythagorean, telah menyempurnakannya, bahwa matahari itu sendiri merupakan pusat tata surya.

Polemik antara sistem Pythagorean dan Aristotelian itu tidak terdamaikan hingga abad ke-4 M. Para filsuf pada masa itu masih dalam perjuangan yang berkobar-kobar untuk menyingkap misteri alam semesta itu.

Dan semua perjuangan itu, khususnya di Alexandria, harus dipungkasi oleh kehadiran Kristianitas yang mentabukan kerja filsafat dalam menyingkap rahasia alam.

Kristianitas awal menetapkan upaya-upaya filosofis itu melawan “kesakralan” alam sebagai ciptaan Tuhan.

Mereka yang terus berpegang teguh pada pendirian filsafat dan kosmologi, akan menjadi sasaran ganasnya persekusi penganut Kristianitas yang telah menjelma menjadi kekuasaan baru di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi.

Para filsuf itu dituduh melawan firman Tuhan; bid’ah dan sesat.

Dengan cara apa pun, mereka dipaksa untuk berbaiat kepada “kitab suci,” dan yang menolaknya akan segera diseret dalam inkuisisi; pengadilan jalanan yang membenarkan orang dirajam hingga meregang nyawa.

Hypatia sendiri berakhir dalam hukuman rajam itu. Ia adalah orang terakhir yang berdiri pada pendirian filosofisnya.

Baginya, kesakralan semesta justru harus disingkap untuk mendapatkan jalan kepada kebenaran dan kebahagiaan hidup. Dan itulah ending film Agora.

Ruang publik tempat mengartikulasikan gagasan dan temuan-temuan besar itu, telah diubah paksa menjadi altar pertaubatan.

Seluruh kekuatan Kristianitas begitu agresif mengkonversikan setiap penganut agama kuno Yunani dan Mesir.

Para filsuf, menjadi pemeluk agama baru yang sesungguhnya tidak pernah mereka pahami dan mungkin inginkan.

Tentang Integrasi Ilmu

Sejak masa kuno, hubungan filsafat dan agama sesungguhnya lebih diwarnai oleh gejolak.

Agama—terutama dalam konteks ini adalah Kristianitas, hadir sebagai kekuatan yang meluluh-lantakan kekuatan pikiran dan kebudayaan manusia yang dibangun di atasnya.

Menetapkan kekuatan rasio dan eksperimen-eksperimen yang menyertainya sebagai bid’ah-sesat, rupanya telah menjadi standar norma, sejak Kristianitas lahir.

Kecenderungan demikian mungkin juga diikuti oleh agama-agama lain, yang hadir sesudah agama Kristen.

Setelah berulang menyimak dengan saksama film tersebut, saya sendiri semakin mendapat gambaran terang tentang betapa traumatiknya hubungan filsafat dan agama.

Secara faktual, hingga saat ini pun, di Barat maupun di Timur, relasi filsafat dan agama lebih menyerupai air dan minyak yang tidak mungkin diperjumpakan.

Persekusi agama terhadap para filsuf dan ilmuwan itu sendiri, terus berlanjut hingga abad ke-15/16 M.

Ketika anak-anak ideologis Pythagoras kembali menumbangkan doktrin Kristianitas dengan eksperimen-eksperimen empiris untuk membuktikan kebenaran doktrin heliosentrisme. Dimulai dari karya On the Revolutions of the Celestial Spheres (1543) Nicolaus Copernicus.

Ini adalah tokoh pertama yang menumbangkan doktrin filsafat Skolastik yang membakukan ajaran geosentrisme Aristotelian.

Urusannya menjadi rumit karena doktrin tersebut dilembagakan sebagai ajaran resmi Kristianitas.

Setelah bertahan lebih dari seribu tahun, doktrin yang menggambarkan dominasi filsafat Skolastik tersebut, akhirnya tumbang dan terserak.

Metode geometri Copernicus sebagaimana dimuat dalam karya On the Revolutions seperti membuka kotak Pandora.

Para ilmuwan sesudah Copernicus hanya butuh sarana pembuktian empiris untuk mendepak doktrin geosentrisme, dan dengan begitu mendelegitimasi secara total Kristianitas.

Satu-persatu instrumen empiris lahir untuk membawa kebudayaan manusia pada pemahaman yang lebih meyakinkan tentang sistem tata surya.

Itu artinya pada saat bersamaan doktrin agama akan terdesak ke wilayah pinggiran.

Galileo Galilei (1564-1642 M) memulai dengan mendesain teleskop bintang, membawa kepastian bahwa pembakuan yang dilakukan oleh Kristianitas terbukti salah. Begitu juga dengan upaya-upaya empiris yang dilakukan oleh Giordano Bruno (1548-1600 M).

Atas pembuktian itu, keduanya seperti mengulang kisah Hypatia. Diadili oleh Kristianitas, dibakar dan dimusnahkan karena ditetapkan sebagai bid’ah-sesat.

Sejarah yang berulang ini cukup untuk memahami berapa trauma sejarah itu, tetap membekas hingga saat ini.

Melahirkan generasi-generasi baru ilmuwan, terutama dalam fisika dan astronomi, yang tidak sungkan-sungkan lagi menyangkal keberadaan doktrin agama.

Ya, relasi filsafat dan agama, memang bersifat traumatik, sejak masa kelahirannya hingga saat ini.

Harus tetap dicatat, momen-momen traumatik itu terjadi dalam keseluruhan tradisi Barat.

Saya sendiri susah mencari padanan dan persamaan momen-momen historis tersebut, dalam tradisi Timur.

Relasi filsafat dan agama, tergolong landai-landai saja. Dalam tradisi yang lebih kuno seperti ditemukan di Cina dan India misalnya, filsafat dan agama justru hadir bersamaan, balut-membalut membentuk ajaran-ajaran kebijaksanaan yang khas.

Bagi saya, lahirnya filsafat Skolastik di Barat adalah suatu eksperimen rekonsiliasi yang diinisiasi oleh institusi Gereja.

Pengalaman yang mungkin tidak akan pernah kita temukan padanannya di Timur, khususnya di dunia Islam.

Menimbang bahwa tidak pernah ada momen-momen traumatik antara filsafat dan agama dalam tradisi Islam klasik.

Maka upaya merekonsiliasikan filsafat dan agama juga tidak pernah menjadi upaya yang benar-benar serius.

Upaya rekonsiliasi itu terus mendapatkan tempatnya di Barat hingga saat ini, khususnya di berbagai Perguruan Tinggi yang mewarisi pengaruh dari kultur Skolastik dan hegemoni Katolik.

Maka Skolastisisme sesungguhnya tetap menempati posisi yang penting di era kontemporer ini.

Sehingga menyuburkan pula diskursus tentang rekonsiliasi agama dan filsafat dalam terma baru bernama integrasi filsafat dan agama.

Saya semakin yakin, integrasi filsafat dan agama, atau ilmu dan agama, merupakan problem Barat, dan akan terus menemukan bentuk rekonsiliasi mutakhirnya.

Diskursus yang sama sekali tidak bisa kita paksakan dalam suatu ruang budaya yang tidak memiliki sejarah traumatik, seperti di dunia Islam, terutama di Indonesia.

Dengan kata lain, jangan-jangan kebanyakan ilmuwan dan akademisi di dunia Islam, terutama di Indonesia, sebenarnya hanya merasa ke-ge-er-an saja, merasa memiliki beban sejarah untuk mengintegrasi filsafat dan  agama, atau ilmu dan agama.

Sebab bagi saya—sekali lagi—itu adalah problem Barat. Itupun bila pemilahan Barat-Timur masih kontekstual digunakan.

Intinya, dunia Islam sama sekali tidak memiliki momen-momen traumatik, sehingga mengintegrasikan ilmu dan agama, secara historis tidak masuk akal. []

Editor: Saiful Mustofa

Share this post

Akhol Firdaus
About the author

Direktur Institute for Javanese Islam Research (IJIR) UIN SATU Tulungagung; Co-founder Masyarakat Setara Jatim.