Sudut Pandang

Übermensch dan Insan Kamil

Übermensch dan Insan Kamil

Nihilisme bisa disebut sebagai sikap, jika diterapkan pada reaksi terhadap fenomena dalam kehidupan. Di samping itu, nihilisme juga bisa digunakan sebagai the way of life dalam menjalani kehidupan itu sendiri.

Nihilisme merupakan pandangan filsafat yang bersumber dari Friedrich Nietzsche, salah satu tokoh yang mentereng dalam deretan tokoh filsafat modern.

Istilah nihilisme sendiri muncul pada awal abad ke-19 sebagai an expression of anarchy and revolutionary (Rahman, n.d.). Selain sebagai istilah, nihilisme juga dikenal sebagai aliran yang agak bernuansa anarkis dan revolusioner.

Aliran ini juga disebut sebagai aliran anti-esensialisme, yang juga tertuju ke arah hilangnya makna; nihilisme (Hardiman, 2019).

Perlu digarisbawahi bahwa hilangnya makna dalam konteks ini bukan berarti hilangnya persepsi yang kemudian menggiring seseorang menjadi pesimis terhadap kehidupan. Melainkan cenderung pada revaluation of values, yakni penilaian kembali terhadap nilai (Rahman, n.d.).

Revaluation of values secara radikal dalam pandangan Nietzsche akan tertuju pada transvaluasi nilai-nilai, yakni penjungkirbalikan terhadap nilai-nilai (Hardiman, 2019).

Penjungkirbalikan ini terjadi, karena nilai-nilai yang terlebih dahulu ada, dianggap menjadikan manusia impoten, daripada membuat manusia berkembang secara optimal dalam potensi ia miliki. 

Kehidupan yang sarat dengan nilai, bagi sebagian orang merupakan kehidupan yang penuh makna. Tetapi penuhnya makna dalam konteks ini dipandang sebagai kehidupan yang anti derita.

Alhasil, mereka yang hanya memiliki pandangan seperti itu—menurut Nieztsche— adalah orang-orang yang rapuh jiwanya (Hardiman, 2019).

Pandangan tersebut terungkap dengan jelas melalui gaya berfilsafat Nietzsche yang menggunakan aforisme atau juga dikenal sebagai epigram.

Salah satu epigram yang mengandung konteks tersebut terdapat dalam Beyond Good and Evil (2002) yang berbunyi begini:

“Danger in happiness – “Now everything is at its best, now I love every fate: – who wants to be my fate?”

Epigram tersebut tampak jelas bahwa nihilisme ala Nietzsche bukan berarti menyerah dalam takdir kehidupan, meskipun pahit.

Alih-alih mengibarkan “bendera putih,” Nietzsche justru seakan mengajak untuk mencintai takdir yang terjadi.

Jika ditelusuri lebih jauh, epigram tersebut merupakan anak dari konstruk induk persepsi Nietzsche yang paling fenomenal: “fatum brutum, amor fati”, yang berarti meskipun kejam, cintailah takdirmu.

Terlepas dari itu, mencintai takdir bukanlah perkara yang mudah. Apalagi tentang mencintai takdir dalam bingkai penderitaan.

Pandangan nihilisme yang mengarah pada cinta terhadap takdir—apa pun bentuknya —juga memberikan kekuatan yang melampaui.

Gagasan tentang kekuatan yang melampaui ini terkandung dalam pandangan Nietzsche, yang dikenal dengan istilah übermensch.

Perlu digarisbawahi bahwa übermensch bukan sesosok pribadi yang barbar dan tidak mengenal aturan, tetapi ia merupakan pribadi yang telah menciptakan nilai-nilainya sendiri (Hardiman, 2019).

Melalui nilai-nilai yang diciptakan tersebut, ia memiliki daya mental yang lebih tinggi, berbudi pekerti yang lebih luhur, lebih terampil, lebih bijak, dan toleran daripada manusia pada umumnya. Apalagi manusia yang terkungkung dalam nilai-nilai lama.

Nilai tentang cinta yang radikal Nietzsche (2008) juga terkandung dalam aforismenya yang berbunyi: “Tuntutan untuk dicintai adalah bentuk kesombongan terbesar.”

Sehubungan dengan itu, Nietzsche juga menggemakan Ja-Sagen, yakni berkata “ya” atau mencintai totalitas kehidupan dengan segala kebaikan dan keburukannya, keluhuran sekalian kenistaannya, hingga keagungan sekaligus kekerdilannya (Hardiman, 2019).

Dari sini tampak, bahwa gagasan tentang übermensch yang bermula pada revaluation of values akan mengarahkan pada mencintai takdir apa adanya, dengan nilai-nilai yang telah tercipta oleh pelaku.

Islam dan Konsep “Manusia Sempurna”

Selaras dengan konsep di atas, khazanah pengetahuan Islam ternyata juga memiliki istilah tersendiri yang secara subtansial mirip dengan übermensch Nietzsche.

Islam menyebutnya dengan istilah insan kamil. Konsep ini tertuju pada pandangan setidaknya dua tokoh yang terkenal: Ibn Arabi dan Abd. Karim Al-Jili.

Ibn Arabi menyebut insal kamil sebagai gambaran manusia paripurna. Baik dari segi wujudnya maupun pengetahuannya.

Dari segi wujud, manusia dianggap sebagai citra Tuhan sedangkan dari segi pengetahuan manusia bisa mencapai tingkat kesadaran tertinggi; menyadari kesatuan esensinya dengan Tuhan, yang disebut makrifat.

Lebih dari itu, Abd. Karim Al-Jili dalam Universal Man, juga menyinggung hal serupa.

Ia juga memotret diskursus tentang insal kamil yang berada pada aspek transvaluasi nilai atau disebut dengan istilah tajalli.

Posisi tajalli dalam insan kamil persis seperti revaluation of values dalam übermensch, yakni sama-sama sebagai permulaan.

Baik tajalli ataupun revaluation of values, keduanya sama-sama mengarahkan untuk melampaui stagnasi kehidupan. Dengan kata lain, hal itu merupakan proses menjadi lebih baik.

Meskipun tertuju pada orientasi yang sama, proses menuju insan kamil melalui tajalli tampak lebih damai dan terarah—tidak bersifat nihilis.

Sederhananya, übermensch melakukan perombakan nilai-nilai guna menciptakan nilai-nilai yang baru.

Sedangkan insan kamil melakukan perenungan (kontemplasi) nilai-nilai guna menyingkap substansi nilai yang ada.

Dan uniknya, perenungan nilai-nilai tersebut ialah merenungkan sifat-sifat Allah Swt.

Dalam buku Universal Man, Q.S al-Baqarah ayat 152 yang berarti “Ingatlah kepada-Ku, maka Aku pun akan ingat kepadamu” ditafsirkan menjadi “Renungkanlah Aku maka Aku akan merenungkanmu” (Al-Jili, 1983).

Kontemplasi merupakan mekanisme yang ditawarkan oleh Al-Jili untuk menuju insan kamil.

Jika dianalogikan, kontemplasi dalam konteks ini seperti air dan es; Al-Jili memandang bahwa Dzat Tuhan diumpamakan seperti air dan ciptaan-Nya (alam dan seisinya) atau diumpamakan seperti es (Hakiki, 2018).

Secara wujud, air dan es jelas berbeda. Tetapi pada hakikatnya es berasal dari air itu sendiri.

Dengan demikian sesungguhnya baik übermensch maupun insal kamil sama-sama menghendaki adanya totalitas dan menolak kepasrahan.

Sesempurnanya manusia pada hakikatnya tetap manusia yang tanpa melalui proses penghayatan, perenungan, maupun ikhtiar mendalam tidak mungkin mengenali siapa dirinya. []

Editor: Saiful Mustofa

Share this post

Akhmad Rosyi Izzulhaq
About the author

Penulis adalah Pemimpin Umum Buletin Aufklärung Pusat Kajian Filsafat dan Teologi (PKFT) Tulungagung