Seri Ramadan

Sufisme dan Asketisme: Secarik Pengantar

Sufisme dan Asketisme: Secarik Pengantar

Istilah “sufisme,” “tasawuf” atau “tarekat” bukan lagi istilah asing di telinga kita. Sebab ada berbagai ragam tarekat yang berkembang dan terus menjamur di Indonesia sampai saat ini.

Di kalangan akar rumput—terutama pedesaan—istilah sufi, tasawuf, tarekat, atau suluk juga mendapatkan tempat sendiri. Seolah itu seperti saudara kandung di dalam amaliah syariat mereka.

Meskipun secara akar kata, istilah tersebut berasal dari peradaban Timur-Tengah.

Para tokoh intelektual Muslim era pertengahan dengan sengaja membangun paradigma ini melalui epistemologi khasnya yang dikenal dengan istilah al-irfani.

Epistemologi al-irfani merupakan bangunan epistemologi yang dikembangkan oleh kalangan sufi.

Secara etimologis berasal dari kata irfan yang berakar dari kata ’arafa.

Dalam konteks ini, pengetahuan diperoleh secara langsung (direct) dari Tuhan (kasyf) tidak melalui proses penelaahan rasional ataupun empiris.

Pengetahuan ini hanya bisa didapat dengan cara riyadah yang dilakukan atas dasar kecintaan (hubb) dan kemauan yang kuat.

Sehingga pengetahuan ini merupakan salah satu epistemologi Islam yang unik.

Sebab pengetahuan bukan lagi diperoleh melalui penalaran atau diskursif, tetapi dihadirkan begitu saja melalui intuisi.

Sederhananya, alih-alih menawarkan cara mencari pengetahuan, epistemologi al-irfani justru menawarkan cara meng-hadir-kan pengetahuan.

Dan menariknya, pandangan sufisme dengan epistemologi al-irfani ini berkorelasi dengan pandangan asketisme.

Asketisme: Melampaui Intelektualisme

Secara etimologi, asketisme berasal dari Yunani yakni askesis yang berarti “latihan” atau “olahraga.”

Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan asketis sebagai paham yang menerapkan nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, dan kerelaan dalam berkorban.

Di samping itu, Oxford Dictionary juga memberikan definisi serupa bahwa asketis adalah laku seseorang yang hidup sederhana dan ketat, tak ada hasrat kesenangan, kecuali dalam alasan spiritual.  

Ragam definisi di atas menunjukkan bahwa asketis bukan hanya menjadi spirit religiusitas dalam lanskap keagamaan semata.

Namun juga diakui dalam lanskap pengetahuan ilmiah sebagai aspek ontologis–terutama dalam filsafat.

Pernyataan di atas senada dengan yang dikemukakan oleh Fazlur Rahman (1996) yang menguraikan secara bahwa unsur asketisme mampu mengantarkan pengetahuan ilmiah pada bangkitnya persepsi batin manusia.

Di sisi lain, asketisme yang berasal dari Yunani pada mulanya mempunyai ciri pada empiris. Pun juga ada semacam laku pantangan sendiri yang harus mereka pedomani.

Seperti halnya kaum Pythagorean yang tergabung dalam golongan mathematikol; mereka menjalani hidup dengan pantangan untuk tidak memakan unsur hewani.

Terlepas dari itu, asketisme ini merupakan pandangan yang memang dibangun dalam konteks paradigma filsafat Yunani kuno.

Kendati demikian, bukan berarti asketisme ini tidak eksis dalam era peradaban modern. Sebab ada beberapa tokoh modern yang menerapkannya.

Sebut saja Yuval Noah Harari. Penulis buku kondang dari Israel ini dalam pengamatan penulis juga mengamalkan hidup secara asketis.

Hal itu bisa dilihat salah satunya dari karya monumental milik Harari, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow.

Artinya, selama proses penulis buku tersebut, Harari (2018) menjalani apa yang disebut dengan istilah vipassana. Ini merupakan ajaran spiritual Hindu yang berasal dari gurunya: Satya Narayana Geonka.

“Baik sufisme dengan pengetahuan irfani­-nya maupun asketisme memliki ciri identik yang bermuara pada satu hal fundamental: transendentalisme.”

Secara sederhana, vipassana sendiri merupakan meditasi yang bertujuan mengembangkan kedalaman wawasan tentang hakikat realitas dengan mengamati pikiran, perasaan, dan sensasi secara non-reaktif (Sulianta, 2024).

Meskipun vipassana berasal dari Hindu, tetapi ajaran tersebut terdapat unsur asketismenya secara mendasar.

Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa asketis merupakan faktor fundamental yang semuanya tertuju pada ranah pengalaman esoteris-spiritual.

“Hidup berpantang.” Ini kalimat yang tepat untuk menyederhanakannya.

Uniknya lagi, asketis ini juga bersentuhan dengan substansi dalam praktik totalitas spiritualisme.

Meskipun asketis sendiri merupakan pandangan umum, tetapi ia menerobos dan berkorelasi secara langsung pada inti keagamaan.

Islam, Sufisme dan Seruan Hidup Asketis

Tak hanya mahsyur dalam tradisi Hindu-Budha, Islam juga sangat mengenal model hidup asketis.

Islam memberikan petunjuk untuk hidup tidak berlebihan dalam banyak hal.

Hidup yang tidak berlebihan ini merupakan “rem” atas nafsu dan laku asketis atau berpantangan tadi.

Selain itu, Islam juga menyeru umatnya untuk bersedakah (Q.S al-Baqarah: 254) sebagai manifestasi dari hidup asketis.

Di saat yang bersamaan, perilaku asketis juga memberikan pandangan tentang praktik kejujuran.

Hal ini lagi-lagi dapat ditemukan dalam khazanah pengetahuan Islam sebagaimana Q.S al-Baqarah: 42 yang melarang keras mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan.

Hingga pada pandangan kerelaan berkorban ala asketisisme juga dapat ditemukan dalam Q.S al-Baqarah: 262.

Tak berhenti di situ, signifikansi dari pandangan asketisme pada akhirnya juga berkorelasi dengan kedalaman.

Secara sederhana, menurut hemat penulis, asketisme sangat jauh dari pola maupun mekanisme yang mengandalkan kecepatan dan efisiensi.

Dengan kata lain, asketisme dalam konteks ini menitikberatkan pada unsur proses secara perlahan dengan signifikansi yang mendalam dan kokoh.

Jika boleh mencatut nama salah satu tokoh maka penulis memilih sang hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali sebagai representasi asketisme Islam. Terutama itu bisa kita lihat dalam karya-karyanya.

Sebut saja salah satunya kitab Ihya’ Ulumuddin. Kitab tasawuf ini merupakan bukti betapa Al-Ghazali tidak hanya melibatkan rasio maupun empirik semata melainkan juga pengetahuan irfani yang mendalam.

Dengan kata lain, baik sufisme dengan pengetahuan irfani­-nya maupun asketisme memliki ciri identik yang bermuara pada satu hal fundamental: transendentalisme.

Suatu ikhtiar untuk “mengakses” yang melampaui pengalaman dan pengamatan.

Kesamaan lainnya, terdapat pada upaya represif. Artinya sama-sama melatih (menekan) hasrat fisikal yang bertujuan untuk membangkitkan kekuatan intuisi dan penghayatan.

Penghayatan terhadap suatu realitas inilah yang kemudian mampu mengoptimalkan daya intuisi maupun daya imajinasi.

Sehingga dalam bahasa Amstrong (2006), segala macam realitas pada akhirnya mampu dilihat sebagai realitas transenden (epiphany) yang memberikan napas pada segala sesuatu.

Singkat kata, sufisme dan asketisme ini saling berkorelasi untuk menghayati setiap tanda maupun fenomena, baik alam maupun sosial sebagai implikasi dari pandangan creatio ex deo. Begitulah kira-kira. []


Editor: Kowim Sabilillah

Share this post

Akhmad Rosyi Izzulhaq
About the author

Penulis adalah Pemimpin Umum Buletin Aufklärung Pusat Kajian Filsafat dan Teologi (PKFT) Tulungagung