Sudut Pandang

Masyarakat Takhayul, Kecerdasan Buatan, dan tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Masyarakat Takhayul, Kecerdasan Buatan, dan tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Pada April 2025, masyarakat tetangga desa saya geger. Kehebohan itu dipicu oleh salah satu warga yang menemukan seekor burung perkutut di kebun belakang rumahnya.

Dari cerita yang beredar setelah ditangkap, burung itu kemudian dimasukkan ke dalam sangkar. Dari sini belum tampak keanehan.

Sebab burung itu juga berperangai laiknya burung perkutut pada umumnya. “Ia juga bisa “manggung” seperti burung perkutut pada umumnya,” kata orang yang menemukan itu.

Keesokan harinya, ketika pagi hari dia mau menggantung (gantang) burung di dalam sangkar itu, tiba-tiba teriakan terdengar keras dan menggegerkan seisi rumah dan tetangganya.

“Burungnya berubah jadi ular, burungnya berubah jadi ular,” teriak orang itu berkali-kali.

Sontak para masyarakat pun geger dan berduyun-duyun datang untuk menyaksikan secara langsung ular di dalam sangkar burung tersebut.

Asumsi warga semakin kuat ketika tak ada satupun jari-jari sangkar burung yang rusak akibat ular itu.

“Kalau ular itu dari luar seharusnya ada jari-jari sangkar yang rusak atau patah,” kata mereka meyakini kalau ular itu merupakan jelmaan burung perkutut.

Narasi tentang mitos burung perkutut yang bisa berubah ular memang bukan hal baru di kalangan masyarakat.

Sejak saya masih kecil, mitos semacam ini lazim didengar. Masyarakat seolah benar-benar meyakini bahwa ada semacam burung perkutut siluman yang bisa berubah menjadi ular.

Tidak hanya itu, narasi semacam ini juga dengan mudah bisa ditemukan di konten-konten YouTube. Tentu motifnya beragam, salah satunya untuk mendulang viewers dan subscribers atau bahkan video itu viral. Dan anehnya konten-konten semacam ini laku luar biasa dan ditonton oleh ratusan bahkan ribuan orang.

Ada lagi misalnya pada saat peristiwa wabah Covid-19. Banyak sekali masyarakat yang tidak percaya bahwa virus itu ada. Mereka belakangan disebut sebagai “covidiot.”

Bahkan ada masyarakat yang berusaha menangkal wabah ini dengan ritual-ritual tertentu seperti membuat ilustrasi hantu dengan pelepah pohon kelapa misalnya.

Mereka menyebutnya sebagai penangkal pagebluk. Ini mirip orang dulu ketika menganggap pandemi Black Death (pertengahan abad 14) yang menyerang Eropa, Asia, dan Afrika Utara sebagai kutukan.

Padahal belakangan ketika ilmu pengetahuan berkembang ternyata itu disebabkan oleh infeksi bakteri Yersinia Pestis.

Apa yang hendak saya sampaikan dari narasi-narasi mitos tersebut?

Di tengah gempuran kecanggihan teknologi-informasi dan kecerdasan buatan sekarang ini, alih-alih masyarakat (Muslim) di Indonesia lepas dari belenggu takhayul, mereka masih meyakini bahwa hal itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bagaimana bisa masih ada masyarakat yang meyakini burung bisa berubah jadi ular ketika sekolah, kampus, dan internet menjamur seperti sekarang ini?

Padahal sederhana saja: ular itu punya tubuh yang lentur sehingga bisa masuk melalui lubang di jari-jari sangkar burung tanpa merusaknya.

Kemudian ia memakan burung perkutut tersebut. Karena kekenyangan maka tubuhnya menjadi agak tambun sehingga merasa agak kesulitan untuk keluar sangkar.

“Tugas ilmu pengetahuan adalah menyelesaikan problem atau pertanyaan tentang dan di “dunia” bukan di lainnya.” 

Ia butuh jeda beberapa waktu untuk kemudian akan keluar lagi dari lubang di sela-sela sangkar burung tersebut tanpa merusaknya.

Maka jika ditarik benang merah sesungguhnya logika dan kecanggihan teknologi sekarang ini belum mampu menggantikan narasi dan mitos sepenuhnya.

Untuk lebih jelasnya akan saya uraikan lebih gamblang setelah ini.

Posthuman, Makna Berpikir, dan Ketakutan Kita

Saya belakangan agak tertarik mengamati geliat kecerdasan buatan yang bagi sebagian orang dianggap “mengancam” keberadaan manusia terutama dalam ranah akademik.

Bahkan ada banyak berita dan tulisan yang mengatakan bahwa keberadaan media sosial terlebih kecerdasan buatan bisa menyebabkan apa yang disebut dengan “brain rot”.

Itu merupakan istilah yang dipilih oleh Oxford University Press pada tahun 2024 untuk menggambarkan “pembusukan” otak akibat overdosis mengonsumsi “sampah” dunia digital.

Kemudian saya coba mengaitkannya dengan term yang sesugguhnya tidak baru: posthuman. Ini merujuk pada kondisi kemunculan “makhluk baru” yang melampaui manusia.

Kata Kurthen dalam White and Black Posthumanism (2009), posthuman bisa lahir dari proses rekayasa genetika, campur tangan teknologi atau bahkan teknologi itu sendiri.

Sederhananya, posthuman dalam konteks saat ini adalah kecerdasan buatan. Dalam istilah Descartes, itu mirip dengan istilah “genius malignus” atau “setan” yang sangat cerdas dan serba tahu (Hardiman, 2021).

Namun sebagaimana lazim dipahami selama ini, istilah “post” dalam konteks ini juga menimbulkan perdebatan.

Apakah kata “post” yang digandengkan dengan “human(isme)” adalah kritik atas keangkuhan manusia sejak muculnya konsep dualisme Cartesian: manusia adalah subyek dan alam sebagai obyek? Ataukah justru kelanjutan dari proyek human(isme) yang belum rampung?

Apalagi di tengah rayuan dan iming-iming keserbainstanan kecerdasan buatan seperti sekarang, aktivitas berpikir atau merenung tidak lagi menjadi primadona bagi sebagian orang.

Pertanyaan-pertanyaan ontologis seperti: apa makna berpikir dalam era kecerdasan buatan seperti sekarang? Dalam kadar apa kita bisa mengukur orisinalitas dan imitasi?

Lalu bagaimana manusia merepresentasikan dirinya sebagai “ada” di tengah “ke-ada-an” semu, seolah menjadi relevan kembali.

Dari sinilah tugas ilmu pengetahuan dibutuhkan. Bagaimana umat Islam misalnya, menyikapi perkembangan teknologi informasi sampai dengan kecerdasan buatan terkini.

Ketika negara-negara Barat sudah beranjak dari sikap-sikap takhayul kenapa umat (Islam) di Indonesia khususnya masih terjerembab di sana?

Dalam kasus Pandemi Covid-19 beberapa tahun yang lalu jelas sekali tampak garis pemisahnya: sains meresponnya dengan tindakan konkret: rapid tes, masker, memperkuat imun sampai dengan vaksin.

Sedangkan kaum agamawan dan masyarakat takhayul menyikapinya dengan cara unik: teguran dari Tuhan dan pagebluk.

Meskipun saran dari ilmuwan itu juga masih jadi perdebatan apakah mungkin masker bisa menangkal virus masuk ke hidung atau mulut lantaran ukurannya yang nanometer.

Belum lagi soal uji coba vaksin yang cenderung dipaksakan. Beberapa kalangan juga banyak yang mengkritik soal vaksinasi.

Namun para ilmuwan tidak menyangkal keberadaan virus atau tidak percaya soal vaksin sebab itu merupakan hasil atau produk ilmu pengetahuan.

Lantas apakah ilmu pengetahuan anti terhadap hal ihwal yang supranatural? Tidak.

Ilmu pengetahuan tidak anti terhadap hal-ihwal yang supranatural tapi memang bukan itu domainnya.

Dalam hal ini saya terpaksa sepakat dengan astronom cum filsuf Karlina Supeli.

Menurutnya, ilmu pengetahuan mempunyai tugas meminimalisir subyektivitas individu atau klaim sepihak atas apa yang kita yakini seolah benar, padahal sesungguhnya belum tentu itu benar.

Jadi ketika ada ilmuwan yang menanyakan bahwa apakah Tuhan itu ada maka itu pertanyaan yang keliru.

Sebab tugas ilmu pengetahuan bukan untuk menjawab itu. Tugas ilmu pengetahuan adalah menyelesaikan problem atau pertanyaan tentang dan di “dunia” bukan di lainnya. 

Meskipun sesungguhnya modernitas—kata Habermas—telah berhasil menggolongkan dunia menjadi tiga: dunia obyektif atau alam, dunia intersubyektif atau masyarakat, dan dunia subyektif atau jiwa.

Namun memisahkan ilmu dalam dua kategorisasi sekuler vs non-sekuler juga tidak tepat.

Sebab apa yang dipahami oleh sebagian orang bahwa sekuler adalah hanya berurusan tentang pemisahan urusan negara dan agama adalah suatu bentuk reduksionisme yang akut.

Atau bahkan yang parah, orang-orang yang mempunyai pandangan sekuler cenderung dituduh sebagai ateis atau agnostik.

Istilah ini kendati lahir dari tradisi pemikiran Barat bukan berarti anti terhadap agama.

Sekulerisme sesungguhnya ingin menegaskan bahwa tugas ilmu itu bukan mengurusi perihal apakah surga dan neraka ada.

Namun seperti yang saya jelaskan sebelumnya: sekulerisme mempertegas bahwa tugas ilmu itu menafsirkan dan menyelesaikan perihal duniawi.

Persis seperti kata Karl Popper, bahwa tugas ilmu adalah untuk menyingkap kebenaran bukan kepastian.

Oleh karena kebenaran itu bersifat temporal maka ilmu tidak mungkin mencapai kepada kepastian final.  Setiap hipotesis selalu menunggu dikritik dan dievaluasi, begitu seterusnya.

Beda dengan agama karena merupakan produk wahyu maka orientasinya sejak awal adalah kebenaran dan kepastian final.

Di sinilah letak perbedaan keduanya. Jadi sesungguhnya tidak ada masalah antara iman dan ilmiah. Seseorang bisa menjadi beriman dengan tetap meyakini ilmu secara ilmiah.

Ketika saya mengatakan bahwa saya beriman kepada hari akhir misalnya, itu adalah pernyataan keimanan. Bukan pernyataan ilmiah. Dan sekali lagi memang iman tidak harus ilmiah.

Jika seperti itu kenapa harus muncul misalnya konsep tentang islamisasi ilmu pengetahuan?

Betapapun banyak tokoh seperti Naquib al-Attas atau bahkan Seyyed Hossein Nasr menggembar-gemborkan soal islamisasi pengetahuan atau mencurigai proyek “sekularitas” Barat sehingga kita butuh pendekatan yang agak sufistik sambil menengok kembali pencapaian peradaban Islam pada masa lampau.

Namun islamisasi ilmu pengetahuan sampai pada titik ekstremnya; “setiap ilmu harus dicarikan dalilnya di al-Qur’an,” adalah tindakan yang kurang tepat.

Sebab baik Islam sebagai agama dan ilmu pengetahuan sekali lagi mempunyai tugasnya masing-masing.

Bukankah di dalam Islam juga terdapat dimensi ilmu? Iya. Bahkan semua agama menyimpan aspek ilmu.

Namun harus dipahami bahwa karangka ilmu agama yang lebih menyandarkan pada wahyu menjadi sangat berbeda dengan ilmu pengetahuan yang lebih berbasis pada empirisitas, atau rasionalitas.

Keduanya tidak harus selalu dipersatukan atau dipertentangkan. Sebab masing-masing punya “job desk” sendiri-sendiri.

Seharusnya keduanya saling mengisi dan melengkapi: jika ilmu pengetahuan tidak mampu memberikan jawaban maka agama atau spiritualitaslah yang akan ikut melengkapinya.

Begitu juga sebaliknya: ketika agama tak bisa memuaskan maka ilmu pengetahuanlah yang harus membantu memberikan “pencerahan.”

Lagipula, manusia dengan segala jerih payah dan kemampuannya menuju masyarakat yang lebih beradab dan intelek hanya berputar pada pengulangan-pengulangan belaka.

Fenomena evolusi teknologi dan lahirnya kecerdasan buatan seperti sekarang ini sebenarnya tidak mencengangkan.

Sebab manusia selalu mengalami suatu fase pasang-surut peradaban dan itu terus berulang.

Sehingga serbuan sampah digital dan buaian kecerdasan buatan sesungguhnya tidak perlu terlalu dikhwatirkan, tapi juga tidak bisa diremehkan.

Pada faktanya, manusia dari masa ke masa selalu bisa mengatasi berbagai evolusi dengan caranya sendiri-sendiri.

Apalagi ketakutan bahwa keberadaan manusia akan digantikan dengan mesin sesungguhnya juga berlebihan.

Karena di belahan bumi bernama Indonesia masih banyak yang meyakini bahwa burung bisa berubah menjadi ular dan gempa bumi hebat di Yogyakarta 2006 akibat dari kemarahan Nyi Roro Kidul.  Menarik bukan? Begitulah kira-kira. []­

Share this post

Saiful Mustofa
About the author

Penulis Buku "Media Online Radikal dan Matinya Rasionalitas Komunikatif" (2019) serta "Juru Kunci" di Diskursus Institute.