Namanya adalah Muhammad Asad atau Leopold Weiss. Ia lahir dari latar belakang keluarga Yahudi ortodoks di Austria pada tanggal 23 Juli 1900 Masehi dan meninggal pada tanggal 20 Februari 1992 Masehi di Spanyol. Namanya mungkin agak begitu asing di telinga sebagian pengkaji Islam di Indonesia. Meski tak semoncer tokoh seperti Jamaludin Al-Afghani atau Muhammad Iqbal, pemikiran Muhammad Asad tetap patut diperhitungkan dalam kancah intelektual Muslim abad ke-20.
Dalam bukunya yang masyhur, The Road to Makkah (2004), Asad menceritakan perjalanan kisah hidupnya yang mulai berubah cukup drastis semenjak ia memutuskan untuk menjadi mualaf pada tahun 1926 saat usianya 26 tahun. Ia pernah menjadi jurnalis atau kontributor beberapa surat kabar bergengsi, salah satunya Frankfurter Zeitung, Jerman. Setelah Paksitan resmi berdiri pada tahun 1947, ia didapuk sebagai kepala divisi Timur-Tengah Kementerian Luar Negeri. Sampai pada akhirnya ia mendedikasikan dirinya untuk menjadi Duta Besar Pakistan untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang pemikirannya cukup berpengaruh dalam hal revivalisme Islam.
Secara istilah, revivalisme Islam adalah upaya pembaruan untuk membangkitkan kembali tradisi intelektual Muslim. Dengan mendialektikakan antara tradisi Islam klasik (salaf) dengan rasionalitas Barat, revivalisme menjelma menjadi sebuah pemikiran yang khas, tidak melulu mengekor Barat, tidak pula terlalu mengunggulkan Timur. Revivaslime mengajak pada “re-awakening” (kebangkitan kembali) dari kejumudan berpikir dan “preserving” (pelestarian) nilai dan tradisi Islam yang kontekstual dengan problematika dan perkembangan zaman.
Jika dirunut, munculnya revivalisme Islam bisa dilihat sejak Jamaludin Al-Afghani menyerukan gerakan Pan-Islamisme pada abad 18-19 Masehi sebagai upaya untuk meng-counter westrenisasi, kolonialisasi, pengembalian jati diri serta persatuan umat Islam di seluruh dunia ini.
Deru semangat itu memengaruhi para cendekiawan Islam seperti, Muhammad Iqbal, Rasyid Ridha, hingga Muhammad Abduh untuk memformulasikan bentuk (form) ajaran baru Islam yang lebih terbuka, rasional dan berkonteks dengan isi (content) realitas di mana Islam itu dihadirkan. Maka, kesadaran semacam inilah yang membentuk era baru, era revivalisme. Beberapa literatur menyebutkan bahwa ada beberapa tahapan yang dapat dilihat sebagai pola perkembangan intelektual Islam; era formatif, era reformatif dan era kritis yang kini terjadi.
Pada konteks inilah, Asad terjun dan menapaki karier sebagai “corong” revivalis Islam. Sepak terjang perjalanan intelektual Asad tidak bisa dianggap remeh. Salah satu tokoh yang berpengaruh dalam karier intelektualnya adalah Muhammad Iqbal. Darinya, Asad mendapat dorongan untuk melakukan hijrah ke Turkistan Timur, Cina, termasuk Indonesia, kemudian kembali ke India untuk membantu Iqbal mengkampanyekan visi intelektual negara Islam masa depan yang pada saat itu tak ubahnya seperti mimpi belaka. Bersama Iqbal, ia menemukan kesepahaman tentang cara bagaimana menghidupkan kembali semua harapan Islam yang terbengkalai, membentuk entitas politik yang terikat bersama bukan karena latar belakang keturunan, tetapi oleh keyakinan bersama mereka terhadap satu ideologi (Muhammad Asad, 2004).
Revivaslime mengajak pada “re-awakening” (kebangkitan kembali) dari kejumudan berpikir dan “preserving” (pelestarian) nilai dan tradisi Islam yang kontekstual dengan problematika dan perkembangan zaman.
Sepak terjang intelektual Asad bisa dibilang cukup produktif. Ia telah menulis beberapa karya di antaranya, Islam at the Crossroads, The Principles of State and Government in Islam, The Message of The Qur’an, Road to Makkah, dan lain-lain. Ia menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari hukum Islam, politik dan pemerintahan, teologi, serta tafsir.
Dalam Islam at the Crossroads (1982), Asad menyuguhkan fakta mencengangkan tentang realitas timpang antara dunia Islam dan Barat dari berbagai aspeknya. Ia seolah ingin menegaskan bahwa secara sosial dan budaya umat Islam berbeda dengan Barat. Oleh karena itu, untuk mengejar ketertinggalan, umat Islam tentu tidak harus menjadi pengekor Barat. Dengan kata lain, jika tetap menjadi peniru, umat Islam hanya akan menjadi obyek (observed) dan Barat sebagai subyeknya (observer).
Asad kemudian menawarkan jalan baru untuk keluar dari stagnasi dan kejumudan peradaban Islam dengan kembali menggali khasanah Islam klasik yang sudah ada dalam al-Qur’an dan Sunnah. Artinya umat Islam harus berani “preserving” bentuk-bentuk (tradisi) dan nilai-nilai lama yang baik dan masih relevan sebagai titik pijak kekuatan untuk menciptakan kreativitas kultural (culture-producing force) dalam konteks “re-awakening” peradaban Islam saat ini dan masa mendatang.
Dengan demikian, umat Islam tidak akan lagi dipandang sebelah mata, atau menjadi imitator Barat yang dalam tradisi peradaban modern tidak mengakui adanya kepatuhan terhadap realitas (metafisik) apa pun kecuali aspek material dan syahwat [ke]kuasa[an] (the will to power). Sekian. Tabik []
