Kehidupan kita hari ini tak bisa dilepaskan dari gawai di genggaman. “Setan kotak”—istilah populer untuk merujuk pada ponsel pintar—telah menjadi medium utama dalam membentuk persepsi, nilai, bahkan keyakinan keagamaan.
Sehingga hal demikian juga turut andil dalam mengubah gaya orang berdakwah; dari tadinya konvensional menjadi via digital.
Seiring dengan itu, muncullah bentuk “polesan” gaya berdakwah yang dikenal dengan istilah dakwah pop atau populer.
Ini merupakan suatu gaya berdakwah yang menghaluskan pesan religius dengan narasi populer, gaya visual modern, dan format digital yang cepat dikonsumsi.
Dakwah pop bukan sekadar ekspresi baru, tapi juga respons terhadap lanskap sosial-keagamaan yang berubah.
Islam, sebagai agama yang memiliki akar kuat dalam tradisi lisan dan tulisan, kini menjelajah ruang baru, algoritma, video pendek, dan likes.
Lalu, bagaimana agama bertahan dan berkembang dalam format yang sangat cair dan cepat berubah ini?
Dakwah Pop: Antara Kebutuhan dan Komodifikasi
Istilah “dakwah pop” mengacu pada bentuk dakwah yang dikemas secara ringan, menarik, dan akrab dengan budaya populer.
Fenomena ini muncul seiring dengan naiknya penggunaan media sosial di kalangan generasi muda.
Gaya bahasa yang santai, narasi yang menyentuh kehidupan sehari-hari, serta visual yang menarik menjadi ciri khas dakwah pop.
“Jika media sosial menjadi masjid baru, maka algoritma adalah pengurus masjidnya. Ia menentukan siapa yang mendapat tempat utama, siapa yang dibisukan.”
Tokoh seperti Ustaz Hanan Attaki adalah salah satu figur yang bisa dijadikan contoh yang berhasil memadukan dakwah dengan budaya pop.
Ia dikenal dengan pendekatannya yang personal dan “gaul” seperti anak muda. Ia sering menggunakan kata-kata seperti “santuy,” “hijrah bareng,” atau “teman surga” dalam narasinya.
Demikian pula Habib Husein Ja’far, yang coba menerobos tembok kekolotan dalam bersyiar agama dengan merangkul berbagai elemen lintas agama dan golongan.
Kedua tokoh ini mampu menjembatani antara teks-teks klasik dengan bahasa digital generasi Z dan milenial.
Namun, ketika agama dikemas seperti konten lifestyle, apakah substansi pesan masih utuh? Atau justru mengalami komodifikasi, menjadi bagian dari industri perhatian (attention economy) yang mengejar viralitas, bukan nilai?
Indonesia merupakan negara dengan jumlah pengguna internet terbesar keempat di dunia. Laporan We Are Social (2023) mencatat bahwa dari 278 juta penduduk, sebanyak 212 juta di antaranya pengguna aktif internet, dan sekitar 170 juta menggunakan media sosial.
Konten dakwah menjadi salah satu genre paling populer di media sosial. Akun Instagram Ustaz Hanan Attaki memiliki lebih dari 1,8 juta pengikut, dan konten-konten Habib Husein Ja’far sering mencapai jutaan tayangan di YouTube. Di TikTok, tagar #dakwahpopuler telah ditonton lebih dari 300 juta kali.
Survei yang dilakukan oleh Subagyo (2022) menyatakan bahwa 65% pemuda Muslim Indonesia lebih memilih mendapatkan pengetahuan agama melalui media sosial ketimbang menghadiri majelis pengajian secara langsung.
Ini menunjukkan pergeseran otoritas keagamaan, dari ustaz kampung dan kiai pesantren, menuju para “influencer spiritual.”
Jika media sosial menjadi masjid baru, maka algoritma adalah pengurus masjidnya. Ia menentukan siapa yang mendapat tempat utama, siapa yang dibisukan.
Konsep “kuasa tersembunyi” ini telah lama dibahas oleh Michel Foucault (1972) dalam kajiannya tentang kekuasaan dan pengetahuan.
Sehingga dalam dunia digital—tidak lain dan tidak bukan—kuasa itu kini terletak pada logika algoritma.
Konten dakwah yang dianggap menarik secara visual, cepat, dan mengandung unsur emosional cenderung lebih disukai algoritma.
Sementara konten reflektif, kritis, atau kontemplatif kerap tenggelam.
Akibatnya, narasi keagamaan yang naik ke permukaan seringkali adalah narasi yang paling mudah dikonsumsi, bukan yang paling mendalam.
Dakwah dan Kapitalisme Digital: Siapa yang Diuntungkan?
Dakwah pop tak bisa dilepaskan dari logika kapitalisme digital. Setiap klik, like, dan share adalah bagian dari ekosistem bisnis yang menghasilkan data dan keuntungan bagi platform digital.
Dalam hal ini, para dai digital menjadi bagian dari ekonomi konten, di mana popularitas menjadi tolok ukur kebenaran.
Pertanyaannya, siapa yang paling diuntungkan dalam sistem ini? Apakah para penceramah, perusahaan teknologi, atau umat?
Ketika ceramah menjadi produk yang harus dijual, seringkali pesan-pesan yang kompleks disederhanakan, bahkan dikompromikan agar tetap relevan dan menjual.
Seperti dikatakan oleh oleh Gayatri Chakravorty Spivak (2018) dalam konsepnya tentang subaltern. Menurutnya, tidak semua suara bisa didengar dalam sistem yang tidak adil.
Dalam konteks dakwah digital, mereka yang tidak memiliki tim produksi profesional, akses teknologi, atau penampilan “menarik” akan tenggelam dalam banjir konten.
Ulama perempuan, tokoh dari komunitas minoritas, atau aktivis dengan narasi keagamaan kritis seringkali tidak mendapat ruang.
Algoritma tidak dibangun untuk mendukung pluralitas suara, tapi untuk memaksimalkan engagement. Akibatnya, diskriminasi lama berpindah ke medium baru.
Meski penuh problematika, dakwah pop tak bisa diabaikan begitu saja.
Ia adalah cermin dari transformasi sosial dan budaya kita. Ia menunjukkan bahwa Islam, seperti agama lainnya, terus mencari bentuk baru dalam menghadapi zaman.
Pendekatan seperti ini juga bisa dilihat sebagai strategi survival: bagaimana agama tetap eksis di tengah perubahan.
Beberapa pendakwah bahkan memanfaatkan tren ini untuk menyampaikan pesan sosial—tentang kemanusiaan, solidaritas, hingga toleransi. Tentu saja dengan cara yang lebih bisa diterima oleh selera masyarakat digital.
Menuju Dakwah Kritis dan Bermakna
Ke depan, kita membutuhkan model dakwah yang tidak hanya “populer”, tapi juga kritis, reflektif, dan membebaskan.
Dakwah yang tidak hanya menyenangkan algoritma, tapi juga menyuarakan yang tertindas, merawat kejujuran intelektual, dan menjaga kedalaman spiritual.
Para dai, akademisi, dan umat perlu bekerja sama membangun ekosistem dakwah digital yang inklusif dan bermakna.
Kita butuh platform yang bisa mengangkat suara-suara minoritas, memperkuat literasi digital keagamaan, serta mendorong dialog antar pandangan.
Dakwah pop mengajarkan kita satu hal penting: kuasa hari ini bersifat cair dan tersebar. Ia tak lagi milik satu lembaga, tapi dikelola oleh algoritma dan kebiasaan digital kita.
Sebagai penonton, kita diajak untuk tidak pasif. Untuk selalu bertanya: di balik kemasan yang memukau dan angka views yang fantastis, apakah esensi pesan agama masih hidup?
Apakah dakwah yang kita tonton membebaskan, menyatukan, dan menyuarakan keadilan?
Digitalisasi agama adalah keniscayaan. Tapi masa depannya tergantung pada bagaimana kita memperlakukan ruang digital—apakah sebagai tempat dagang atensi, atau ruang zikir yang sungguh-sungguh.[]
Editor: Kowim Sabilillah
