Sudut Pandang

7 Rukun Menjadi Seorang Mukmin: Meninjau Ulang Pemikiran Syahrur (2)

7 Rukun Menjadi Seorang Mukmin: Meninjau Ulang Pemikiran Syahrur (2)

Mayoritas umat Islam sudah mempercayai secara sepenuhnya bahwa ada enam hal yang harus diimani oleh setiap umat Islam. Keenam hal tersebut ialah: (1) iman kepada Allah; (2) iman kepada malaikat; (3) iman kepada kitab-kitab-Nya; (4) iman kepada para utusan-Nya; (5) iman kepada hari akhir; dan (6) iman kepada qada, dan qadar.

Keenam rukun ini didasarkan kepada sebuah hadis jibril yang cukup masyhur hingga Imam Nawawi (w. 1278 M) meletakkan hadis ini pada nomor urut dua dalam magnum opus-nya, Al-Arba’un al-Al-Nawawiyyah.  Teks asli hadis ini diriwayatkan Muslim (w. 875 M) lewat jalur Umar bin Khattab (w. 644 M). Berasal dari hadis ini yang cukup panjang, izinkan saya untuk mengutip yang diperlukan:

“Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Saw. tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha nabi, … Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab, ”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikat-Nya; kitab-kitab-Nya; para Rasul-Nya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.” Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Saw. menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu”  (HR. Muslim).

Sebenarnya, jika kata kunci ma al-iman [apakah iman itu] dijadikan kata pencarian dalam Maktabah Syamilah kita akan menemukan beberapa hadis yang memberikan penjelasan atas iman.

Hadis tentang sebuah utusan yang mendapat pertanyaan dari Nabi Muhammad, “Apakah kalian tahu apa itu iman?” “Hanya Allah dan rasul-Nya yang mengetahui,” jawab mereka. Rasulullah menjawab, “Persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, dan memberikan seperlima dari rampasan perang” (Al-Bukhari: 53, Muslim: 125).

Penjelasan tentang iman yang berbeda substansi dengan hadis Jibril di atas, bahwa Iman adalah beriman kepada (1) Allah, (2) malaikat-Nya, (3) kitab-Nya, (4) perjumpaan dengan-Nya, (5) para rasul-Nya, dan (6) hari akhir. (Muslim: 106, al-Bukhari: 50)

Keterangan lain dapat dijumpai dalam hadis riwayat Hakim (w. 1014 M) yang mengatakan bahwa Rasulullah ketika ditanya seorang pemuda, “Apa iman itu?” Rasulullah mengatakan, “Jika kebaikan membuatmu bahagia, dan keburukan membuatmu tersiksa maka kamu adalah mukmin. (Hakim: 33). Hadis lain diriwayatkan dari Imam Ahmad (w. 855 M) dari jalur seorang sahabat yang bernama ‘Amr b. ‘Abasah (w. 728 M) dia menanyakan kepada Rasulullah Saw., tentang iman, Rasulullah menjawab singkat, “Kesabaran dan toleransi” (Ahmad: 19963).

Menarik untuk dijadikan pertanyaan, mengapa Nabi Muhammad Saw., menjelaskan pengertian iman dengan berbeda-beda, dan mengapa para ulama hanya memilih hadis Jibril sebagai dasar pondasi rukun iman? Mengingat, hadis di atas masih seputar ma al-iman? Belum lagi hadis lain yang menjelaskan tentang iman yang lainnya.

Misalnya hadis iman memiliki 70 cabang yang paling utama ialah ucapan la Ilaha illa Allah, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan duri dari jalan (Muslim: 162). Hadis tidak beriman seseorang hingga dia mencintai milik saudaranya sebagaimana mencintai miliknya sendiri (tepa salira) (al-Bukhari: 13). Hadis seseorang tidak akan beriman kecuali setelah mencintai Nabi melebihi cintanya kepada orang tua dan anak (al-Bukhari: 14). Hadis tanda-tanda iman adalah mencintai anshar (al-Bukhari: 17).  Hadis malu sebagian dari iman (Muslim: 163). Dan lain sebagainya.

Syahrur dalam bukunya, Al-Islam wa al-Iman memberikan penegasan yang menurut saya cukup berani mendobrak kemapanan. Saya kutipkan satu paragraf utuhnya:

Dalam buku yang telah lampau telah saya tegaskan bahwa setiap turats insani (yang dibuat oleh manusia) akan tunduk kepada kerusakan, dan kesia-siaan, mengandung unsur kesalahan, kealpaan, dan kekurangan, tidak akan steril dari pengaruh situasi politik, sosial, dan kebudayaan. Tanzil Hakim bukanlah sebuah turats (yang dibuat oleh manusia), dan (oleh karena itu) dia tidak tunduk kepada sesuatu yang berlaku pada turats pada umumnya. Ia akan tetap tegak pada aturan masa, dengan membawa sesuatu yang dapat menumbuhkan kesalehan pada setiap zaman, dan setiap tempat.

Jelas bahwa, posisi Syahrur dalam hal ini menolak menggunakan hadis sebagai dasar berdirinya konsep iman yang jamak dipegang oleh setiap muslim. Dari sini, Syahrur membangun ulang konsep iman dari Al-Tanzil. Tidak mengherankan apabila penjelasannya tentang iman berangkat dengan menyebut beberapa ayat terlebih dahulu yang terdiri dari perintah kepada orang-orang yang beriman dimulai dengan sapaan khas: ya ayyuha allazina amanu.

Bagi Syahrur, menjadi mukmin bukanlah dengan beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal shaleh. Ketiga sikap itu sudah masuk dalam rukun untuk menjadi seorang Muslim. Artinya menjadi Muslim lebih luas dari pada menjadi mukmin. Orang yang berislam misalnya tidak selalu mukmin, akan tetapi sebaliknya orang yang mukmin pastilah seorang Muslim. Hal ini dikuatkan beberapa ayat yang menyapa orang-orang yang beriman untuk beriman (al-Nisa’: 136).

Selanjutnya ayat tentang komentar atas perbuatan seorang badui yang mengatakan, “Kami telah beriman.” Namun, Allah memberikan penegasan dengan berfirman, “Katakanlah, ‘Kalian berlum beriman,’ tetapi katakanlah, ‘Kami telah berislam’” (Al-Hujurat: 14).

Hal ini menjadi sebuah tanda bahwa Islam lebih luas cakupannya dari iman. Maka, setelah seseorang berislam dengan tiga rukunnya, untuk menjadi mukmin yang harus dia lakukan ialah:

Pertama, mengimani Nabi Muhammad dan apa yang diturunkan kepadanya (Muhammad: 2). Kedua, mendirikan salat (al-Nisa’: 103). Ketiga, menunaikan zakat (Al-Mukminun: 1, 4). Keempat, puasa pada bulan Ramadan (al-Baqarah: 183). Kelima, berhaji ke baitullah (Ali Imran: 97). Keenam, syura (al-Syura: 38). Ketujuh, perang memperjuangkan kemerdekaan, dan menghilangkan kezaliman serta tidak memaksakan agama (al-Baqarah: 216).

Ketujuh perintah tersebut mempunyai khitab (yang diajak bicara) dalam ayat-ayat di atas adalah orang-orang yang beriman yaitu pengikut Nabi Muhammad. Itulah mengapa Umar b. Khattab sebagai khalifah sekaligus pengikut Nabi Muhammad disebut dengan Amir al-Mu’minin (pemimpin orang-orang yang beriman) bukan Amir al-Muslimin. Bahkan para istri Nabi pun mendapatkan gelar Ummahat al-Mu’minin.

Jika demikian peletakannya, maka terjawab sudah apa yang dimaksud dengan firman Allah Inna al-Dina ‘inda Allah al-Islam (sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam). Benar saja, Islam adalah agama untuk seluruh umat manusia di muka bumi karenanya ia disebut dengan al-din al-islami bukan al-din al-imani. []

Share this post

Ahmad Natsir
About the author

Kolomnis dan Dosen di UIN Satu Tulungagung